Oleh Akbar Muzakki, Ketua ll Dewan Da’wah Jawa Timur
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Jumlah dai di Jawa Timur tidak kurang. Pesantrennya ribuan. Kiai dan ustaz tersebar hampir di setiap desa. Namun mengapa berbagai problem sosial justru semakin mengkhawatirkan?
Pertanyaan itulah yang dilontarkan KH Thoha Yusuf Zakaria, Lc., Mudir Pesantren Al-Islah Bondowoso, saat menerima silaturahmi rombongan Muhibah Du’at Syabab Dewan Da’wah Jawa Timur, Jumat (31/7/2026).
Bagi KH Thoha, persoalan dakwah hari ini bukan lagi soal kekurangan dai. Yang kurang adalah kualitas, sinergi, dan strategi.”Jawa Timur sebenarnya tidak kekurangan dai,” ujarnya membuka pembicaraan.
Ia bahkan sempat bergurau. Semula ia mengira yang datang adalah para dai muda. Ternyata yang hadir justru para pengurus. “Tidak apa-apa. Semoga di lain kesempatan saya bisa bertemu langsung dengan para du’at,” katanya sambil tersenyum.
Menurutnya, kekuatan terbesar Jawa Timur justru berada di jaringan pesantren.
Hampir setiap daerah memiliki pondok pesantren, ustaz, guru agama, dan kiai yang setiap hari mengajarkan akidah, ibadah, serta akhlak kepada masyarakat. Karena itu, yang diperlukan bukan memperbanyak dai di Jawa Timur, melainkan memperkuat kualitas mereka sekaligus mengirim kader-kader terbaik ke daerah yang benar-benar membutuhkan. Ia menyebut kawasan pedalaman Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara, Flores, hingga pelosok Sulawesi sebagai wilayah yang masih sangat memerlukan kehadiran dai.
“Kalau di Jawa Timur, kiai dan ustaz sudah sangat banyak. Yang membutuhkan justru daerah-daerah yang minim pembinaan,” katanya.
Banyak, tetapi belum kuat
KH Thoha kemudian memaparkan sebuah ironi.
Jawa Timur memiliki sekitar 666 kecamatan dan lebih dari 7.700 desa. Hampir di setiap desa berdiri sekolah Islam, madrasah, atau pesantren. Artinya, setiap hari ribuan guru agama dan ustaz melakukan aktivitas dakwah. Namun mengapa berbagai penyimpangan sosial masih terus terjadi?
Ia mencontohkan meningkatnya kasus HIV di kalangan pemuda di Sidoarjo maupun fenomena kelompok penyimpangan seksual di Bondowoso. “Kalau dai kita sudah begitu banyak, mengapa dakwah kita belum mampu mengubah keadaan?” tanyanya.
Menurutnya, jumlah yang besar tidak otomatis melahirkan pengaruh yang besar. “Kita banyak, tetapi seperti buih di lautan.” Ia mengutip sabda Rasulullah tentang penyakit hubbud dunya wa karahiyatul maut—cinta dunia dan takut mati.
“Inilah penyakit kita. Banyak dai, banyak ustaz, banyak kiai, tetapi masih terlalu dekat dengan urusan dunia.” Akibatnya, semangat pengorbanan semakin berkurang. “Disuruh berjuang berat. Disuruh membangun umat enggan. Kepentingan pribadi sering kali lebih diutamakan daripada kepentingan umat.”
Dakwah tidak boleh berjalan sendiri
Karena itu KH Thoha mengajak seluruh pesantren membangun kolaborasi.
Menurutnya, tidak semua pesantren memiliki visi yang sama. Ada yang fokus pada tahfiz, fikih, pendidikan formal, maupun bidang lainnya.
Pesantren Al-Islah sendiri memilih fokus melahirkan para mubalig melalui Kuliyatul Mubalighin Al-Islamiyah. “Setiap pesantren memiliki misi masing-masing. Yang penting adalah saling menguatkan.” Ia mencontohkan pentingnya kerja sama antara Akademi Dakwah Indonesia (ADI) dengan pesantren-pesantren yang memiliki orientasi dakwah. Sinergi tersebut diperlukan agar lahir metode dakwah yang lebih efektif dan lebih mudah diterima masyarakat.
Memahami peta mad’u
KH Thoha juga mengingatkan bahwa seorang dai harus memahami karakter orang yang didakwahi.
Menurutnya, masyarakat memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda.
Ada kelompok yang masih sibuk memikirkan apakah besok bisa makan.
Ada yang mulai berpikir apa yang akan dimakan. Ada yang sudah memikirkan di mana akan makan. Bahkan ada kelompok yang pikirannya telah dipenuhi ambisi kekuasaan, korupsi, dan kejahatan. Sayangnya, menurut dia, dakwah selama ini lebih banyak menyasar kelompok masyarakat bawah. Sementara kalangan elite, pejabat, pengambil kebijakan, dan kelompok berpengaruh justru relatif jarang disentuh.
“Kita terlalu banyak berkumpul di bawah. Padahal yang di atas juga membutuhkan dakwah.” Karena itu ia mengajak seluruh lembaga dakwah untuk berbagi peran sesuai kemampuan masing-masing.
Dakwah membutuhkan logistik
Menurut KH Thoha, tantangan dakwah bukan hanya soal sumber daya manusia, tetapi juga pembiayaan. Banyak dai akhirnya harus bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga sehingga konsentrasi dakwah berkurang. Karena itu Al-Islah menerapkan pola kerja sama dengan pesantren-pesantren cabang. Mereka menerima penugasan dai dengan syarat pesantren tujuan membantu kebutuhan dasar para dai, mulai dari makan, tempat tinggal, hingga uang saku. “Kalau kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi, bagaimana mereka bisa fokus berdakwah?” ujarnya.
Ia mengakui, tidak semua lembaga memiliki kemampuan logistik yang memadai.
Karena itu kolaborasi menjadi jalan keluar.
Dakwah harus lentur
Bagian paling menarik dari pemaparannya adalah ketika KH Thoha berbicara tentang gaya dakwah.
Menurutnya, seorang dai harus mampu diterima oleh siapa pun tanpa kehilangan prinsip. “Dakwah harus lentur, tetapi tidak larut.”
Kalimat itu menjadi penekanan sepanjang pertemuan. Ia menjelaskan filosofi yang selalu ditanamkan kepada para dai Al-Islah. “Kalian boleh berada di mana saja, tetapi jangan sampai terbawa ke mana-mana. Kalian harus mampu mewarnai, bukan diwarnai.” Karena itulah Al-Islah mengembangkan pendekatan dakwah yang mampu diterima oleh berbagai kalangan. Dalam akidah berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.
Dalam sistem pendidikan mengambil pendekatan modern. Namun dalam adab dan budaya bermasyarakat tetap menghormati tradisi Islam yang hidup di tengah masyarakat. Ia menyebutnya sebagai dakwah yang mampu menjembatani berbagai kalangan.
Di Al-Islah, para santri terbiasa membaca Surah Al-Kahfi setiap malam Jumat. Mereka menyebutnya “Kahfiyan”. Tradisi lokal tetap dihormati, tetapi diarahkan kepada amalan yang lebih kuat landasannya. “Yang paling penting bukan menang berdebat, tetapi dakwah kita diterima.”
Belajar dari pengalaman
KH Thoha kemudian menceritakan sebuah pengalaman.
Suatu ketika ia mengajak seorang syekh dari Arab Saudi berdakwah di sebuah desa. Sang syekh langsung menyalahkan berbagai tradisi masyarakat sebagai bid’ah dan haram. Akibatnya, ceramah itu ditolak. Bahkan rombongan mereka diminta meninggalkan tempat tersebut. “Padahal sebelumnya masyarakat sangat menghormati kami.”
Pengalaman itu menjadi pelajaran penting. Menurutnya, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh isi materi, tetapi juga cara menyampaikan. Seorang dai harus memiliki uslub (gaya) dan kaifiyah (metode) yang tepat sehingga dakwah terasa menyejukkan, bukan memicu penolakan.
Mengemas dakwah untuk generasi baru
Menutup arahannya, KH Thoha mengingatkan bahwa para dai kini menghadapi masyarakat yang berbeda dengan generasi sebelumnya.Generasi Alfa tumbuh dalam dunia digital yang serba cepat. Karena itu bahasa dakwah juga harus berubah tanpa mengubah prinsip.
Ia mencontohkan keberhasilan Buya Hamka dan Mohammad Natsir yang mampu berbicara kepada semua lapisan masyarakat, mulai dari rakyat biasa hingga pejabat negara. “Mereka diterima karena mampu mengemas bahasa dakwah dengan baik.”
Pesan itu menjadi penutup pertemuan siang itu. Bahwa dakwah masa depan tidak cukup hanya benar isinya.Ia juga harus cerdas metodenya, kuat kolaborasinya, dan lentur dalam penyampaiannya tanpa pernah kehilangan prinsip. (Akbar Muzakki)
Admin: Kominfi DDII Jatim
