Oleh M. Anwar Djaelani, peminat biografi tokoh dan penulis 16 buku
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Senin 20 Juli 2026 pukul 08.32 saya menerima kabar duka. Bahwa telah berpulang ke Rahmatullah sahabat kami, Zeyd Baktir, pada hari itu pukul 03.30. Refleks saya berucap Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan mendoakan Allahummaghfirlahu ……
Sekitar pukul 10 di pagi itu, jenazah Pak Zeyd disholati di Masjid Nurul Iman Sutorejo – Surabaya. Masjid itu, sekitar 50 meter dari rumahnya. Hal ini, karena di depan rumah Pak Zeyd ada tanah fasum (fasilitas umum), yang sebagian di antaranya dipakai untuk bangunan masjid.
Setelah itu jenazah dibawa ke Masjid Al-Irsyad, Jalan Sultan Iskandar Muda 46 Semampir – Surabaya. Di Masjid itu, bakda duhur, jenazah dishalati. Lalu, langsung dibawa ke Pemakaman Pegirian Surabaya yang berjarak sekitar 1,5 km dari Masjid Al-Irsyad.
Kesaksian Sahih
Kembali ke paragraf pertama, saya sedih dan langsung teringat dengan berbagai kebaikannya. Saya mengenalnya cukup lama. Mungkin, mulai 2010.
Banyak juga yang mengenal Pak Zeyd. Mereka sangat mungkin punya kesedihan yang sama sekalipun tidak punya hubungan kekerabatan dengan Almarhum seperti saya.
Sore harinya, Ady Amar menulis obituari di sebuah media digital. ”Selamat jalan, Sahabat. Engkau telah mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu lahir dari sebuah mimbar. Kadang ia tumbuh dari selembar buku, dari kepercayaan yang diberikan kepada sesama, dari tangan yang ringan menolong, dan dari hati yang teguh memihak kebenaran,” tulis Ady Amar.
Ady Amar pantas berkesaksian seperti itu. Keduanya, sesama aktivis Al-Irsyad Jatim. Keduanya, pecinta buku. Keduanya, berpengalaman sebagai penerbit buku.
Sosok Aktivis
Saat wafat, usia Pak Zeyd 81 tahun. Dia lahir di Lawang, 08-12-1945. Dia belajar di SD Attarbiyah, SMP Al-Irsyad, dan SMAN VIII (semuanya di Surabaya).
Pak Zeyd aktivis. Dia pernah aktif di Gerakan Pemuda Al-Irsyad, di Pimpinan Wilayah. Sebelum itu, aktif di Gerakan Gerakan Pelajar Al-Irsyad Cabang Surabaya pada tahun 1962-1972 sebagai Sekretaris Pengurus Cabang. Pada saat yang sama, sering terlibat di berbagai kegiatan sosial, antara lain memberi bantuan ke Gresik saat musibah banjir di Duduk Sampeyan.
Setelah aktif di Pemuda Al-Irsyad, Pak Zeyd mendapat amanah sebagai Bendahara Caretaker Pengurus Wilayah Perhimpunan Al-Irsyad Jawa Timur pada tahun 2003. Kemudian, pada Musyawarah Wilayah Al-Irsyad Al-Islamiyyah Jawa Timur Juli 2013, terpilih sebagai Bendahara PW Al-Irsyad Jawa Timur masa bakti 2013-2018.
Pak Zeyd, tokoh yang aktif di perbukuan. Terkait, Pak Zeyd pernah mendapat amanah sebagai pengurus di IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Hal lain, dalam perkembangannya, Toko Buku Media Idaman miliknya tutup sekitar 2012. Hal ini karena Pak Zeyd sakit, parkinson, mulai 2010.
Memang, Pak Zeyd aktif di masyarakat. Sekadar catatan, Pak Zeyd turut berjuang dalam pengembangan dakwah di perumahan tempat dia tinggal. Dalam semangat dakwah bil hal, antara lain contohnya, fasum di depan rumahnya bisa didirikan masjid dan di taman masjid itu bisa untuk shalat Idul Fitri.
Kisah lain, saya pernah diajak diskusi di sebuah resto di Barata Jaya – Surabaya. Bersama saya, juga diundang salah satu sahabat Pak Zeyd yaitu Hasan Bahanan (Allahuyarham). Agendanya, membicarakan kemungkinan merintis sebuah media dakwah.
Sigap Membantu
Keseharian Pak Zeyd penuh semangat beramal shalih. Dia pemilik Toko Buku Media Idaman, di Jalan Kedung Thomas 2 / 44 A – Menur Pumpungan, Surabaya. Juga, pernah menjalankan fungsi sebagai penerbit dengan nama Media Idaman Press.
Isi Toko Buku-nya, sangat lengkap. Temanya, keislaman dan pergerakan. Atas hal ini, toko ini menjadi jujugan penting terutama bagi aktivis dakwah. Mengapa? Pertama, diskonnya bagus. Kedua, suasana toko-nya yang ”kekeluargaan”. Ruangannya luas dan yang melayani ramah. Ketiga, jika aktivis dakwah yang berbelanja buku, mereka tak hanya mendapatkan diskon menarik tapi Pak Zeyd juga menyempatkan diri untuk sebuah percakapan atau diskusi dengan aneka topik aktual yang mengalir.
Pak Zeyd dikenal banyak kalangan. Aktivis dakwah kampus terutama di Surabaya, lama mengenalnya sebagai tokoh yang baik. Pak Zeyd, bagi aktivis dakwah yang mengenalnya, tulus membantu dalam berbagai keperluan dakwah seperti Pameran Buku. Panitia yang membutuhkan buku untuk keperluan itu, Pak Zeyd membuka kerjasama yang sangat memudahkan.
Di samping itu, Pak Zeyd juga memberi kesempatan bagi aktivis yang akan belajar memasarkan buku. Arif Syaifurrisal, adalah salah satu contoh. Aktivis dakwah di Unair pada 2010-2014, memanfaatkan peluang itu. Dia, dengan konsinyasi, aktif menjual buku sekitar 2014-2018. Kini, Arif aktif mengelola penerbit Pustaka Saga.
Tak Terlupakan
Bagi saya, Pak Zeyd yang sederhana dan berpenampilan tenang itu, insya Allah tak akan mudah terlupakan. Saya tak ingat, mulai tahun berapa kenal Pak Zeyd. Mungkin, sekitar 2010.
Juga, saya lupa dengan sebab apa kenal kali pertama. Hanya, yang saya rasakan, sejak pertama berjumpa langsung akrab. Mungkin, karena tiga faktor ini: Pertama, jauh sebelum kenal Pak Zeyd Baktir saya telah akrab dengan Pak Isom Baktir.
Lelaki yang disebut terakhir ini adalah sepupu sekaligus adik ipar dari Pak Zeyd. Ceritanya, Pak Isom adalah adik dari Prof. Afaf Baktir – dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Sementara, Prof. Afaf adalah istri Pak Zeyd.
Hal lain, Pak Isom Baktir sebagaimana Pak Zeyd, juga punya Toko Buku yaitu Pustaka Progressif. Pun, menjalankan pula fungsi sebagai penerbit. Saya sempat menjadi editor di sejumlah buku terbitan Pustaka Progressif – Surabaya.
Kedua, Pak Zeyd dan saya sesama aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia). Hanya saja, Pak Zeyd aktif di Surabaya pada 1960-an dan saya aktif di Pamekasan di akhir paruh kedua 1970-an.
Ketiga, alhamdulillah saya sudah punya karya 16 buku. Satu di antaranya sudah cetak ulang empat kali. Momentum mulai menulis buku itu, bermula dari Toko Buku Media Idaman.
Kisahnya, sekitar 2011, saya ditelepon Pak Zeyd. Intinya, diminta datang ke Media Idaman untuk ikut menjamu tamu yang akan datang yaitu rombongan Pro-U Media Jogjakarta. Tamu itu, baru selesai melakukan kunjungan silaturrahim ke Pamekasan. Dalam rangkaian pulang ke Jogjakarta, mereka akan silaturrahim ke Pak Zeyd.
Saya ditelepon karena Pak Zeyd tahu jika saya bersahabat dengan calon tamu-tamunya itu. Datanglah tamu itu yaitu Abah Fanni Rahman (Allahuyarham), Ustadz Fauzil Adhim, Ustadz Salim A. Fillah, dan Pak Zudi. Setelah cukup lama berbincang, saya bilang (lebih tepat minta izin) ke Pak Zeyd, untuk bisa bicara ”empat mata” dengan Abah Fanni (CEO Pro-U Media kala itu). Perlu waktu khusus, karena bersifat pribadi.
Saya dipersilakan dan diberi tempat di ruang kerjanya (sementara, tetamu dijamu di ruang tengah). Singkat kata, saya sampaikan kepada Abah Fanni, bahwa saya membawa naskah buku. Buku itu intinya berisi Panduan Menulis artikel, resensi, dan buku. Judulnya, Warnai Dunia dengan Menulis. Di dalamnya, ada juga bab tentang keutamaan membaca dan menulis.
Bagi saya naskah buku itu sangat penting. Hal ini karena semua umat Islam, punya amanah agar suka membaca dan rajin menulis. Ini, berdasarkan lima ayat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Kemudian, dengan cepat Abah Fanni menjawab, ”Mohon maaf, untuk naskah semisal ini kami tidak terbitkan. Tapi, ”Tolong tulis buku berisi tokoh-tokoh pendakwah yang sangat inspiratif. Tokoh-tokoh itu sudah meninggal, yang dengan itu aman jika kita menulis kisahnya,” demikian respons Abah Fanni yang membuat saya bersemangat.
Menulislah saya dan diterbitkan Pro-U Media Jogjakarta pada 2016. Judulnya, 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. Kini, buku itu sudah cetak ulang yang keempat. Alhamdulillah! Dengan demikian, Pak Zeyd turut berjasa atas kelahiran buku saya itu yang sampai sekarang masih beredar dengan baik.
Setelah 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, ada lima judul buku lagi karya saya yang diterbitkan Pro-U Media. Dengan demikian, semua ada enam judul buku yang diterbitkan penerbit yang beralamat di Jogokariyan 41 Yogyakarta itu.
Kelima, Pak Zeyd memberi kesempatan saya untuk memberikan Pelatihan Menulis kepada aktivis mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Tuban. Saya lupa tahun berapa. Hal ini, boleh jadi, karena Pak Zeyd memandang saya bisa memberikan Pelatihan Menulis.
Bahagia, Insya Allah!
Dengan buku, pergaulan Pak Zeyd luas. Misalnya, di Toko Buku Media Idaman, saya pernah bertemu dan berkenalan dengan mahasiswi Universitas Airlangga yang sedang belanja buku. Dia, keturunan dari guru besar Persis yaitu A.Hassan.
Sungguh, dengan buku terjalin hubungan Pak Zeyd dengan beraneka kalangan. Misal, terjalin dengan mahasiswa yang sedang menggelar Pameran Buku. Terhubung dengan panitia yang mengadakan Tabligh Akbar. Tersambung dengan penyelenggara pelatihan, dan berbagai kegiatan dakwah lainnya. Di saat-saat seperti itu, buku-buku yang diperlukan silakan ambil dan pembayarannya bisa di belakang hari.
Pendek kata, saya setuju ketika Ady Amar menulis, bahwa Pak Zeyd adalah lelaki sederhana yang diam-diam memudahkan langkah banyak orang terutama aktivis dakwah. Memudahkan dan menyenangkan banyak kalangan. Demikianlah, performa Pak Zeyd.
Semoga Pak Zeyd termasuk yang Allah panggil dengan mesra di QS Al-Fajr 27-30: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka, masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan, masuklah ke dalam surga-Ku. [].
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
