Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id) – Ketua Umun DDII
Dewandakwahjatim.com, Depok - Pada 7 Februari 2025, Pesantren At-Taqwa Depok kedatangan tamu penting, yaitu
Prof. Madya Dr. Khalif Muammar A. Harris. Beliau adalah salah satu cendekiawan muslim terkemuka Malaysia. Kedatangannya kali ini membawa misi khusus, yaitu mensosialisasikan terjemah buku Historical Fact and Fiction karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas ke dalam bahasa Melayu.
Terjemahan buku ini dilakukan oleh Dr. Khalif atas izin Prof. Al-Attas, guru beliau. Judul terjemahannya: “Sejarah Islam di Alam Melayu: Antara Fakta dan Rekaan” Sebelumnya, Dr. Khalif Muammar juga telah diijinkan oleh Prof. al-Attas untuk menerjemahkan buku Islam and Secularism ke dalam bahasa Melayu.
Buku Historical Fact and Fiction diakui oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud sebagai salah satu karya besar dari Prof. Naquib al-Attas. “Buku terbaru SMN al-Attas, Historical Fact and Fiction (HFF), meneguhkan kembali kepeloporan dan kependekaran beliau dalam masalah sejarah, khususnya sejarah di alam Melayu, yang dipeganginya selama lebih 40 tahun secara penuh istiqamah,” tulis Prof. Wan Mohd Nor (Republika, 20 Oktober 2011).
Melalui buku terbarunya, Prof. Naquib al-Attas kembali menegaskan bahwa jati diri bangsa Melayu-Indonesia sejatinya adalah Muslim. Mereka adalah bangsa Muslim. Identitas dan jati diri Melayu-Islam itu seharusnya dimanfaatkan oleh bangsa Melayu-Indonesia untuk membangun negeri mereka secara sungguh-sungguh sehingga mampu tampil sebagai salah satu peradaban yang unggul di muka bumi.
Berpuluh tahun Prof. al-Attas mengingatkan kita semua agar memahami rekayasa para orientalis yang mencoba mengecilkan peran Islam dalam penyatuan Nusantara. Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan: “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung: Mizan, 1990)
Jika nilai-nilai Islam disingkirkan, dan “nilai-nilai di luar Islam” ditempatkan sebagai jati diri dan simbol-simbol kebangsaan Indonesia, maka Muslim Indonesia didorong untuk tidak memiliki perasaan memiliki terhadap negeri ini. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Lebih jauh lagi, kaum Muslim tidak akan menjadikan Islam sebagai landasan untuk membangun bangsanya.
Melalui buku ini dan banyak karyanya yang lain, Prof. al-Attas menempatkan Islam sebagai faktor penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Kedatangan Islam-lah yang telah memberikan makna yang sangat tinggi bagi Melayu di wilayah Nusantara ini.
Prof. al-Attas juga membuktikan, bahwa penyatuan Nusantara terjadi karena pengaruh dua faktor utama, yaitu Islam dan bahasa Melayu. Bahasa inilah yang disusun oleh para ulama menjadi bahasa persatuan; menjadi bahasa ilmu dan perdagangan, sehingga menyatukan berbagai suku bangsa ke dalam satu bahasa dan peradaban Melayu-Islam.
Selama ini anak-anak Indonesia sangat akrab dengan satu “dogma” pelajaran sejarah, bahwa yang berjasa besar dalam penyatuan Nusantara adalah Kerajaan Majapahit. Tokoh Kristen di Indonesia, TB Simatupang, pernah menulis bahwa Indonesia tidak pernah mengalami sebuah kerajaan Islam yang mencakup seluruh Indonesia, seperti di zaman Mogul di India.
Menurutnya, Kerajaan Sriwijaya yang Budha dan Majapahit yang Hindu, pernah mempersatukan sebagian besar wilayah Nusantara. “Tetapi tidak pernah ada jaman Islam dalam arti kerajaan yang mencakup seluruh negeri,” tulis TB Simatupang. Begitulah, lanjutnya, dalam arti tertentu, yang menggantikan Majapahit adalah pemerintahan kolonial Belanda dan yang menggantikan yang terakhir tersebut adalah pemerintahan Republik Indonesia. (Lihat, T.B. Simatupang, Iman Kristen dan Pancasila, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997).
Doktrin tentang “penyatuan Nusantara” oleh Kerajaan Budha dan Hindu seperti itulah yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah, bahkan kadangkala juga di berbagai pondok pesantren, melalui pengajaran Sejarah. Misalnya, sebuah buku Sejarah untuk SMA Kelas X, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), yang menulis: “Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya. Selama hidupnya, Patih Gajah Mada menjalankan politik persatuan Nusantara. Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M.” (hal. 48).
Prof. al-Attas berpendapat bahwa memahami sejarah Islam dengan benar, termasuk sejarah masuk dan berkembangnya Islam di alam Melayu-Indonesia ini merupakan ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Pendapat beliau itu sangat masuk akal. Begitu pentingnya sejarah, sehingga para orientalis-misionaris telah berupaya melemahkan umat Islam dan bangsa Indonesia, dengan cara pembelajaran yang salah.
Dengan memahami sejarah Islam di alam Melayu-Indonesia yang sebenarnya, insyaAllah anak-anak akan menyadari kedudukan dan kewajiban mereka sebagai pelanjut perjuangan Rasulullah saw dan para ulama pelanjut perjuangan beliau saw. Semoga kita termasuk dalam barisan para pejuang kebenaran. Amin. (Depok, 25 Februari 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
