Laporan Najib Sabiqul Khairat, Ketua Dewan Da’wah Blitar
Dewandakwahjatim.com, Blitar – Dakwah yang paling membekas bukan hanya yang terdengar di atas mimbar, tetapi juga yang hadir di tengah kehidupan masyarakat. Dakwah yang menyapa dengan senyuman, menguatkan dengan kepedulian, dan membina dengan kesabaran. Semangat itulah yang kita usahakan untuk terus dihidupkan di Kampung Merah Putih, Soso, Gandusari, Kab. Blitar.
Perjalanan ini diawali dengan langkah yang sederhana: menyapa masyarakat. Kita hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai saudara. Duduk bersama mereka, mendengarkan cerita kehidupan, merasakan kesulitan yang dihadapi, serta membangun kedekatan yang dilandasi kasih sayang. Dari sinilah tumbuh kepercayaan, karena dakwah sejatinya dimulai dari hati yang saling menerima.
Kedekatan itu kemudian diwujudkan melalui berbagai aksi sosial. Saat Idul Adha tiba, Kampung Merah Putih menjadi saksi kebahagiaan masyarakat yang dapat merasakan nikmatnya daging qurban. Lebih dari sekadar pembagian daging, qurban menjadi bukti bahwa ukhuwah dan kepedulian adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga merasakan bahwa mereka diperhatikan dan tidak berjalan sendiri.
Suasana kebersamaan semakin terasa pada bulan Ramadhan. Di tempat yang sama, para relawan dan masyarakat memasak bersama untuk menyiapkan hidangan berbuka puasa. Asap yang mengepul dari dapur dadakan, canda yang mengiringi proses memasak, hingga doa yang dipanjatkan menjelang azan Magrib menjadi gambaran indah tentang dakwah yang hidup dalam kebersamaan. Momen-momen seperti inilah yang sering kali lebih kuat menyentuh hati daripada seribu kata.
Kepedulian tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan memperoleh air bersih, dakwah menjawabnya dengan ikhtiar menghadirkan pipanisasi. Air yang mengalir ke rumah-rumah warga bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol bahwa Islam hadir membawa rahmat dan solusi bagi kehidupan.
Perhatian berikutnya diarahkan kepada rumah Allah. Bersama masyarakat, dilakukan upaya membantu menghidupkan musholla sebagai pusat ibadah dan kebersamaan. Kita Yang jauh lebih penting adalah memastikan musholla itu tetap hidup dengan lantunan ayat suci Al Qur’an, shalat berjamaah, masyarakat yang belajar mengaji, pembinaan masyatakat, serta hadirnya dai yang terus mendampingi.
Seluruh ikhtiar di Kampung Merah Putih menjadi gambaran nyata penerapan dakwah binaan wa difa’an. Dakwah binaan diwujudkan melalui pembinaan keislaman yang berkesinambungan, mendampingi masyarakat agar semakin memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Sementara dakwah difa’an diwujudkan melalui kepedulian sosial, hadir memberikan perlindungan, solusi, dan penguatan atas berbagai persoalan yang dihadapi umat.
Keduanya tidak dapat dipisahkan. Dakwah yang hanya mengajarkan tanpa peduli akan terasa jauh dari kehidupan. Sebaliknya, kepedulian sosial tanpa pembinaan ruhani tidak akan melahirkan perubahan yang berkelanjutan. Ketika keduanya berjalan beriringan, dakwah menjadi lebih utuh—menguatkan iman, mempererat persaudaraan, sekaligus menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Kampung Merah Putih mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari kepedulian yang tulus. Dari sebuah sapaan lahir kepercayaan. Dari kepercayaan tumbuh kebersamaan. Dari kebersamaan lahir pembinaan. Dan dari pembinaan yang terus dijaga, insya Allah akan tumbuh masyarakat yang mandiri, berdaya, serta istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.
Inilah wajah dakwah yang dicita-citakan: tidak hanya mengajak manusia menuju kebaikan, tetapi juga membersamai mereka dalam setiap langkah menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Sebab dakwah terbaik bukan sekadar menyampaikan, melainkan menghadirkan rahmat yang benar-benar dirasakan oleh umat.
Foto: Kampung Binaan Dewan Da’wah Blitar
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
