Seperti Apa, Bahagia Cara Nabi Saw?

Resensi oleh M. Anwar Djaelani, penulis 16 buku

Judul : Prophetic Happines: Menemukan Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Ala Nabi ﷺ
Penulis : Muhammad Misbah
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar – Jakarta
Tahun terbit : 2026
Tebal : xvi + 315 halaman

Dewandakwahjayim.com, Surabaya – Buku ini sangat menarik. Temanya, tentang kebahagiaan, hal yang semua orang mengingininya. Kajiannya, didasarkan kepada hikmah sunnah Nabi Saw, disertakan pula perspektif psikologi modern.

Penulis menghadirkan buku ini karena gelisah, mengapa banyak yang berharap bahagia tapi makin sedikit yang merasa tenang. Mengapa di tengah berbagai kemajuan, jiwa manusia makin mudah rapuh dan lelah?

Tak sedikit di antara kita, dalam memaknai bahagia, hanya bersandar kepada telaah psikologi modern. Padahal, di situ ada keterbatasan, yaitu hanya bisa mengukur tingkat kepuasaan tapi tidak selalu mampu memberi arah nilai yang kokoh. Oleh karena itu, bahagia dalam psikologi sering subjektif dan relatif. Semua tergantung persepsi individu (h.11).

Psikologi modern mengakui, kebahagiaan bukan kondisi permanen. Dia fluktuatif yang dipengaruhi oleh relasi, pekerjaan, kesehatan dan kondisi mental. Sementara, berdasar sunnah, bahagia diberi batas agar tidak liar yang bahkan menjadi penyebab kerusakan jiwa (h.12-13).

Dari Mana?

Bab I, Memaknai Bahagia ala Nabi Saw. Dalam hal bahagia, Nabi Saw memberi batas. Pertama, bahagia tidak boleh lepas dari iman. Kedua, bahagia tidak boleh bertentangan dengan fitrah. Ketiga, bahagia selalu dipandang dalam rentang dunia dan akhirat.

Bagi Nabi Saw, bahagia itu bukan kondisi statis, melainkan sebagai keadaan batin yang tumbuh seiring perjalanan iman dan amal manusia. Bahagia bukan sesuatu yang “dimiliki”, tapi dijalani (h.13-16).

Dari mana Nabi Saw memulai bahagia? Berdasar HR Muslim, itu mulainya dari hal keamanan batin dan ketercukupan hidup: Di pagi hari aman, sehat, dan ada makanan untuk hari itu (h.20-21).

Agar Bahagia

Jiwa manusia, mengalami bahagia dalam banyak bentuk dan kedalaman. Pertama, ridha. Berdasar HR Tirmidzi, kita bahagia ketika jiwa tidak lagi bertentangan dengan takdir (h.26).

Kedua, surur. Berdasar HR Bukhari, kita bahagia sebagai buah dari kebaikan berupa menjalankan silaturrahim.

Ketiga, rahah. Bahagia ada pada ketenangan jiwa karena terbebas dari beban. Rahah adalah rasa lega, ketika jiwa menemukan tempat pulang. Di sini, kita ingat hadits, ”Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat” (HR Abu Dawud).

Keempat, sakinah. Bahagia adalah ketenangan yang diturunkan, bukan diusahakan. Sakinah, lapisan terdalam dari kebahagiaan ala Nabi Saw. Itu, bukan hasil latihan dan bukan akibat kondisi. Juga, bukan produk usaha jiwa. Itu, ketenangan yang Allah turunkan kepada segenap hamba-Nya dalam keadaan tertentu. Misalnya, berdasar HR Muslim, mereka yang berkumpul di masjid untuk membaca Kitabullah dan saling mengajarkan akan mendapat sakinah / ketenangan (h.26-29).

Indikator Bahagia

Bahagia itu buah dari amal. Bahagia bukan sesuatu yang merupakan target langsung. Apa tanda orang bahagia menurut Nabi Saw?
Pertama, hati tenang meski keadaan tak ideal. Kedua, tidak reaktif terhadap ujian dan perubahan Ketiga, dunia tidak menjadi beban dalam hidupnya. Keempat, merasa aman dalam hubungannya dengan Allah. Kelima, mampu menemukan ketenangan dalam ibadah. Keenam, hidup terasa bermakna meski tidak selalu mudah (h.35-49). Semua, keenam ukuran bahagia itu, disandarkan kepada hadits.

Sungguh, kebahagiaan tertinggi bukan ketika hidup bebas dari masalah tapi ketika hati merasa aman bersama Allah (h.43). Di titik inilah, terasa perbedaan antara dua sudut pandang. Bahagia duniawi bisa hadir tanpa iman tapi ia rapuh, terbatas waktu, dan berhenti di saat menemui kematian. Sementara, bahagia ala Nabi Saw tidak selalu riuh, tidak selalu mudah, tetapi punya kesinambungan makna. Terkait, Nabi Saw mengajarkan bahwa dunia bisa memberi senang tapi iman memberi rasa aman (h.50).

Kutipan Sejuk

Di antara kelebihan buku ini, banyak kutipan-kutipan yang ditampilkan secara spesial. Misalnya, di-bold dan di-box. Mari buka Bab III, Ketenangan yang Dicari Jiwa. Di bawah ini, beberapa contoh.

Dalam perspektif jiwa, seseorang yang hanya berdoa saat terdesak sebenarnya sedang hidup dalam relasi yang rapuh. Hubungannya dengan Allah bersifat reaktif, bukan intim (h.78). Jiwa tidak hanya membutuhkan solusi, tetapi membutuhkan kehadiran Allah sebelum solusi itu datang (h.80). Tawakkal bukan menggugurkan ikhtiar. Ia justru menempatkan ikhtiar pada porsinya yang tepat (h.93).

Bukalah Bab V, Ketika Tujuan Tidak Lagi Membahagiakan. Di sini, juga banyak kutipan elok.

Kepuasan sejati bukan ditentukan oleh apa yang dimiliki, tapi oleh bagaimana jiwa memandang apa yang dimiliki. Ini, diilhami oleh HR Muslim, bahwa: ”Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia, akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kekayaan jiwa” (h.136-137).

Berhati-hatilah dengan budaya kekinian, yang lebih cepat menyarankan target baru ketimbang mengajak merenung. Budaya itu, lebih cepat memotivasi daripada menemani dalam keheningan (h.144).

Agar terhindar dari hal di atas, milikilah tujuan hidup yang jelas. Dalam hidup, bermakna-lah bagi diri dan orang lain, yang dengan itu akan cenderung lebih tahan menghadapi stres. Lebih lanjut, akan lebih stabil secara emosi dan lebih mampu menerima ketidaksempurnaan hidup (h.146).

Teruslah belajar untuk merasa cukup dan tenang. Terkait, milikilah sikap qonaah yaitu kemampuan jiwa untuk berhenti merasa kurang meski tetap bergerak dan berikhtiar (h.147).

Qanaah melatih jiwa untuk berhenti membandingkan. Banyak ketidakpuasan lahir bukan dari kekurangan nyata, tetapi karena membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Jika begitu, rasa cukup akan terus menjauh (h.148).

Bukalah Bab VI, Relasi yang Menenangkan Jiwa. Bahwa, kebahagiaan cara Nabi Saw bukan yang bersifat individualistik. Di depan Nabi Saw, kebahagiaan itu bersifat relasional yaitu yang lahir ketika seseorang tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri (h.156).

Epilog Elok

Terus, bukalah Bab VIII, Saat Kenyataan Tak Sesuai Harapan. Bab IX, Kamu Tak Akan Hidup Tanpa Harapan. Bab X, Untuk Apa Aku Hidup? Bab XI, Allah sebagi Satu-satunya Sandaran Jiwa.

Sekarang, Epilog, Ketika Jiwa Menemukan Rumahnya. Ini, ada di halaman akhir buku ini. Isinya, inspiratif.
Bahwa, jika ingin bahagia, milikilah rumah jiwa yang itu tidak pernah jauh. Ia tidak berada di masa depan yang ideal. Ia tidak tergantung pada keadaan yang sempurna. Ia tidak menunggu versi diri yang tanpa cela (h.314).

Panduan Mantap

Alhasil, hidup bahagia bukanlah hidup tanpa masalah. Hidup bahagia itu adalah jika kita merasa tenang, ridha atas semua pemberian Allah. Untuk itu, teruslah berkarya dalam usaha meraih hidup yang bermakna. Untuk bahagia, teladanilah bagaimana Rasulullah Saw meraihnya, antara lain seperti yang ada di buku ini.
Kalimat-kalimat di buku ini efektif, inspiratif. Pesan-pesannya, tidak menggurui. Bahasanya indah, menyejukkan. Dengan demikian, buku ini bermanfaat dibaca semua kalangan – tua atau muda.
Insya Allah akan lebih bagus jika buku dengan cover menarik ini dilengkapi Daftar Pustaka. Dengan itu, antara lain, pembaca akan ”terbimbing” untuk bisa membaca secara lebih luas materi yang dibahas. Juga, akan lebih mantap andai buku dengan layout apik ini disempurnakan dengan adanya indeks. Selamat membaca! []

Admin: Biro Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *