PENDIDIKAN HAMKA DI WAKTU KECIL BISA JADI MODEL PENDIDIKAN NASIONAL

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok – Dalam bukunya, Pemikiran Hamka tentang Islam dan Budaya (Depok: YPI At-Taqwa, 2024), Nabil Abdurrahman menggambarkan proses pendidikan Hamka di masa anak-anak dengan baik. Proses pendidikan yang dijalani oleh Hamka itu bisa menjadi model pendidikan ideal bagi anak-anak.

Berikut ini paparan ringkas Nabil tentang pendidikan Hamka tersebut:
Semenjak kecil Hamka dididik langsung oleh seorang ulama tersohor yang juga ayahnya sendiri. Ilmu-ilmu agama klasik, keempat belas mata pelajaran yang dirumuskan oleh al-Sayuti dalam Itmam al-Dirayah-nya seluruhnya dipelajari Hamka di bawah bimbingan ayahnya.

Ketika usia 6 tahun, ia dibawa ayahnya ke Padang Panjang. Pada usia 7 tahun, ia kemudian dimasukkan ke Sekolah Desa yang sempat dienyam sekitar 3 tahun dan malamnya belajar mengaji dengan ayahnya sampai khatam. Selebihnya, ia belajar sendiri.

Kesukaannya di bidang bahasa membuatnya cepat sekali menguasai bahasa Arab. Dari sinilah ia mengenal dunia secara lebih luas, baik hasil pemikiran klasik Arab maupun Barat. Karya para pemikir Barat ia dapatkan dari hasil terjemahan ke bahasa Arab. Lewat bahasa pula Hamka kecil suka menulis dalam bentuk apa aja. Ada puisi, cerpen, novel, tasawuf, dan artikel-artikel tentang dakwah.

Pendidikan formal yang dilaluinya sangat sederhana. Mulai tahun 1916 sampai 1923, ia belajar agama pada lembaga pendidikan Diniyah School di Padang Panjang, serta Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan di Parabek.

Pada tahun 1916, ketika Zainuddin Labay El-Yunusia mendirikan sekolah Diniyah petang hari, di Pasar Usang Padang Panjang, Hamka dimasukkan oleh ayahnya ke sekolah ini. Pagi hari Hamka pergi kesekolah desa, sore hari belajar ke sekolah Diniyah dan pada malam hari berada di surau bersama teman-teman sebayanya. Pada tahun 1918, setelah Buya Hamka dikhitan di kampung halamannya Maninjau, dan diwaktu yang sama ayahnya Syekh Abdul Karim Amrullah, kembali dari perlawatan pertamanya ke tanah Jawa, Surau Jembatan Besi tempat Syekh Abdul Karim Amrullah memberikan pelajaran agama dengan sistem lama, diubah menjadi madrasah yang kemudian dikenal dengan Sumatera Thawalib. Lalu, ia memasukkan Hamka ke Sumatera Thawalib.

Sejak masa beranjak dewasanya, ia belajar silat dan randai. Tetapi yang disenanginya adalah mendengar kabar, kisah-kisah yang dinyanyikan bersama alat-alat musik tradisional Minangkabau.

Ia berjalan lebih jauh sampai ke Bukittinggi dan Payakumbuh, sempat bergaul dengan penyabung ayam dan joki pacuan kuda. Hampir setahun ia terlantar hingga saat ia berusia 14 tahun, ayahnya merasa resah dan mengantarnya pergi mengaji kepada ulama Syekh Ibrahim Musa di Parabek, sekitar 5 km dari Bukittinggi.

Di Parabek, untuk pertama kalinya Hamka hidup mandiri. Karena tertarik mendengar pidato adat, Hamka kecil sering menghadiri pelantikan-pelantikan penghulu, saat para tetua adat berkumpul, dia datang dan didengarnya dengan asyik kata-kata kebesaran adat tambo, keturunan, dan dongeng yang diceritakan pada perayaan tersebut.

Tidak puas dengan demikian, ketika orang-orang yang pandai berpidato itu berbicara, ia tulis setiap pidato adat tersebut dan berlatih secara mandiri.

Hamka akhirnya suka pada perpustakaan umum milik Zainuddin Labai El-Yunusia dan Bagindo Sinaro. Hamka menjadi asyik di perpustakaan membaca buku-buku cerita dan sejarah. Perpustakaan tersebut diberi nama dengan Zainaro. Itu memberikan bentuk kegairahan tersendiri bagi Buya Hamka.

Di masa kecil, Hamka menghadapi masalah. Ia merasa ada jarak yang lebar dengan sang ayah, terutama setelah kedua orang tuanya bercerai ketika usianya menginjak 12 tahun dan masing-masing kemudian menikah lagi.


Dari sekelumit kisah pendidikan Hamka di waktu kecil itu, kita bisa merumuskan satu konsep pendidikan ideal untuk anak-anak. Pertama, Hamka dididik langsung oleh guru yang hebat, yaitu ayahnya sendiri.

Kehebatan Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA) sebagai ulama yang juga tokoh pembaru pendidikan Islam tidak diragukan lagi.
Ayahnya adalah ulama pejuang.

Memang sempat ada “ketegangan hubungan” antara Hamka dengan ayahnya. Tetapi, Hamka terus dibimbing oleh guru-guru terbaik, seperti Ibrahim Parabek, Zaunuddin Labay, dan lain-lain. Di kemudian hari, Hamka juga kembali berguru kepada ayahnya.

Kedua, Hamka menjalani proses pendidikan berupa “sekolah kehidupan”. Hamka tidak menjalani kurikulum pendidikan yang memisahkannya dengan dinamika sosial. Ia tumbuh bersama dinamika masyarakatnya. Ia seperti anak-anak kampung lainnya yang tumbuh berkembang bersama masyarakatnya. Hamka tidak dididik sebagaimana layaknya pelatihan calon buruh yang dijauhkan dari dinamika masyarakat.

Sejak kecil, Hamka sudah dididik untuk memahami dan memikirkan kondisi masyarakatnya dan kedepannya ia terlatih untuk mencarikan solusi bagi problematika yang dihadapi masyarakatnya.

Jadi, sebenarnya, Hamka telah menjalani proses pendidikan ideal yang memadukan kebaikan tiga pihak, yaitu sang murid (Hamka), orang tuanya (HAKA), dan juga guru-gurunya (HAKA, Ibrahim Parabek, Zainuddin Labay, dll.).

Rumus pendidikan ideal inilah yang bisa diterapkan pada anak-anak kita, jika ingin pendidikan anak-anak kita sukses dunia-akhirat. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 20 November 2024).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: ARS & SS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *