Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum Dewan Dakwah
Dewandakwahjatim.com, Depok – Di dalam kitabnya, al-‘Ilmu, Syaikh Amin al-Hajj dari Sudan, menekankan pentingnya keikhlasan niat dalam mencari ilmu, baik bagi murid maupun guru. Sebab, ikhlas adalah asas setiap perbuatan, dan Allah tidak menerima amal yang mengandung unsur syirik. (QS al-Bayyinah:5).
Beberapa hadits Rasulullah saw mengingatkan, bahwa siapa yang mencari ilmu untuk mencari kehebatan di kalangan ulama dan mencari pujian di kalangan manusia, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka. Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang mencari ilmu yang sepatutnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, lalu ia mencarinya hanya untuk kepentingan dunia semata, maka ia tidak akan mencium bau sorga di Hari Kiamat.” (HR Abu Dawud).
Juga disebutkan sebuah sabda Nabi saw, bahwa di Hari Kiamat nanti, manusia pertama yang akan merasakan api neraka adalah orang berilmu yang membaca al-Quran tetapi salah niat. Ia membaca al-Quran agar dikatakan sebagai “qari’” (ahli baca al-Quran), dan orang yang mencari ilmu untuk mencari pujian manusia, agar ia dianggap sebagai orang ‘alim.
Dampak langsung dari keikhlasan dalam masalah ilmu adalah pada sikap seorang yang berilmu. Syaikh Amin menekankan perlunya belajar adab sebelum belajar ilmu. Seorang ulama, al-Laits Ibn Sa’ad memberi nasehat kepada para ahli hadits: “Ta’allamul hilm qablal ‘ilmi!” Belajarkah sikap penyayang sebelum belajar ilmu!
Para ulama terdahulu lebih banyak belajar adab kepada guru dibandingkan dengan belajar ilmu mereka. Ibnu Wahab mengatakan: “Apa yang aku pelajari dari Imam Malik adalah lebih utama daripada ilmu beliau.” Sejumlah sifat yang harus dimiliki oleh orang berilmu diantaranya: tawadhu’, takut kepada Allah, menjauhi sifat hasad (dengki), zuhud, dan sebagainya.
Syaikh Amin tampak sangat serius dalam masalah pentingnya kesungguhan dalam penguasaan ilmu dalam aktivitas dakwah dan kebangkitan umat Islam. Disamping dua kitab terdahulu, sejumlah kitab telah ditulis terkait dengan tema tersebut, seperti: Lā nahdhiyyah lil-ummah ill bi-nahdhiyyatin ‘ilmiyyah rāsyidah (Kairo: Dar el-Shafwah, 2013), al-Sabīl al-Shahīh ilā Thalabil ‘Ilmi al-Syar’iy (Kairo: Dar el-Shafwa, 2008), Ulamāu al-Sū’, ‘Ulamāu al-Dunyā (Kairo: Dar el-Shafwa, 2009), dan sebagainya.
Dalam Kitab Ulamāu al-Sū’, ‘Ulamāu al-Dunyā, Syaikh Amin memaparkan ciri-ciri ulama al-su’ (ulama jahat), diantaranya: Menyembunyikan ilmu, cinta dunia, dan mengikuti hawa nafsu. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apayang diturunkan Allah berupa al-Kitab dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidaklah makan sesuatu kecuali api neraka, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka di Hari Kiamat dan Allah tidak mensucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS al-Baqarah: 174).
Cinta dunia dan bergantung padanya adalah pangkal segala kerusakan (hubbud-dunyā wal-ta’alluqu bihā ra’su kulli khathīatin). Itu bukan berarti ulama tidak boleh menikmati dunia, sebatas yang dihalalkan oleh Allah SWT. Karena itu, sifat-sifat buruk yang melekat pada ulama jahat bisa dikembalikan pada pangkal masalah, yakni kecintaannya pada dunia. Itulah pentingnya mencari ilmu dengan kejujuran dan keikhlasan.
Di Pesantren At-Taqwa Depok, keikhlasan dalam mencari ilmu sangat ditekankan, sejak calon santri akan memulai pembelajarannya. Di gerbang pesantren dipasang poster besar tentang peringatan keras Imam al-Ghazali terhadap para pelajar yang mencari ilmu tetapi salah niat. Jika niatnya hanya untuk mencari kekayaan dan kehebatan dirinya saja, maka pelajar itu sejatinya sudah merusak agama dan dirinya sendiri.
Falsafah pendidikan seperti ini mungkin dianggap aneh. Sebab, semua jurusan (program studi) di Perguruan Tinggi diijinkan pendirianya terutama untuk melatih mahasiswa agar bisa bekerja dan meraih keuntungan duniawi. Syekh al-Zarnuji membolehkan pelajar mencari ilmu untuk mencari dunia, tetapi pada saat yang sama, jabatan atau kekayaan itu harus diniatkan akan digunakan untuk aktivitas dakwah (amar makruf nahi munkar).
Jadi, tujuan mencari ilmu atau kuliah di Perguruan Tinggi tetap untuk mendapatkan ilmu-ilmu yang bermanfaat agar bisa menjadi orang baik. Yakni, menjadi orang yang berguna bagi sesama. Jika sejak awal kuliah sudah salah niat, maka jangan heran jika di kemudian hari, bermunculan pegawai-pegawai atau pejabat-pejabat yang jahat, yang tidak peduli terhadap penderitaan rakyat.
Semoga para dosen dan mahasiswa benar-benar memperhatikan masalah niat ini. Sebab, kata Rasulullah saw, nilai suatu amal tergantung kepada niatnya. Muslimah yang mengenakan jilbab karena untuk ibadah kepada Allah, berbeda nilainya dengan muslimah yang berjilbab karena tuntutan peran dalam sinetron. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 18 Februari 2025).
Admin; Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono
