Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Dalam disertasi doktornya yang berjudul “Konsep Pendidikan Guru Menurut KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara”, Dr. Syahrul mengungkap kiat sukses KH Ahmad Dahlan dalam menjalankan misi besarnya. Yakni, lahirkan guru-guru hebat yang akan melanjutkan perjuangannya.
Kiai Dahlan mempunyai misi besar dalam mendirikan Muhammadiyah. Yakni, membebaskan umat Islam dan bangsa Indonesia dari penjajahan. Bukan hanya penjajahan politik, ekonomi, dan militer, tetapi yang lebih mendasar dari itu semua adalah penjajahan pemikiran.
Presiden Soekarno menyadari arti penting dari perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah. Diantara dasar penetapan KH Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional (Keppres no. 657/1961) adalah bahwa: “KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.”
Jadi, patut kita camkan, bahwa KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah ada kaitannya dengan penyadaran umat Islam Indonesia, “sebagai bangsa terjajah”! Dan salah satu penjajahan oleh bangsa Barat – kolonialis Belanda – waktu itu adalah penjajahan melalui pendidikan. Karena itulah, KH Ahmad Dahlan melakukan perlawanan terhadap penjajahan melalui amal nyata, yaitu melalui pendidikan.
Gerakan Kiai Dahlan itu dimulai dengan mendidik murid-muridnya menjadi guru-guru yang hebat. Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali, tugas utama guru adalah menyempurnakan, membersihkan, dan menyucikan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tugas yang diembannya hampir sama dengan tugas seorang rasul.
K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah teladan sebagai guru dan teladan pula dalam pendidikan guru. Ia hidup pada zaman yang ditandai dengan kondisi sosial masyarakat yang terjajah dan terpuruk, di mana pendidikan kolonial berusaha melemahkan perjuangan bangsa Indonesia dengan sekulerisasi dan godaan materi.
Hasil penelitian Dr. Syahrul menunjukkan bahwa GURU menurut KH. Ahmad Dahlan adalah sosok yang memiliki peran sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, dan pendorong yang bertindak dengan ikhlas, berakhlak mulia, berpikiran progresif, serta menjadi teladan dalam mendidik siswa agar mereka memiliki akhlak yang baik, bertakwa, kemampuan berpikir kritis, percaya diri, ahli dalam ilmu agama serta berwawasan yang luas, dan semangat untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia.
Jadi, gerakan Kiai Dahlan adalah gerakan pembebasan manusia dari belenggu penjajahan kolonialisme yang ketika itu dilakukan dalam berbagai bentuknya. Gerakan pembebasan itu harus dimulai dengan penanaman nilai Tauhid agar manusia terbebas dari penjajahan hawa nafsu dan pemikiran-pemikiran yang melemahkan. Pembebasan manusia dimulai dari pembebasan jiwanya dari kecintaan kepada dunia dan hilangnya semangat pengorbanan.
Kiai Dahlan menjadikan dirinya sebagai model ideal seorang guru pejuang. Ia benar-benar menjadikan sosok Nabi Muhammad saw sebagai model utama dalam perjuangan. Dirinya, keluarganya dan sahabat-sahabat terdekatnya diupayakan menjadi model dan pelopor perjuangan. Mereka diajak untuk memahami dan menyadari arti penting hidup untuk berjuang membebaskan manusia dari kebodohan dan kekufuran.
Kesadaran sebagai bangsa terjajah itulah yag terus-menerus ditanamkan oleh Kiai Dahlan kepada masyarakat. Tanpa kesadaran sebagai bangsa terjajah, tidak akan ada kebangkitan untuk melakukan perlawanan. Apalagi, jika merasa nyaman dengan penjajahan karena mendapatkan kenyamanan hidup dari penjajah.
Jiwa perlawanan melawan penjajahan inilah yang mampu menggerakkan ribuan murid Kiai Dahlan dalam menjalankan misi perjuangan melalui jalan dakwah pendidikan dan dakwah. Disamping melakukan kaderisasi melalui lembaga-lembaga pendidikan, Kiai Dahlan juga aktif dalam gerakan amar ma’ruf nahi munkar.
Berkaca pada perjuangan Kiai Ahmad Dahlan, tidak mungkin program pembangunan kita akan sukses jika kita gagal dalam membebaskan pemikiran dan jiwa bangsa kita dari penjajahan pemikiran. Perjuangan harus dimulai dari penanaman nilai Tauhid dan pembersihan jiwa dari berbagai penyakit yang merusak, seperti cinta dunia, malas, sombong, dengki, lemah, egois, penakut, dan sebagainya.
Gerakan pembebasan itu harus dimulai dari program pendidikan yang mampu melahirkan guru-guru hebat yang – kata Mohammad Natsir – suka berkorban untuk keperluan bangsanya! Tanpa penanaman jiwa perjuangan dan pengorbanan, pendidikan kita akan melahirkan manusia-manusia yang serakah dunia, egois, dan materialis yang akan saling memangsa satu sama lainnya. Semoga hal itu tidak terjadi! (Depok, 27 Oktober 2024).
Admin: Kominfo DDII Jatim
