Mengapa manusia tidak pernah berhenti bertanya?
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandajjatim.com, Surabaya – Mengapa sejak ribuan tahun lalu para filsuf, ilmuwan, dan para pencari hikmah terus bergulat dengan pertanyaan yang sama: Apa itu kebenaran? Dari mana asal kehidupan? Apakah ada penyebab pertama dari seluruh keberadaan? Adakah kebenaran yang bersifat universal?
Barangkali karena kebutuhan paling esensial manusia bukan sekadar makan, minum, atau bertahan hidup, melainkan menemukan kebenaran yang hakiki. Tanpa kebenaran, ilmu kehilangan arah, agama kehilangan makna, dan peradaban kehilangan tujuan.
Dari kebutuhan itulah lahir berbagai tradisi pemikiran. Filsafat Yunani menghadirkan konsep-konsep besar seperti Form of the Good dan Prime Mover. Berbagai agama menjelaskan asal-usul kehidupan, tujuan penciptaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Sementara epistemologi modern mengembangkan metode rasional, empiris, dan ilmiah untuk memahami realitas.
Semuanya merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia mencari kebenaran.
Karena itu, tradisi-tradisi tersebut tidak selayaknya diposisikan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Sebaliknya, semuanya merupakan warisan intelektual yang layak dipahami, diapresiasi, dan diajak berdialog secara kritis.
Semangat itulah yang melandasi Seri Epistemologi Qurani, khususnya Seri 1: Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia. Dialog dengan empirisme, rasionalisme, positivisme, hingga postmodernisme tidak dimaksudkan untuk menafikan kontribusi epistemologi modern. Justru sebaliknya, dialog tersebut berangkat dari pengakuan bahwa setiap tradisi telah memberikan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, setiap tradisi juga memiliki keterbatasan dan reduksi yang perlu dikaji kembali agar pencarian manusia menuju kebenaran tidak berhenti pada sebagian realitas.
Semangat dialog itu kemudian dilanjutkan dalam buku yang sedang dipersiapkan, Perjalanan Manusia Mencari Kebenaran: Dialog Filsafat, Agama, dan Epistemologi Qur’ani.
Buku ini berangkat dari keyakinan bahwa sejarah peradaban sesungguhnya adalah sejarah pencarian kebenaran. Plato, Aristoteles, tradisi-tradisi keagamaan, hingga perkembangan pemikiran modern dipahami sebagai bagian dari ikhtiar intelektual manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar.
Melalui dialog yang kritis dan apresiatif, setiap tradisi ditempatkan dalam konteks sejarah dan kerangka filosofisnya, diakui kontribusinya terhadap perkembangan pemikiran manusia, sekaligus dikaji berbagai reduksi yang masih menyisakan ruang untuk penyempurnaan.
Dalam kerangka itulah Al-Qur’an dihadirkan bukan sebagai lawan dialog, melainkan sebagai horizon epistemologis yang mengintegrasikan, meluruskan, dan menyempurnakan berbagai pencarian intelektual manusia menuju pemahaman yang lebih utuh tentang kebenaran.
Dengan demikian, dialog antara Al-Qur’an, filsafat, agama, dan peradaban bukanlah dialog untuk mencari siapa yang kalah dan siapa yang menang. Ia adalah ikhtiar bersama untuk memahami bagaimana manusia, di sepanjang sejarahnya, terus mencari kebenaran yang hakiki, sementara Al-Qur’an menawarkan sebuah revolusi cara pandang tentang ilmu, kebenaran, manusia, dan kehidupan melalui wahyu pertamanya:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Barangkali, inilah dialog yang semakin dibutuhkan dunia hari ini. Bukan dialog yang melahirkan polarisasi, melainkan dialog yang membangun budaya ilmu; dialog yang menghargai pencarian akal manusia, tanpa kehilangan orientasi kepada Allah Al-Haqq, sumber kebenaran yang hakiki.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
