Menggagas Relasi Agama dan Negara: Refleksi atas Disertasi Prof. Yusril Ihza Mahendra

Belum lama ini, dunia akademik Indonesia menyaksikan sebuah peristiwa yang menarik perhatian. Pada Kamis, 2 Juli 2026, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Pokok-pokok pikiran Dr. Adian Husaini, Ketum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Jakarta– Pencapaian ini menjadi spesial karena merupakan gelar doktor kedua yang diraih oleh Prof. Yusril di usia 70 tahun, di tengah kesibukannya yang padat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Imigrasi Pemasyarakatan.

Menelaah Pemikiran Muhammad Natsir

Topik yang diangkat dalam disertasi tersebut adalah penafsiran kembali pemikiran Muhammad Natsir mengenai relasi antara Islam dan negara. Dengan menggunakan pendekatan filsafat yang memadukan hermeneutika, fenomenologi, dan eksistensial, Prof. Yusril membuka kembali ruang diskusi yang krusial bagi kehidupan berbangsa.

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, memberikan apresiasi tinggi terhadap pemilihan tema tersebut. Menurutnya, wacana mengenai hubungan agama dan negara masih menjadi isu yang sangat relevan dan menarik untuk didiskusikan hingga saat ini.

Demokrasi Teistik sebagai Jalan Tengah

Dalam pandangannya, Adian Husaini menyambut baik gagasan “demokrasi teistik” atau Islamic democracy yang diusung oleh Muhammad Natsir. Konsep ini dinilai sebagai gagasan yang paling realistis untuk diterapkan di Indonesia. Inti dari konsep ini adalah pentingnya negara untuk mengakomodasi nilai-nilai agama dalam kehidupan bernegara.

Adian menekankan bahwa etika yang berbasis agama memiliki akar yang lebih kuat dibandingkan etika yang sekuler. Meskipun di beberapa negara Eropa etika sekuler mampu berjalan dengan baik, bagi Indonesia, tantangannya adalah bagaimana merumuskan hubungan harmonis antara agama dan negara secara teknis dan praktis.

Menghindari Ekstremisme dan Keterasingan

Diskusi mengenai relasi agama dan negara bukan sekadar debat teoritis, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Adian mengingatkan bahwa upaya ini penting untuk mencegah umat Islam di Indonesia mengalami alienasi atau keterasingan dari negaranya sendiri. Selain itu, dialog yang sehat dapat menghindarkan masyarakat dari terjebak dalam paham ekstrem yang salah kaprah, seperti pelabelan terhadap negara sebagai negara kafir.

Adian menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Justru, momentum ini seharusnya menjadi ruang dialog bagi seluruh elemen bangsa untuk membawa Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, menuju cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Budaya Ilmu sebagai Momentum

Pencapaian Prof. Yusril yang tetap produktif dalam berkarya di usia senja menjadi inspirasi tersendiri. Adian Husaini, yang juga penulis buku Muhammad Natsir: Negarawan, Guru, dan Dai Teladan, berharap agar semangat ini dapat memicu peningkatan budaya ilmu di tengah masyarakat.

Baginya, langkah Prof. Yusril yang mempertanggungjawabkan karya ilmiahnya secara terbuka bukan hanya dinilai oleh tim penguji di universitas, melainkan juga oleh publik secara luas. Semangat untuk terus belajar dan menelaah masalah-masalah strategis bangsa ini adalah teladan yang patut diikuti, bahkan bagi generasi yang lebih muda, untuk terus berdialog dan berjuang bersama demi kemajuan bangsa.

Link Youtube: https://youtu.be/rstpn2MeDKk

Sumber: Adianhusaini.id

Admin: Kominfo DDIIVJatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *