KITA PERLU SOLUSI YANG KOMPREHENSIF UNTUK INDONESIA

Artikel ke 1750
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Dewandakwahjatim.com, Depok - Meskipun tidak setajam pada tahun 2019, temperatur politik di Indonesia mulai menghangat. Tiga pasangan capres-cawapres berlomba-lomba menarik dukungan masyarakat. Berbagai tawaran program yang menarik masyarakat telah ditawarkan. Mulai gagasan-gagasan besar, sampai iming-iming makan siang gratis dan bantuan tunai langsung. 
Masing-masing pasangan capres-cawapres berusaha menggunakan strategi opini semenarik mungkin. Opini adalah realitas semu. Opini tidak menampilkan gambaran nyata tentang suatu objek. Biasanya citra seorang calon pemimpin dinilai dari aspek-aspek yang tidak substansial. Pencitraan lebih diutamakan. Bisa dikatakan kontestasi politik memang didominasi oleh peran pencitraan. 
Debat-debat antar calon pemimpin dilakukan dengan sangat singkat dan biasanya tidak menyentuh akar persoalan. Padahal, saat ini bangsa kita sedang menghadapi aneka persoalan yang sangat pelik. Kesenjangan ekonomi begitu tajam. Kemakmuran belum dinikmati oleh masyarakat secara adil. 
Itu baru menyangkut persoalan fisik. Belum meyangkut masalah jiwa manusia. Kondisi manusia Indonesia, menurut budayawan Mochtar Lubis, perlu mendapat perhatian serius. Sebab, katanya, karakter utama manusia Indonesia adalah MUNAFIK. Lain bicaranya, lain pula perbuatannya. 

Kata Rasulullah saw, tanda orang munafik itu ada tiga: (a) jika berkata ia bohong, (b) jika berjanji, ia ingkar (c) jika diberi amanah, ia khianat. Intinya, adalah masalah minimnya sifat kejujuran (ash-shidqu). Masih ada penyakit-penyakit jiwa lainnya yang merusak manusia, seperti sifat cinta dunia (hubbud-dunya), dengki (hasad), malas (kasl), lemah (‘ajz), sombong (kibr), penakut (jubn), dan sebagainya.
Semoga para capres-cawapres memiliki pemahaman yang utuh tentang manusia dan menyusun program yang jelas untuk membangun manusia Indonesia yang unggul. Selama penyakit jiwa itu tidak diberantas, maka tidak mungkin manusia Indonesia akan maju, secara hakiki.
“Maju” jangan hanya diukur jika duitnya bertambah, jabatannya naik, atau popularitasnya meluas. Kriteria kemajuan terpenting bagi seorang manusia adalah “kedekatannya kepada Allah!” Jadi, semakin mendekati TUJUAN yang pasti, maka itulah hakikat kemajuan.
Menyimak perdebatan para capres-cawapres, sejauh ini, kita belum mendapatkan gambaran yang utuh meyakinkan, tentang pencapaian tujuan pembangunan nasional. Yaitu, terlahirnya manusia-manusia yang hebat dan terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur dalam naungan ridha Allah SWT.
Tetapi, harapan itu selalu terbuka. Kita tidak boleh berputus asa. Indonesia sudah berpengalaman menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang berat. Harapan kita, setidaknya, presiden tahun 2024 mendatang dapat mencegah terjadinya kondisi yang lebih buruk dari kondisi sekarang.
Dengan jumlah Utang Luar Negeri yang sudah diatas Rp 8000 triliun dan birokrasi pemerintahan yang belum ideal, maka angka korupsi dan pemborosan anggaran sangat susah dicegah. Ini Pekerjaaan Rumah yang sangat berat bagi semua pemimpin pemerintahan di Indonesia.
Karena itulah, kita perlu bersikap serius dan hati-hati dalam memilih pemimpin negara ke depan. Jangan berharap melebihi kapasitasnya. Tetapi, juga jangan mengabaikan peluang untuk perbaikan dan mencegah kerusakan yang lebih besar. Mudahnya: sebaiknya jangan golput (tidak menggunakan hak pilih) pada pemilu 2024. Sekecil apa pun harapan itu ada.
Melalui bukunya, Hakadza Dhahra Jiilu Shalahuddin, Dr. Majid Irsan al-Kilani menyampaikan pesan penting kepada umat Islam. Bahwa, jika umat dalam kondisi terpuruk, jangan berharap pada turunnya pemimpin hebat yang akan mengatasi masalah umat yang sangat berat. Tapi, jalan kebangkitan umat Islam adalah dengan “melahirkan satu generasi gemilang” yang akan membawa perubahan mendasar, menyeluruh, dan penuh keberkahan.
Generasi gemilang itu harus disiapkan melalui proses pendidikan yang benar. Konsepnya harus benar; guru-gurunya harus benar dan bijak; murid-muridnya harus ikhlas dan sungguh-sungguh dalam berjuang. Ditambah lagi, peran orang tua yang benar dan optimal. Waktunya sekitar 20 tahun.
Kepemimpinan perjuangan perbaikan bangsa secara mendasar adalah tugas para ulama. Sebab, ulama adalah pewaris para Nabi, khususnya Nabi Muhammad saw. Sedangkan tugas Rasulullah saw adalah menyampaikan ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa, dan mengajarkan Al-Quran dan hikmah. (QS al-Jumuah: 2).
Para ulama itu berkewajiban menyampaikan konsep-konsep pendidikan dan pembanunan yang benar untuk dilaksanakan oleh pemerintah. Jadi, betapa pun kondisinya, kita pilih yang terbaik. Kriterianya adalah iman, taqwa, akhlak, dan kemampuan memimpin.
Siapa pun yang terpilih nanti. Para ulama dan para tokoh masyarakat serta kita semua berkewajiban mengawal dan terus memberikan nasehat-nasehat yang baik kepada para pemimpin. Tentunya, dengan cara-cara yang baik pula. Wallaahu A’lam bish-shawab. (Depok, 20 Desember 2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *