Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatiim.com, Surabaya – Kegagalan yang ditemukan dalam kehidupan manusia di karenakan kurang siapnya mengarungi badai yang berada di depannya, badai bukan harus di hindari tetapi harus di taklukan, menaklukan aral rintangan merupakan dinamika dari kehidupan. Kehidupan manusia terkadang lempeng dan juga penuh liku liku, biasanya orang terpukau akan hasil akhirnya.
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ نَظَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ ، وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُمْ فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَتَبِعَهُ رَجُلٌ فَلَمْ يَزَلْ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى جُرِحَ ، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »
Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.
Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)
Uraian di atas adalah ibarat orang yang sudah siap mengayuh perahunya menuju ke samudera lepas. Karena dalam kenyataan hidup, ada banyak hal yang tidak pernah tersentuh dalam kehidupan, teruslah berlayar menghadapi tantangan kehidupan global, disana ada tantangan yang harus ditundukkan demi keserasian.
Tantangan global dapat memengaruhi dan mengubah nilai-nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat. Penting bagi masyarakat untuk tetap mempertahankan nilai-nilai positif dan menyesuaikan diri dengan perubahan global secara bijak.
Globalisasi dapat membawa dampak negatif maupun dampak positif pada masyarakat. Pesatnya perkembangan teknologi mempercepat terjadinya percampuran budaya sehingga menyebabkan semakin hilangnya keberagaman masyarakat Indonesia karena tercampur oleh budaya luar. Budaya asing yang masuk ke Indonesia akan memberikan dampak pada semua aspek kehidupan di Indonesia seperti pada bidang ekonomi, fashion, pola konsumsi, sosial budaya, bahkan pada bidang keagamaan.
Dari segi kebudayaan, Islam mengakui adanya budaya lokal yang berkembang disetiap wilayah meskipun Islam juga memiliki kebudayaannya sendiri. Sebagai bukti, kosmopolitanisme budaya Islam dibentuk oleh budaya lokal tempat penyebaran Islam. Secara spesifik kita mengetahui keberadaan Islam Jawa, Islam Madura, Islam Irian, dan lain-lain, walaupun secara ajaran dan budaya berbeda, tetapi tetap dalam sebuah kesatuan Islam.
الإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ يُعْلَى عَلَيْهِ
Artinya: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” Shahih Al-Bukhari, nomor 2825.
Makna dari hadits ini bukan sekadar pernyataan keunggulan, melainkan sebuah motivasi bagi umat Muslim untuk terus berbuat yang terbaik.
Kita tidak boleh berpuas diri dengan keadaan yang ada, namun harus terus berlayar untuk meningkatkan kualitas kehidupan mendatang.
Namun, ini lebih kepada bagaimana kita bisa konsisten dalam melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional).” (HR. Al-Baihaqi no. 5312)
Hanya main pasir di pantai” adalah sebuah kiasan yang berarti seseorang cepat merasa puas dengan hasil yang kecil atau tidak memanfaatkan potensi besar yang ada dalam hidupnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Kita bisa menerapkan prinsip ini dengan selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam pekerjaan, belajar dengan sungguh-sungguh, atau bahkan dalam hal-hal sederhana seperti belajar, membaca kitab (buku) dan menjaga kebersihan lingkungan.
Islam menganjurkan agar setiap kegiatan manusia bernilai manfaat dan tidak sia-sia, sehingga waktu luang sebaiknya diisi dengan hal yang produktif atau hiburan yang menyegarkan jiwa secara positif.
مَنْ يَفْعَل الخَيْرَ لا يَعْدَمْ جَوَازِيَه لاَ يَذْهَبُ العُرْفُ بَيْنَ اللهِ وَالنّاسِ
Barangsiapa berbuat kebaikan, dia mendapatkan balasannya. Kebaikan tidak akan hilang di hadapan Allah dan manusia.
Wallahu ‘alam bishowab.
Admin: SKominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
