Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII
Dewandakwahjatim.com, Depok – Tahun 2014, selama sekitar satu bulan saya tinggal di Sudan. Ketika itu saya banyak mendapatkan informasi dan pengalaman dari para mahasiswa Indonesia yang sedang bergiat mencari ilmu di salah satu negara Arab ini. Berbeda dengan kondisi beberapa negara, mencari ilmu di Sudan cukup berat tantangannya.
Kondisi alamnya cukup ekstrim – sangat panas dan sangat dingin di musim-musim tertentu. Kondisi keamanan Sudan dan beberapa negara di Timur Tegah sempat mengkhawatirkan.
Uniknya, meskipun negara miskin, banyak sekali mahasiswa yang datang ke Sudan ini mendapatkan beasiswa dari universitas-universitas di Sudan. Karena kuliah di universitas formal dirasakan kurang begitu efektif, sejumlah mahasiswa memanfaatkan kegiatan mengikuti halaqah-halaqah keilmuan di sejumlah masjid.
Saya sempat menghadiri majelis ilmu Syaikh Amin al-Hajj, seorang ulama terkenal di Sudan. Di sini, para mahasiswa menamatkan sejumlah kitab penting dalam khazanah keilmuan Islam. Dalam halaqah-halaqah ilmiah inilah mereka bisa meningkatkan ilmu dan akhlak mereka, karena mereka dapat langsung belajar dari sikap para masyayikh yang ringan tangan menyediakan kitab-kitab yang dikaji.
Bukan hanya itu, sebagian masyayikh juga menyiapkan kendaraan jemput-antar bagi para pencari ilmu. Seorang murid Syaikh Amin bercerita, bahwa dalam beberapa kali halaqah, Syaikh Amin tidak kuasa menahan tangis, dan langsung pulang ke rumah, ketika membahas kasus-kasus pelecehan kepada Ibu Aisyah r.a. yang dilakukan orang-orang Syiah.
Begitu pula, dalam berbagai kitabnya, Syaikh Amin banyak mencontohkan para sahabat Nabi dan para ulama yang sangat tinggi akhlaknya. Majlis-majlis ilmu seperti inilah yang perlu dikembangkan; majlis ilmu yang menekankan ketinggian ilmu dan akhlak mulia.
Cara belajar mahasiswa kita seperti itu merupakan cara belajar yang tepat, sebagaimana dilakukan oleh para ulama terdahulu. Mereka belajar ilmu dan adab kepada para guru yang baik. Bahkan, adab para guru itu lebih diutamakan untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih guru panutan.
Dalam berbagai acara dialog dengan mahasiswa Indonesia, saya merasakan tingginya minat mereka untuk mendalami ilmu dan mengamalkan ilmunya setelah pulang ke Indonesia. Semoga, ke depannya, pemerintah Indonesia akan meningkatkan perhatian dalam masalah pendidikan keislaman dan ketrampilan para mahasiswa kita di negara-negara Timur Tengah. Juga, memberikan bantuan untuk meringankan beban para mahasiswa, agar mereka lebih mudah dan nyaman dalam mencari ilmu.
Selama di Sudan itu, saya sempat memberikan pelatihan menulis kepada para mahasiswa kita. Menulis menjadi salah satu ketrampilan yang sangat penting dan mendesak untuk dikuasai. Sebab, dengan menulis, para mahasiswa akan terbiasa merangkai gagasannya. Menulis pun menjadi jalan untuk semakin mendalami ilmu dan memikirkan penerapannya dalam kehidupan.
Kepada seorang pejabat di Kementerian Agama pernah saya usulkan agar para mahasiswa kita yang dikirim ke Timur Tengah dibekali dengan ketrampilan menulis. Sayang sekali jika mereka berangkat tanpa memiliki ketrampilan menulis. Banyak sekali ilmu yang bisa ditulis dan disebarkan kepada masyarakat Indonesia.
Menulis itu bukan hal yang susah. Menulis adalah kebiasaan. Seperti halnya ketrampilan berenang atau memandu mobil. Semua itu perlu berlatih dan terus berlatih. Dalam berbagai kesempatan pelatihan menulis, saya jelaskan kiat-kiat menemukan gagasan atau topik tulisan yang menarik untuk dibaca.
Setelah itu, peserta pelatihan dilatih untuk bisa merangkai kata-kata dengan beradab. Artinya, ia bisa menempatkan kata-kata dengan tepat, sehingga tulisan menjadi mudah dipahami dan berdampak kuat pada diri pembaca.
Di era dominasi kecerdasan buatan, kita tak perlu khawatir bahwa manusia akan dikalahkan oleh robot. Kecerdasan buatan memang dapat merangkai kata-kata yang dapat dipahami oleh pembaca. Tapi, bagaimana pun, kecerdasan buatan manusia berbeda dengan kecerdasan buatan Tuhan. Manusia punya hati dan perasaan. Inilah yang tidak dimiliki oleh robot.
Meskipun kecerdasan buatan dapat menjadi alat bantu dalam merumuskan kata-kata, tetapi penilaian akhir tetap pada manusia. Justru di saat-saat seperti ini para mahasiswa kita perlu berlatih menulis dengan lebih giat lagi. Dengan itu, insyaAllah, ia akan terlatih dalam membangun gagasan-gagasan kreatif dan solutif. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 17 Februari 2025).
Admin: Kominfi DDII Jatim
Editor: Sudono
