Memahami Ayat dengan Tadabbur dan Sentuhan Hati

Oleh M. Anwar Djaelani – penulis 15 buku

Judul : Mindfulnes Qur’ani; Saat beban hidupmu berat, jadikan Al-Qur’an sebagai penenang hati
Penulis : Dr. Bandar bin Salim Asy-Syarari
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar
Tahun terbit : 2026
Tebal : x + 263 halaman

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Siapa yang tidak punya beban hidup? Pasti, semua manusia sejak mukallaf sampai wafat akan menemui berbagai ujiana.1 Oleh karena itu, kita butuh panduan agar tetap bisa hidup tenang dan bahagia meski sedang menghadapi cobaan.

Menjawab hal di atas, buku ini bisa dipakai. Mengapa? Pertama, lewat judul dan tagline-nya, buku ini menjanjikan bahwa di dalamnya ada kajian bagaimana menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama saat menghadapi semua masalah di keseharian.

Kedua, penulisnya adalah orang yang tepat. Dr. Bandar bin Salim Asy-Syarari adalah ulama, akademisi, dan aktif menulis. Sebagai akademisi dia pernah mengajar di Jurusan Al-Qur’an dan Ilmu-Ilmunya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh – Arab Saudi. Dia penulis produktif yang menggabungkan kajian Islam dengan pendekatan psikologi, pengembangan diri, dan tadabbur.

Tiga yang Menyatu

Mari buka buku dengan cover berwarna krem yang teduh dan bergambar lelaki sedang membaca Al-Qur’an ini. Banyak pasal di dalamnya. Pada tiap pasal, penulis membagi struktur atas tiga bagian: Ayat, Inspirasi Ketenangan, dan Pojok Inspirasi.

Inspirasi Ketenangan? Kata si penulis, buku ini berusaha menjawab jenis-jenis kegelisahan yang boleh jadi dirasakan oleh sebagian orang. Penulis berusaha menghadirkan sentuhan ketenangan berdasar ayat yang disertai sedikit ulasan tambahan. Juga, ada diselipkan beberapa renungan. Harapannya, akan didapat ketenangan jiwa (h.7).

Silakan lihat contoh bagus, berikut ini. Judul pasalnya, Reuni Keluarga Terbesar (h.219). Di bagian pertama, dimulai dengan ayat yaitu QS At-Thur [52]: 21, yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak-cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak-cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari amal perbuatan mereka”.

Di bagian kedua, ditulislah Inspirasi Ketenangan: ”Bersemangatlah untuk memperbaiki diri dan memperbaiki keturunan, serta berprasangka baiklah kepada Allah tentang hasil yang baik; karena Allah mengumpulkan anak-anak bersama orang tua di surga. Meskipun anak-anak mungkin kurang shaleh dibandingkan orang tua, yang terpenting adalah mereka meninggal dalam keadaan beriman” (h.219).

Intinya, binalah keluarga kita. ”Semua pertemuan keluarga kita tidak ada nilainya jika kita tidak menjaganya dari segala sesuatu yang bisa menjadi penyebab perpecahan dan ketidakhadiran kita bersama di surga”. Ketahuilah, lanjut Dr. Bandar bin Salim Asy-Syarari, ”Kedudukan tinggi bagi anak-anak di sini tidak lain karena berkah amal dan doa orang tua serta karena berkah iman anak-anak; karena Allah tidak mengangkat derajat anak-anak kecuali jika mereka beriman” (h.220).

Lantas, pasal itu diakhiri dengan Pojok Inspirasi di h.221: Ada kedudukan tinggi yang lain yaitu orang tua diangkat derajatnya karena berkah anak-anak.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh Allah benar-benar mengangkat derajat hamba yang shaleh di surga”. Lalu dia berkata, ”Wahai Tuhanku, dari mana ini bagiku?” Allah berfirman, ”Karena permohonan ampun anakmu untukmu” (HR Ahmad).

Indah sekali uraian di atas. Di awal-awal terkesan yang punya peluang mengangkat anak ke posisi yang lebih tinggi di surga adalah sang orang tua. Lalu, lewat Pojok Inspirasi, ternyata anak punya potensi juga dalam mengantar orang tua ke surga dengan posisi yang baik.

Gembira, bergembiralah!

Sekarang, kembali ke buku di bagian awal. Pasal pertama, berjudul ”Rahmat untuk Alam Semesta” (h.8). Dimulai dengan ayat: ”Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir” (QS Al-Qashash [28]: 86). ”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiya’ [21]: 107).

Lewat dua ayat itu, diterangkan bahwa adanya Al-Qur’an dan keberadaan Muhammad Saw sebagai Utusan Allah adalah Rahmat Allah bagi semesta alam. Untuk apa? Agar manusia bahagia. ”Katakanlah: ’Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” (QS Yunus [10]: 58).

Lalu, penulis menyimpulkan: ”Seorang mukmin, ketika memulai membaca Kitab Allah dengan kedua nama ini (Ar-Rahman dan Ar-Rahim), dan mengetahui bahwa setiap nama dari keduanya menunjukkan sifat rahmat, maka ia memulai membaca dalam keadaan gembira dan tenteram bahwa Dzat yang perkataan-Nya ia baca adalah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)” (h.9).

Yang Hilang Datang

Bacalah pasal ”Surah Al-Fatihah (Pembuka Kitab)” di h.12. Kita perhatikan ayat QS Al-Fatihah [1]: 4. Makna ayat ini, bahwa Allah ”Yang menguasai di Hari Pembalasan”.

Simak, telaah si penulis: ”Ketika engkau mengetahui bahwa pada Hari Kiamat tidak ada seorang pun yang memiliki tempat berlindung kecuali Allah, maka engkau tidak akan peduli dengan semua yang luput darimu dari puing-puing dunia ini. Engkau tidak akan menyusahkan dirimu sendiri, tidak menyesal atas segala kezaliman yang menimpamu di dunia; karena engkau sedang menantikan hari di mana tidak ada pemilik selain Allah. Pada hari itu, akan diberikan kepadamu setiap hak yang hilang darimu di dunia secara berlipat ganda karena kesabaran dan penantianmu” (h.14).

Hal yang Niscaya

Perhatikan pasal ”Yakin kepada Mati, Membuatmu Melihat Dunia Menjadi Murah” (h.44). Dimulai dengan mengutip QS Ali ’Imran [3]: 185, bahwa ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati …..”

Lalu, dijelaskan, bahwa kita tak akan mati sebelum hari yang ditetapkan Allah. Hal itu akan memperkuat jiwa di hadapan orang-orang yang menakut-nakuti kita dari kematian dan penyebabnya. Dengan itu, sikap kita bisa menjadi lembut saat mengingat kematian.
Jenis pandangan terhadap kematian seperti yang di atas, bisa disebut berdamai dengan kematian. Ini, milik orang beriman. Mereka melihat kematian dan mengingatnya sebagai sebab kecintaan kepadanya, bukan keburukan. Bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya, tidak bisa dihindari, sehingga tidak seharusnya menyia-nyiakan umur atau usaha (h.44-45).

Tiga Contoh


Buku ini memuat banyak pasal. Berikut sekadar tiga judul di antaranya. 1).Boleh Jadi Seorang Tidak Dikenal di Bumi, Namun Masyhur di Langit (h.19). Di pasal ini, dibuka ayat Al-Baqarah [2]: 152. ”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu ……”. Oleh karena itu, ”Bersemangatlah’, tulis Dr. Bandar di h.20. Bersemangat, ”Dalam mengingat Allah (berdzikir) dan janganlah bersedih jika orang-orang terdekat mengabaikanmu atau jika orang-orang yang dengki tidak menyebut namamu dengan kebaikan, selama namamu terus disebut-sebut di Al-Mala’ al-A’la (Majelis Tertinggi / para malaikat di langit)”, tegas si penulis.
2).Yakin Allah Bersamamu, Merupakan Ketenangan Hati (h.64). Dimulai dengan ayat ini: ”….. ’Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’…..” (QS At-Taubah [9]: 40).


Adapun yang dimaksud dengan perkataan, “Jangan berduka cita (bersedih)” bukanlah berarti agar kesedihan tidak menghampiri kita. Hal itu tidak mungkin terjadi karena ia akan datang tanpa bisa kita tolak. Oleh karena itu, kita berusaha meringankan beban kesedihan dengan tidak terbawa suasana. Kita berusaha mengusir kesedihan dengan mengingat bahwa Allah selalu membersamai (h.65).
3).Jalan Keluar dari Kesempitan (h.234).

Dimulai dari ayat ini: ”….. Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS At-Talaq [65]: 2). Tentang ini, penulis memberi pencerahan: ”Jalan keluar bukanlah pada apa yang engkau usulkan dan lihat, melainkan pada apa yang Allah tetapkan dan pilih untukmu” (h.235). Lalu, ditutup Pojok Inspirasi. Bahwa, Rasul Saw sering mengulang-ulang QS At-Talaq [65]: 2 ini dan pernah bersabda: ”Wahai Abu Dzar, seandainya manusia menjadikan ayat ini sebagai petunjuk, niscaya cukuplah bagi mereka” (h.235).

Tadabbur dan Sentuhan Hati


Ini buku terjemahan. Di Pengantar Penerbit, disebutkan bahwa salah satu yang hebat dari orang-orang shalih terdahulu, mereka merasa bahwa ayat itu turun untuk mereka. Ayat itu, serasa terarah ke pribadi. Setiap ayat yang dibaca, mereka rasakan bahwa Allah sedang mengarahkannya langsung kepada mereka.
Buku ini merupakan kumpulan ayat-ayat pilihan dalam Al-Qur’an lalu dijelaskan oleh penulis dengan cara-cara yang ringan, dengan pendekatan tadabbur dan sentuhan hati. Hasilnya, kita yang membacanya akan terpesona dengan kedalaman makna ayat-ayat Al-Qur’an (h.vi).

Sejumlah Catatan


Ada sejumlah salah ketik di buku ini. Tertulis “ungakap”, mestinya “ungkapan” (h.7). Tertulis ”egnkau”, mestinya ”engkau” (h.65). Tetulis ”kepdaa”, harusnya ”kepada” (h.197). Tertulis ”keuar”, harusnya ”keluar” (h.235).
Di halaman 16, ada ayat yang benar tapi terjemahnya tak sempuna. Di samping itu, ada yang salah cukup serius, yaitu penyebutan sumbernya salah. Tertulis Al-Baqarah 132, mestinya Ali ’Imran 102.

Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini bermanfaat. Selamat membaca! []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *