Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum Dewan Da’wah
Dewandakwahjatim.com, Depok - Ibadah Ramadhan sebenarnya merupakan pendidikan yang hebat. Khususnya dalam membangun pribadi manusia seutuhnya. Dan itu dimulai dari pola pikir yang sehat; pola pikir yang komprehensif. Yakni, pola pikir yang memadukan tiga jenis ilmu: ilmu empiris, ilmu rasional, dan ilmu wahyu.
Jika seorang muslim melaksanakan ibadah Ramadhan dengan memadukan ketiga jenis ilmu itu, maka insyaAllah, ia akan meraih ketaqwaan. Secara empiris, bulan Ramadhan sejatinya tidak beda dengan bulan-bulan lainnya. Secara empiris dan rasional, seorang muslim bisa memahami hal itu.
Yang membedakannya adalah cara pandang seorang muslim terhadap bulan Ramadhan. Karena adanya penjelasan wahyu – al-Quran dan as-Sunnah – terhadap bulan Ramadhan, maka cara pandang dan perilaku kaum muslim berubah. Mereka memahami bulan Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, bulan yang penuh berkah; bulan dimana ampunan Allah dibuka seluas-luasnya; bulan dimana amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.
Cara pandang seorang seorang muslim seperti itu adalah hal yang ilmiah, karena berdasarkan ilmu yang hakiki. Sebab, wahyu merupakan salah satu sumber ilmu (asbabul ilmi). Ini sangat ilmiah. Ini bukan takhayul atau khurafat. Berdasarkan berita yang benar (khabar shadiq) itulah maka bulan Ramadhan dipahami oleh kaum Muslim sebagai bulan yang mulia.
Pola pikir seperti itu adalah pola pikir yang sehat, karena menolak sekularisme dan materialisme. Pola pikir semacam ini sepatutnya diterapkan juga ketika kaum muslim meyakini, bahwa “ketaqwaan” merupakan indikator terpenting dalam menentukan ketinggian derajat seorang manusia, atau institusi mana saja patut dikatakan terbaik, jika menjadikan indikator ketaqwaan sebagai indikator utama penilai kesuksesan.
Contohnya, untuk menilai keberhasilan pembangunan secara nasional atau daerah, maka indikator yang terpenting adalah indikator keimanan dan ketaqwaan. Itu bisa dilakukan dengan survei pelaksanaan ibadah atau kemuliaan akhlak masyarakat. Misalnya, apakah dalam 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo, jumlah orang muslim yang shalat lima waktu meningkat atau tidak; apakah yang melaksanakan shalat tahajjud naik jumlahnya atau tidak; apakah angka buta huruf al-Quran menurun atau tidak selama 100 hari itu.
Jika hal itu belum dilakukan, alangkah baiknya jika kita sampaikan kepada Presiden atau kepala daerah, agar beliau-beliau yang terhormat itu berkenan menjadikan ketaqwaan sebagai indikator utama pencapaian kesuksesan atau keberhasilan pembangunan. (Lihat QS al-A’raf: 96).
Indikator ketaqwaan ini penting dilakukan, karena umat Islam Indonesia dikenal sebagai salah satu bangsa yang paling religius. Akan tetapi, masih banyak umat Islam Indonesia yang belum melaksanakan shalat lima waktu.
Hasil survei Indonesia Moslem Report pada 2019 menunjukkan bahwa hanya 38,9% umat muslim yang menunaikan salat. Berikut ini data survei Indonesia Moslem Report 2019 yang diterbitkan oleh Avara Research, melansir akun X pegiat sosial sekaligus Founder and CEO of AMI Group and AMI Foundation, Azzam Mujahid Izzulhaq, Kamis (9/5/2019).
Berikut ini beberapa indikator survei lainnya:
- Umat Islam di Indonesia yang sudah menunaikan salat 5 waktu dan selalu dilaksanakan secara berjamaah baru mencapai 2% saja.
- Umat Islam di Indonesia yang sudah menunaikan salat 5 waktu dan sering berjamaah baru mencapai 7,7% saja.
- Umat Islam di Indonesia yang sudah menunaikan salat 5 waktu dan kadang-kadang berjamaah mencapai 29,2%.
- Umat Islam di Indonesia yang sering salat 5 waktu mencapai 33,8%.
- Umat Islam di Indonesia yang kadang-kadang salat 5 waktu mencapai 26,8%.
- Umat Islam di Indonesia yang tidak pernah salat 5 waktu mencapai 0,4%.
(https://jatimtimes.com/baca/311729/20240509/072000/survei-hanya-38-9-umat-muslim-di-indonesia-yang-tunaikan-salat).
Kita patut bersyukur, bahwa pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo banyak mengangkat tokoh dan aktivis muslim sebagai anggota Kabinet Merah Putih. Dukungan organisasi-organisasi dan partai-partai Islam terhadap Presiden Prabowo juga sangat kuat. Oleh karena itu, kita berharap, konsep-konsep pembangunan dan pendidikan di Indonesia sepatutnya mengarahkan Indonesia menjadi negara yang adil dan makmur dalam naungan ridha Allah SWT.
Dan itu semua bisa terwujud jika pola pikir para pejabat negara khususnya menjadikan pola pikir Ramadhan sebagai model berpikir ideal. Yakni, pola pikir yang kritis-komprehensif, yang tidak terjebak dalam paham sekularisme-materialisme. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 4 Maret 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
