Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di Hari Kiamat, Al-Qur’an menggambarkan sebuah penyesalan yang begitu dalam.
أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Atau agar dia tidak berkata, ‘Seandainya Allah memberi aku petunjuk, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.'”
(QS. Az-Zumar: 57)
Kalimat ini terdengar seperti pembelaan.
“Aku sesat bukan karena salahku. Aku sesat karena Allah belum memberiku hidayah.”
Namun, Allah langsung membantah alasan itu.
بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Tidak! Sungguh, ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu, tetapi engkau mendustakannya, engkau menyombongkan diri, dan engkau termasuk orang-orang kafir.”
(QS. Az-Zumar: 59)
Perhatikan jawaban Allah.
Allah tidak berkata,
“Aku memang tidak memberimu hidayah.”
Tetapi Allah justru berkata,
“Ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu.”
Artinya, persoalannya bukan karena cahaya itu tidak pernah datang. Persoalannya adalah bagaimana manusia merespons cahaya yang telah datang.
Inilah yang menjelaskan ayat lain yang sering disalahpahami.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)
Ayat ini bukan berarti Allah memberikan hidayah secara sewenang-wenang tanpa hikmah. Sebab Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa manusia telah didatangi ayat-ayat-Nya, telah diberi akal, telah diutus rasul, dan telah diperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Yang tidak dimiliki manusia adalah hak untuk memaksa hidayah masuk ke dalam hati, karena taufiq adalah milik Allah.
Tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk membuka hati ketika cahaya itu datang.
Bayangkan matahari yang terbit setiap pagi.
Cahayanya menyinari seluruh bumi tanpa membedakan rumah siapa yang akan diterangi.
Namun ada rumah yang tetap gelap.
Apakah karena matahari enggan menyinarinya?
Tidak.
Rumah itu tetap gelap karena jendelanya tertutup.
Demikian pula hidayah.
Allah mengirimkan cahaya wahyu kepada manusia.
Allah mengutus para nabi.
Allah memperlihatkan ayat-ayat-Nya di langit, di bumi, bahkan di dalam diri manusia sendiri.
Semua itu adalah cahaya yang mengetuk jendela hati.
Lalu manusia dihadapkan pada satu pilihan: membuka atau menutup jendela itu.
Ketika hati membuka diri dengan kerendahan hati, Allah menambahkan cahaya itu menjadi taufiq.
Sebaliknya, ketika hati menolak, mendustakan, dan menyombongkan diri, maka manusia kehilangan taufiq, sebagaimana firman Allah:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka ketika mereka menyimpang, Allah menjadikan hati mereka menyimpang.”
(QS. Ash-Shaff: 5)
Dalam perspektif Epistemologi Qurani, hidayah bukan sekadar informasi yang diketahui akal, tetapi cahaya yang diterima oleh hati. Karena itu, krisis terbesar manusia bukanlah kekurangan informasi, melainkan kesombongan epistemologis: merasa tidak membutuhkan petunjuk Allah.
Pada Hari Kiamat, alasan “Seandainya Allah memberiku hidayah…” tidak lagi dapat dijadikan pembelaan. Sebab Allah telah menjawabnya sejak di dunia:
“Sungguh, ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu.”
Maka pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah:
“Apakah Allah telah menghadirkan cahaya?”
Melainkan:
“Apakah aku telah membuka jendela hatiku ketika cahaya itu datang?”
Admin: Kominfo DDii Jatim
Editor: Sudono Syueb
