Oleh Masykur Sarmian, Alumni Ponpes Ar-Roudhotul llmiyah, Kertosono, Nganjuk, Jatim
Dewandakwahjatim.com, Samarinda —
“Kebenaran yang Terlambat Disadari : Ketika Penyesalan Tidak Lagi Mengubah Takdir”
*ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ*
“Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat dan mendustakan,” (QS. Al-Wāqi’ah : 51)
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menegaskan bahwa seluruh manusia dari generasi terdahulu hingga generasi terakhir akan dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan, ayat ini tiba-tiba mengubah nada. Allah berfirman, ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ, “Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat dan mendustakan.” Seakan-akan setelah seluruh sejarah manusia dikumpulkan, manusia akan dipisahkan berdasarkan sikapnya terhadap kebenaran.
Dua kata menjadi sangat penting : الضَّالُّونَ dan الْمُكَذِّبُونَ Adh-dhāllūn adalah orang-orang yang tersesat dari jalan yang benar, sedangkan al-mukadzdzibūn adalah mereka yang mendustakan kebenaran. Ini menunjukkan bahwa kehancuran akhirat bukan hanya berkaitan dengan kesalahan tindakan, tetapi juga dengan arah hidup dan sikap manusia terhadap kebenaran.
Manusia bisa tersesat karena tidak tahu jalan. Tetapi ada pula manusia yang telah datang kepadanya petunjuk, kemudian memilih mendustakannya. Di sinilah Al-Qur’an membedakan antara kelemahan manusia dan kesengajaan menolak kebenaran.
Dalam kehidupan modern, manusia memiliki akses informasi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Tetapi banyaknya informasi tidak otomatis menghasilkan kebenaran. Bahkan terkadang justru menghasilkan information overload, keadaan ketika seseorang menerima begitu banyak informasi sehingga kesulitan memilah mana yang benar-benar penting dan benar. Di tengah banjir informasi, manusia membutuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi petunjuk.
Psikologi modern juga mengenal istilah confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia mencari dan menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya, sementara informasi yang bertentangan cenderung ditolak atau diabaikan. Inilah salah satu mekanisme yang dapat membuat seseorang semakin jauh dari kebenaran. Ia tidak lagi bertanya, “Apa yang benar ?”, tetapi secara tidak sadar bertanya, “Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa apa yang sudah saya yakini benar ?”
Akibatnya, akal yang seharusnya menjadi alat pencari kebenaran berubah menjadi alat pembela ego.
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati secara jujur :
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan.”
(QS. Qāf : 37)
Ayat ini menunjukkan bahwa masalah manusia bukan selalu kekurangan bukti. Terkadang masalahnya adalah ketidakmauan untuk menerima apa yang sudah jelas.
Karena itu, kata الْمُكَذِّبُونَ sangat serius. Mendustakan berarti bukan sekadar belum memahami, tetapi menolak kebenaran setelah ia datang. Inilah yang membuat kesesatan menjadi semakin dalam.
Allah berfirman :
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Ḥajj : 46)
Seseorang dapat memiliki penglihatan yang sempurna tetapi gagal melihat kebenaran. Ia dapat memiliki pendidikan tinggi tetapi tidak mampu melihat makna hidup. Ia dapat menguasai teknologi tetapi kehilangan arah moral.
Inilah yang dalam perspektif psikologi dapat dikaitkan dengan motivated cognition : proses berpikir yang dipengaruhi oleh kebutuhan emosional, kepentingan, identitas, atau keinginan tertentu. Ketika ego sudah terikat pada sebuah kesimpulan, menerima kebenaran dapat terasa seperti kehilangan identitas.
Karena itu, menerima kebenaran membutuhkan intellectual humility, kerendahan hati intelektual : kesediaan mengakui bahwa pengetahuan kita terbatas dan bahwa kita mungkin salah.
Islam mengajarkan sikap ini bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai kekuatan. Seorang mukmin tidak takut mengatakan, “Saya belum tahu.” Ia tidak malu mengoreksi pendapat ketika menemukan dalil yang lebih kuat. Ia tidak mempertahankan kesalahan hanya karena kesalahan itu sudah lama menjadi bagian dari dirinya.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)
Perhatikan : Rasulullah Muhammad SAW tidak mendefinisikan kesombongan hanya dengan pakaian mahal, rumah besar, atau kendaraan mewah. Kesombongan yang paling dalam adalah بَطَرُ الْحَقِّ, menolak kebenaran.
Karena itu, seseorang bisa terlihat sederhana tetapi memiliki kesombongan intelektual. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki kekayaan tetapi tetap rendah hati di hadapan kebenaran.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman :
وَمَن يَضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada baginya pemberi petunjuk.”
(QS. Az-Zumar : 23)
Ayat ini harus dipahami bersama ayat-ayat tentang tanggung jawab manusia. Allah tidak menzalimi manusia, manusia diberi akal, fitrah, dan petunjuk. Ketika seseorang terus-menerus menolak kebenaran, kesesatan dapat menjadi konsekuensi dari pilihan yang dipertahankannya.
Allah juga berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabūt : 69)
Ini memberikan keseimbangan yang sangat penting: orang yang sungguh-sungguh mencari Allah akan mendapatkan bimbingan-Nya.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pelajaran Kehidupan
Jangan takut menemukan bahwa kita pernah salah. Yang berbahaya bukan kesalahan, tetapi kesombongan untuk mengakui kesalahan.
Kita perlu terus bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari pembenaran ?
Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi alat muhasabah yang sangat kuat. Ketika dalil datang dan ternyata berbeda dengan pendapat kita, jangan buru-buru menyerang dalilnya. Periksa kembali diri kita. Mungkin yang perlu diperbaiki bukan kebenaran, tetapi cara kita memahami kebenaran.
Renungan Peradaban
Peradaban akan sulit berkembang jika masyarakat kehilangan kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri. Ketika pemimpin tidak mau dikritik, ilmuwan tidak mau mengakui kesalahan, lembaga tidak mau melakukan evaluasi, dan masyarakat hanya ingin mendengar apa yang sesuai dengan keyakinannya, maka confirmation bias berubah menjadi penyakit kolektif.
Peradaban Qur’ani justru dibangun dengan budaya tadabbur, musyawarah, tabayyun, dan muhasabah. Kebenaran harus dicari, diuji, diterima, lalu dijadikan dasar perubahan.
Sebab kehancuran sering kali tidak dimulai ketika manusia tidak lagi mengetahui kebenaran. Kehancuran dimulai ketika manusia mengetahui, tetapi memilih mendustakannya.
Dan ayat ini seakan mengingatkan kita dari kejauhan : Jangan sekali-sekali menunggu sampai kebenaran menjadi nyata di hadapan mata ketika kesempatan untuk berubah sudah berakhir.
Wallāhu A’lam
Bersambung…
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
