MENANAM SEBAGAI PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN AMAL KEBAJIKAN DUNIA AKHIRAT

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hidup ini ibarat sebuah ladang. Setiap perbuatan yang kita lakukan adalah benih yang kita tanam. Jika kita menanam benih kebaikan, maka kelak kita akan memanen buah kebaikan pula, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep “menanam kebaikan” dalam Islam bukan hanya sekadar anjuran moral, melainkan sebuah investasi spiritual yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda, abadi, dan tak terhingga.

Mengapa Menanam Kebaikan Itu Penting?

  1. Perintah Allah SWT dan Rasul-Nya: Allah SWT berulang kali memerintahkan kita untuk berbuat baik dalam Al-Qur’an. Misalnya, firman-Nya: “Berbuat baiklah kamu, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ini menunjukkan bahwa berbuat kebaikan adalah wujud ketaatan kita kepada Sang Pencipta.

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Berinfaqlah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس
»
Artinya: Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda, ”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani dan Daruquthni).

  1. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda: Setiap benih kebaikan yang kita tanam akan dibalas berlipat ganda oleh Allah.

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Barangsiapa berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan sepuluh kali lipat (pahala) kebaikan yang serupa dengannya.” (QS. Al-An’am: 160). Bahkan, Allah menjanjikan pahala tanpa batas bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dengan ikhlas.

  1. Menenangkan Hati dan Jiwa: Berbuat baik memiliki efek positif pada kesehatan mental dan spiritual kita. Memberi, menolong, atau sekadar tersenyum kepada orang lain dapat menciptakan rasa bahagia, kedamaian, dan kepuasan batin.

Ada berbagai manfaat positif dari tindakan baik yang bisa dirasakan oleh diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Berikut beberapa manfaat yang perlu kamu ketahui:

Berbuat baik dianggap sebagai salah satu perilaku altruistik di mana altruis adalah seseorang yang secara sukarela membantu orang lain dengan tulus dan ikhlas. Sifat ini sering kali dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental dan kepuasan hidup.

Oleh karena itu, secara tidak langsung dengan berbuat baik, kamu bisa merasa lebih sehat secara mental. Hal ini karena tubuh melepaskan hormon endorfin yang dapat menciptakan rasa lebih bahagia dan puas setelah melakukan tindakan baik.

  1. Menjadi Amal Jariyah (Kebaikan Berkesinambungan): Beberapa jenis kebaikan memiliki sifat jariyah, yaitu pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggal dunia. Ini adalah investasi abadi yang sangat berharga. Contohnya adalah ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah (seperti membangun masjid atau sumur), dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه

Artinya: “Apabila anak Adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).

  1. Memperbaiki Kehidupan Sosial: Masyarakat yang anggotanya gemar menanam kebaikan akan menjadi masyarakat yang harmonis, saling tolong-menolong, dan penuh kasih sayang, jauh dari perselisihan dan permusuhan.
    Untuk memperbaiki kehidupan sosial, mulailah dari langkah sederhana yang berdampak langsung di lingkungan sekitar Anda. Terapkan sikap inklusif dengan bertegur sapa, bangun komunikasi empatik untuk lebih memahami orang lain, dan aktiflah dalam kegiatan gotong royong atau komunitas lokal guna mempererat ikatan antarwarga
    Manusia adalah makhluk sosial yang secara kodrati tidak dapat hidup sendiri. Dalam interaksi sehari-hari, kita selalu bersinggungan dengan individu lain yang memiliki latar belakang, pemikiran, dan karakter yang berbeda. Di sinilah harmoni sosial menjadi sangat krusial untuk dipahami dan diterapkan.
    Harmoni sosial adalah kondisi di mana masyarakat hidup berdampingan secara selaras, serasi, dan seimbang meskipun terdapat berbagai perbedaan. Kondisi ini bukan sekadar absennya konflik, melainkan adanya kerja sama yang aktif dan rasa saling menghargai antar anggota masyarakat. Ketika harmoni tercipta, stabilitas emosional dan keamanan lingkungan akan terjaga dengan baik.

Ladang Kebaikan yang Bisa Kita Tanam Setiap Hari
Kebaikan bisa ditanam di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja:
• Senyum Tulus: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Sebuah senyuman tulus dapat mencerahkan hari orang lain dan menjadi kebaikan yang sederhana namun berpahala.
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

• تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَة

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.“ (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529)

Rasulullah memerintahkan kita keutamaan tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim, hadits ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.“ HR Al-Hakim (1/212

• Perkataan Baik: Berkata-kata yang sopan, menasihati dengan lembut, menghindari ghibah dan fitnah, serta mengucapkan salam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya .” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, tidak. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

Ghibah (menggunjing) dan fitnah adalah dua perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam karena keduanya dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Dalam Al-Quran dan Hadis, terdapat banyak peringatan tentang bahaya dan dosa dari ghibah dan fitnah. Berikut adalah panduan dan etika Islami dalam berbicara yang dapat membantu kita menghindari kedua perbuatan ini:

• Membantu Sesama: Menawarkan bantuan kepada orang yang kesusahan, baik tenaga, pikiran, atau harta. Ini termasuk menyingkirkan duri dari jalan.
Membantu sesama muslim sudahlah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang beriman. Perintah untuk tolong menolong dalam hal kebaikan difirmankan oleh Allah SWT secara langsung dalam surah Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْاۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah) jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram) jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda) dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitul Haram sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya!) Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. Al-Maidah ayat 2

Menolong” selengkapnya Berbagi Ilmu: Mengajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain dengan ikhlas.
Mengajar dengan ikhlas berarti menyampaikan ilmu semata-mata untuk mencari rida Allah, membimbing tanpa pamrih, dan menghilangkan kebodohan. Ini menjadikan aktivitas mengajar sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Keikhlasan tidak melarang Anda menerima upah, asalkan imbalan tersebut menjadi penunjang dakwah, bukan tujuan utamanya.

• Menjaga Lingkungan: Tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, atau menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk kebaikan yang berdampak luas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

• مَنْ بَنَى بُنْيَانًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ أَوْ غَرَسَ غَرْسًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ كَانَ لَهُ أَجْرٌ جَارِيًا مَا انْتَفَعَ بِهِ مِنْ خَلْقِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ
“Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang Maha Pengasih.” (HR. Ahmad, no. 4739)

Dalam sabda beliau yang lain,
• سَبْعٌ يَجْرِى لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ أَوْ غَرَسَ نَخْلاً:
“Ada tujuh yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya: (salah satunya) orang yang menanam pohon kurma…” (HR. Al-Bazzar no. 7289; Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin 2: 181; dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman no. 3449. Lihat Sahih Al-Targhib no. 73)

Menanam pohon merupakan salah satu cara praktis untuk menerapkan prinsip keseimbangan dan harmoni dengan alam yang diajarkan Islam. Pohon tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen, tetapi juga sebagai habitat bagi berbagai spesies, sumber makanan, dan peneduh.
Dalam konteks yang lebih luas, penanaman pohon juga membantu mencegah erosi tanah, menjaga kualitas udara, dan mengurangi pemanasan global, yang semua ini sejalan dengan prinsip menjaga keseimbangan dan menjaga bumi yang mengajarkan Islam.

• Doa Kebaikan: Mendoakan kebaikan bagi orang lain, bahkan bagi mereka yang pernah menyakiti kita.
Menanam kebaikan adalah ciri seorang Muslim yang sejati. Ia tidak pernah lelah berbuat baik, karena ia tahu bahwa setiap benih yang ditanam akan tumbuh dan berbuah di taman surga. Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menanam benih-benih kebaikan, demi kehidupan yang lebih berkah di dunia dan panen yang melimpah di akhirat.

Kewajiban kita sebagai hamba hanyalah bersyukur atas itu semua, atas anugerah yang Allah SWT titipkan pada kita, atas fasilitas yang kita gunakan dengan gratis. Lalu bagaimana cara kita bersyukur? Salah satunya, dengan melakukan dan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Mari kita simak pesan QS: Al Isra : 7 :

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيراً

“Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra : 7).
Kita juga bisa menjadikan pelajaran penting Surah Al-An’am ayat 160 di bawah ini :

مَن جَاءَ بِٱلحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشرُ أَمثَالِهَا وَمَن جَاءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجزَىٰ إِلَّا مِثلَهَا وَهُم لَا يُظلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Surah Al-An’am [6]: 160)

Dewandakwahjatim, com, Surabaya – Hidup ini ibarat sebuah ladang. Setiap perbuatan yang kita lakukan adalah benih yang kita tanam. Jika kita menanam benih kebaikan, maka kelak kita akan memanen buah kebaikan pula, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep “menanam kebaikan” dalam Islam bukan hanya sekadar anjuran moral, melainkan sebuah investasi spiritual yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda, abadi, dan tak terhingga.

Mengapa Menanam Kebaikan Itu Penting?

  1. Perintah Allah SWT dan Rasul-Nya: Allah SWT berulang kali memerintahkan kita untuk berbuat baik dalam Al-Qur’an. Misalnya, firman-Nya: “Berbuat baiklah kamu, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ini menunjukkan bahwa berbuat kebaikan adalah wujud ketaatan kita kepada Sang Pencipta.

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Berinfaqlah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس

Artinya: Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda, ”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani dan Daruquthni).

  1. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda: Setiap benih kebaikan yang kita tanam akan dibalas berlipat ganda oleh Allah.

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Barangsiapa berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan sepuluh kali lipat (pahala) kebaikan yang serupa dengannya.” (QS. Al-An’am: 160). Bahkan, Allah menjanjikan pahala tanpa batas bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dengan ikhlas.

  1. Menenangkan Hati dan Jiwa: Berbuat baik memiliki efek positif pada kesehatan mental dan spiritual kita. Memberi, menolong, atau sekadar tersenyum kepada orang lain dapat menciptakan rasa bahagia, kedamaian, dan kepuasan batin.

Ada berbagai manfaat positif dari tindakan baik yang bisa dirasakan oleh diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Berikut beberapa manfaat yang perlu kamu ketahui:

Berbuat baik dianggap sebagai salah satu perilaku altruistik di mana altruis adalah seseorang yang secara sukarela membantu orang lain dengan tulus dan ikhlas. Sifat ini sering kali dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental dan kepuasan hidup.

Oleh karena itu, secara tidak langsung dengan berbuat baik, kamu bisa merasa lebih sehat secara mental. Hal ini karena tubuh melepaskan hormon endorfin yang dapat menciptakan rasa lebih bahagia dan puas setelah melakukan tindakan baik.

  1. Menjadi Amal Jariyah (Kebaikan Berkesinambungan): Beberapa jenis kebaikan memiliki sifat jariyah, yaitu pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggal dunia. Ini adalah investasi abadi yang sangat berharga. Contohnya adalah ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah (seperti membangun masjid atau sumur), dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه

Artinya: “Apabila anak Adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).

  1. Memperbaiki Kehidupan Sosial: Masyarakat yang anggotanya gemar menanam kebaikan akan menjadi masyarakat yang harmonis, saling tolong-menolong, dan penuh kasih sayang, jauh dari perselisihan dan permusuhan.
    Untuk memperbaiki kehidupan sosial, mulailah dari langkah sederhana yang berdampak langsung di lingkungan sekitar Anda. Terapkan sikap inklusif dengan bertegur sapa, bangun komunikasi empatik untuk lebih memahami orang lain, dan aktiflah dalam kegiatan gotong royong atau komunitas lokal guna mempererat ikatan antarwarga
    Manusia adalah makhluk sosial yang secara kodrati tidak dapat hidup sendiri. Dalam interaksi sehari-hari, kita selalu bersinggungan dengan individu lain yang memiliki latar belakang, pemikiran, dan karakter yang berbeda. Di sinilah harmoni sosial menjadi sangat krusial untuk dipahami dan diterapkan.
    Harmoni sosial adalah kondisi di mana masyarakat hidup berdampingan secara selaras, serasi, dan seimbang meskipun terdapat berbagai perbedaan. Kondisi ini bukan sekadar absennya konflik, melainkan adanya kerja sama yang aktif dan rasa saling menghargai antar anggota masyarakat. Ketika harmoni tercipta, stabilitas emosional dan keamanan lingkungan akan terjaga dengan baik.

Ladang Kebaikan yang Bisa Kita Tanam Setiap Hari
Kebaikan bisa ditanam di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja:
• Senyum Tulus: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Sebuah senyuman tulus dapat mencerahkan hari orang lain dan menjadi kebaikan yang sederhana namun berpahala.
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

• تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَة

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.“ (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529)

Rasulullah memerintahkan kita keutamaan tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim, hadits ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.“ HR Al-Hakim (1/212

• Perkataan Baik: Berkata-kata yang sopan, menasihati dengan lembut, menghindari ghibah dan fitnah, serta mengucapkan salam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya .” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, tidak. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

Ghibah (menggunjing) dan fitnah adalah dua perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam karena keduanya dapat merusak hubungan sosial dan menimbulkan berbagai masalah dalam masyarakat. Dalam Al-Quran dan Hadis, terdapat banyak peringatan tentang bahaya dan dosa dari ghibah dan fitnah. Berikut adalah panduan dan etika Islami dalam berbicara yang dapat membantu kita menghindari kedua perbuatan ini:

• Membantu Sesama: Menawarkan bantuan kepada orang yang kesusahan, baik tenaga, pikiran, atau harta. Ini termasuk menyingkirkan duri dari jalan.
Membantu sesama muslim sudahlah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang beriman. Perintah untuk tolong menolong dalam hal kebaikan difirmankan oleh Allah SWT secara langsung dalam surah Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْاۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah) jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram) jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda) dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitul Haram sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya!) Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. Al-Maidah ayat 2

Menolong” selengkapnya Berbagi Ilmu: Mengajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain dengan ikhlas.
Mengajar dengan ikhlas berarti menyampaikan ilmu semata-mata untuk mencari rida Allah, membimbing tanpa pamrih, dan menghilangkan kebodohan. Ini menjadikan aktivitas mengajar sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Keikhlasan tidak melarang Anda menerima upah, asalkan imbalan tersebut menjadi penunjang dakwah, bukan tujuan utamanya.

• Menjaga Lingkungan: Tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, atau menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk kebaikan yang berdampak luas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

• مَنْ بَنَى بُنْيَانًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ أَوْ غَرَسَ غَرْسًا فِى غَيْرِ ظُلْمٍ وَلَا اعْتِدَاءٍ كَانَ لَهُ أَجْرٌ جَارِيًا مَا انْتَفَعَ بِهِ مِنْ خَلْقِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ

“Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang Maha Pengasih.” (HR. Ahmad, no. 4739)

Dalam sabda beliau yang lain,
• سَبْعٌ يَجْرِى لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ أَوْ غَرَسَ نَخْلاً:
“Ada tujuh yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya: (salah satunya) orang yang menanam pohon kurma…” (HR. Al-Bazzar no. 7289; Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin 2: 181; dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman no. 3449. Lihat Sahih Al-Targhib no. 73)

Menanam pohon merupakan salah satu cara praktis untuk menerapkan prinsip keseimbangan dan harmoni dengan alam yang diajarkan Islam. Pohon tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen, tetapi juga sebagai habitat bagi berbagai spesies, sumber makanan, dan peneduh.
Dalam konteks yang lebih luas, penanaman pohon juga membantu mencegah erosi tanah, menjaga kualitas udara, dan mengurangi pemanasan global, yang semua ini sejalan dengan prinsip menjaga keseimbangan dan menjaga bumi yang mengajarkan Islam.

• Doa Kebaikan: Mendoakan kebaikan bagi orang lain, bahkan bagi mereka yang pernah menyakiti kita.
Menanam kebaikan adalah ciri seorang Muslim yang sejati. Ia tidak pernah lelah berbuat baik, karena ia tahu bahwa setiap benih yang ditanam akan tumbuh dan berbuah di taman surga. Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menanam benih-benih kebaikan, demi kehidupan yang lebih berkah di dunia dan panen yang melimpah di akhirat.

Kewajiban kita sebagai hamba hanyalah bersyukur atas itu semua, atas anugerah yang Allah SWT titipkan pada kita, atas fasilitas yang kita gunakan dengan gratis. Lalu bagaimana cara kita bersyukur? Salah satunya, dengan melakukan dan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Mari kita simak pesan QS: Al Isra : 7 :

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيراً

“Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra : 7).
Kita juga bisa menjadikan pelajaran penting Surah Al-An’am ayat 160 di bawah ini :

مَن جَاءَ بِٱلحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشرُ أَمثَالِهَا وَمَن جَاءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجزَىٰ إِلَّا مِثلَهَا وَهُم لَا يُظلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Surah Al-An’am [6]: 160)

Admin: Kominfo DDII Jatim
.
Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *