Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, KAIRO — Sejumlah mahasiswa Markaz Lughoh eLKISI Program Pembelajaran Bahasa Arab mendapat kesempatan mengikuti Summer Program yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Pendidikan Mahasiswa Internasional dan Asing Al-Azhar, Mesir.
Program yang mengangkat tema “Pengenalan Al-Azhar Asy-Syarif” tersebut berlangsung selama tiga hari. Para peserta diajak mengenal lebih dekat sejarah, tradisi keilmuan, manhaj, serta peran Al-Azhar dalam menjaga khazanah keislaman dan menyebarkan nilai-nilai wasathiyah ke berbagai penjuru dunia.
Keikutsertaan mahasiswa Markaz Lughoh eLKISI menjadi kesempatan penting bagi mereka untuk tidak hanya mengenal Al-Azhar melalui buku dan pembelajaran di kelas. Mereka dapat melihat langsung kehidupan akademik di lingkungan Al-Azhar, bertemu para ulama, serta merasakan atmosfer keilmuan yang telah tumbuh selama lebih dari seribu tahun.
Pada hari pertama, peserta mengikuti kuliah bersama Dr. Hasan Ibrahim Yahya, Sekretaris Jenderal Bidang Dakwah di Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Lembaga Riset Islam) Al-Azhar Asy-Syarif.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan perjalanan panjang Al-Azhar dalam menjaga dan mengembangkan khazanah keilmuan Islam. Al-Azhar juga memiliki peran penting dalam dakwah serta penyebaran prinsip moderasi Islam (wasathiyah) melalui para ulama dan alumninya yang tersebar di berbagai negara.
Bagi mahasiswa Markaz Lughoh eLKISI, pertemuan langsung dengan ulama Al-Azhar memberikan pengalaman tersendiri. Bahasa Arab yang selama ini mereka pelajari tidak lagi sebatas teori dan keterampilan komunikasi, tetapi menjadi pintu untuk memasuki khazanah ilmu Islam yang lebih luas.
Direktur Markaz Lughoh eLKISI, Agung Purwono, M.Pd., mengatakan program tersebut merupakan bagian penting dalam proses mempersiapkan para mahasiswa sebelum menempuh perjalanan keilmuan yang lebih jauh.
“Kami ingin para mahasiswa memahami bahwa bahasa Arab bukan tujuan akhir. Bahasa Arab adalah kunci untuk membuka pintu ilmu. Ketika mereka diberi kesempatan belajar langsung dari para ulama Al-Azhar, mereka harus memanfaatkannya bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk belajar adab, tradisi ilmu, dan tanggung jawab seorang penuntut ilmu,” ujarnya.
Menurut Agung, belajar di Al-Azhar tidak semestinya berhenti pada orientasi memperoleh gelar akademik. Di balik kesempatan menuntut ilmu terdapat amanah yang lebih besar, yakni mempersiapkan diri untuk kembali mengabdi kepada masyarakat dan umat.
“Kami berharap mereka datang sebagai penuntut ilmu dan kelak pulang membawa amanah ilmu. Sebab ilmu bukan sekadar untuk meninggikan seseorang, tetapi untuk membimbing, mencerahkan, dan memberi manfaat kepada umat,” katanya.
Menyiapkan Kader untuk Kembali kepada Umat
Markaz Lughoh eLKISI selama ini memberikan pembinaan bahasa Arab sebagai salah satu bekal bagi calon mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan, khususnya ke Al-Azhar. Namun, pembinaan tersebut tidak hanya diarahkan pada kemampuan berbahasa.
Penguasaan bahasa harus berjalan bersama kesiapan mental, adab, wawasan keislaman, dan kesadaran mengenai tanggung jawab setelah menyelesaikan pendidikan.
Sebab perjalanan seorang penuntut ilmu pada hakikatnya tidak selesai ketika ia mendapatkan ijazah. Ilmu yang diperoleh justru melahirkan tanggung jawab baru: mengajarkannya, mendakwahkannya, serta menghadirkannya sebagai jalan kemaslahatan bagi masyarakat.
Karena itu, kesempatan mengikuti Summer Program Al-Azhar diharapkan semakin menguatkan orientasi para mahasiswa. Mereka tidak hanya mengenal Mesir sebagai negeri tujuan studi, tetapi memahami Al-Azhar sebagai salah satu mata rantai panjang transmisi ilmu dan dakwah Islam.
Interaksi dengan para ulama juga diharapkan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu sekaligus kerendahan hati seorang pembelajar. Semakin luas ilmu yang diperoleh, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengamalkannya.
Bagi Markaz Lughoh eLKISI, inilah salah satu tujuan penting dari proses pendidikan: menyiapkan generasi yang belajar dengan sungguh-sungguh, tumbuh bersama adab dan ilmu, lalu kembali untuk berdakwah dan berkhidmat kepada umat.
Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju Al-Azhar bukan sekadar perjalanan menuju ruang kuliah di Kairo. Ia adalah perjalanan menjemput ilmu untuk kemudian membawanya pulang kepada umat.
Admin: Kominfo DDII Jatim
