Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto — Prestasi 15 santriwati PPIC eLKISI sebagai Juara Umum Olimpiade Nahwu Jurumiyyah Tingkat ASEAN 2026 menjadi salah satu penanda dari ikhtiar akademik yang terus dikembangkan Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto. Bukan sekadar mengejar prestasi kompetitif, penguatan Bahasa Arab, kajian turats, dan orientasi pendidikan tinggi menjadi bagian dari upaya menyiapkan santri agar memiliki pilihan akademik yang semakin luas.
Olimpiade yang diselenggarakan Departemen Pendidikan dan Kebahasaan ITHLA DPW 4 dan diikuti sekitar 250 peserta tersebut diikuti 15 santriwati PPIC eLKISI, yakni Anisa Jilan, Faizah Al Humaira, Khansa Alhuwaida, Naura Hafidza, Zhafarina Ghaisani, Yaqut Washifah, Janeeta Azzhara Yusuf, Ma’rifah Maulidina Zuhri, Maureen Ghisa Aisyah, Naura Aqillah Shafiyyunnisa, Rayya Alfita Adisurya, Aisyah Nadiyah Azzahra, Alifia Naaila Fauziyah, Nadia Ayu Rohadhatul Aisy, dan Nasya Nadhifa Armee Za Fiqih At Talita.
Enam peserta merupakan santri kelas XII, sementara sembilan lainnya berasal dari kelas XI. Capaian tersebut mengantarkan PPIC eLKISI meraih predikat Juara Umum. Piala juara umum kemudian diterima Ustadzah Alfin Nadhiroh, S.Hum., M.Pd., salah seorang pembina peserta PPIC eLKISI, dalam penyerahan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Ahad, 30 Agustus 2026.
Bagi PPIC eLKISI, capaian tersebut bukan sekadar persoalan piala. Nahwu dan Al-Jurumiyyah merupakan bagian dari fondasi akademik yang lebih panjang, terutama bagi santri yang dipersiapkan untuk memasuki literatur Arab dan khazanah keilmuan Islam. Kompetisi menjadi salah satu ruang untuk mengukur sejauh mana proses pembelajaran tersebut berkembang.
Membangun Banyak Jalan Akademik
Ikhtiar akademik tersebut merupakan bagian dari arah pengembangan PPIC eLKISI yang dicanangkan KH. Dr. Fathur Rohman, M.Pd.I., Direktur PPIC eLKISI. Orientasinya bukan menempatkan seluruh santri pada satu tujuan pendidikan tinggi, melainkan membangun beragam jalur agar santri dapat melanjutkan pendidikan sesuai potensi, minat, dan orientasi keilmuannya.
Salah satu jalur tersebut adalah Pesantren Azhari, yang dipimpin Ust. Shohib Muttaqin, Lc., M.Pd.I. Kelas Azhari merupakan kelas perwakilan resmi Al-Azhar Cairo, yang dipersiapkan sebagai jalur akademik bagi santri untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.
Tahun ini, program Azhari mencatat capaian 100 persen santri yang mengikuti tahapan kelulusan berhasil lolos untuk melanjutkan studi ke Al-Azhar Cairo. Sementara itu, melalui dua jalur keberangkatan, yakni Program Azhari dan Markaz Lughoh eLKISI, terdapat 127 santri yang tahun ini dipersiapkan melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar Cairo.
Menurut Ust. Shohib Muttaqin, pengembangan jalur Azhari merupakan bagian dari upaya menghadirkan kesinambungan antara pendidikan pesantren dengan pendidikan tinggi, khususnya bagi santri yang memiliki orientasi melanjutkan studi di pusat keilmuan Islam seperti Al-Azhar Cairo.
Di sisi lain, Pesantren Kader Ulama, yang dipimpin Ust. Muhammad Hidayatulloh, dikembangkan sebagai program khusus dan intensif untuk memperkuat kajian kitab-kitab turats. Jalur ini menjadi salah satu basis pembinaan santri yang dipersiapkan memiliki kedalaman dalam membaca dan memahami khazanah keislaman klasik.
Tidak Hanya Timur Tengah
Peta jalan akademik PPIC eLKISI juga tidak berhenti di Mesir. Lulusan eLKISI selama ini telah tersebar di berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Di Indonesia, alumni eLKISI antara lain melanjutkan studi di ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Unesa, UINSA, Universitas Gadjah Mada, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Sementara di luar negeri, alumni eLKISI telah melanjutkan pendidikan di sejumlah negara, antara lain Mesir, Libya, Maroko, Malaysia, dan China, dengan jumlah terbesar berada di Universitas Al-Azhar Cairo.
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak harus berujung pada satu model karier atau satu institusi pendidikan. Tradisi keilmuan pesantren justru dapat menjadi fondasi untuk memasuki berbagai ruang akademik.
Karena itu, PPIC eLKISI juga tengah mengembangkan peluang pendidikan tinggi di Arab Saudi, antara lain melalui proses Mu’adalah dengan Universitas Islam Madinah (UIM) serta penjajakan kerja sama dengan sejumlah universitas di Saudi Arabia. Dalam pengembangan jalur ini, santri Pesantren Kader Ulama dan santri kelas XII lainnya menjadi salah satu kelompok yang akan dinominasikan.
Menyiapkan Santri untuk Memilih Jalannya
Bagi wali santri yang menghendaki putra-putrinya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri di Indonesia, PPIC eLKISI juga menyiapkan strategi khusus melalui kolaborasi dengan Math Master Ki Ipud. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kesiapan akademik santri dalam menghadapi seleksi PTN.
Dengan demikian, orientasi akademik PPIC eLKISI bergerak pada satu prinsip: memberikan ruang seluas mungkin bagi santri untuk menentukan masa depan akademiknya.
Ada jalan menuju Al-Azhar Cairo. Ada jalan yang sedang dibuka menuju Universitas Islam Madinah dan perguruan tinggi di Arab Saudi. Ada pengalaman alumni yang telah menempuh pendidikan di Libya, Maroko, Malaysia, dan China. Dan ada pula jalur menuju PTN unggulan di dalam negeri.
Dalam perspektif Ust. Muhammad Hidayatulloh, penguatan Bahasa Arab dan turats bukan sekadar persiapan menghadapi perlombaan, melainkan investasi intelektual jangka panjang.
“Lomba adalah salah satu ruang untuk menguji kemampuan. Tetapi yang jauh lebih penting adalah membangun tradisi belajar. Juara boleh menjadi kebanggaan, tetapi tradisi ilmu harus menjadi kebiasaan.”
Sementara Ust. Shohib Muttaqin menempatkan keberagaman jalur akademik sebagai bagian dari kesinambungan pendidikan santri: fondasi yang dibangun di pesantren diharapkan dapat diteruskan di berbagai perguruan tinggi sesuai kemampuan dan cita-cita masing-masing.
Pada titik inilah Juara Umum Olimpiade Nahwu ASEAN 2026 memperoleh makna yang lebih luas. Prestasi 15 santriwati tersebut bukanlah titik akhir, melainkan salah satu indikator bahwa proses pembinaan akademik sedang berjalan.
Al-Jurumiyyah menjadi fondasi. Bahasa Arab menjadi jembatan. Turats menjadi akar. Dan perguruan tinggi menjadi ruang tumbuh.
Sebab tugas pesantren bukan menentukan satu jalan bagi semua santri, melainkan membekali mereka agar mampu menemukan jalan ilmu yang paling sesuai dengan potensi, cita-cita, dan pengabdiannya.
Admin: Biro Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
