Adaptasi Manajemen dan Strategi Genghis Khan di Era Disrupsi

Oleh : Firman Syah Ali*

Dewandakwahjatim.cin, Surabaya – Dalam sebuah sesi percakapan penulis dengan Ketua Umum Naqobah Anshab Auliya’ Tis’ah (NAAT), Raden Maulana Sayyid Ilzamuddin Sholeh, disampaikan bahwa kakek Sayyid Jamaluddin Kubro menikahi bangsawan Mongol keturunan Genghis Khan. Dengan begitu tak terhindarkan lagi, baik Ketum NAAT maupun penulis sendiri, merupakan keturunan (dzurriyah) Genghis Khan.

NOMADEN Vs SEDANTER

Genghis Khan adalah sosok pemuda yang tumbuh dan berkembang di kawasan stepa eurasia. Sebuah kawasan besar yang dihuni oleh suku-suku nomaden pastoralik (gerombolan gembala pengembara) yang hidup dalam VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambigous) karena kondisi alam yang ultra ekstrim dan kondisi sosio-kultural yang selalu dilanda perang maut antar suku dalam kompetisi penguasaan sumber daya alam, yaitu padang rumput hijau yang kondusif untuk sumber makanan ternak.

Pola hidup seperti itu mirip sekali dengan dengan masyarakat gurun pasir timur tengah kuno. Mereka selalu berpindah-pindah mengikuti kebutuhan hewan-hewan gembalaannya (Nomaden Pastoralik) dan hobi perang antar suku (Martial Societies).

Masyarakat Eropa, Persia dan Arab pada awalnya juga merupakan bangsa nomaden, tapi mereka lebih dahulu menjadi bangsa sedenter (berperadaban menetap). Nomad yang lebih dahulu menjadi bangsa penetap inilah yang kelak dihancurkan oleh gerombolan besar nomaden pimpinan Genghis Khan.

​Ibnu Khaldun menjelaskan fenomena ini melalui konsep Asabiyyah (solidaritas sosial yang kohesif). Menurutnya, masyarakat nomaden memiliki asabiyyah yang sangat kuat karena mereka harus bertahan hidup di lingkungan alam dan sosial budaya yang ekstrem. Kekuatan ini membuat mereka mampu menaklukkan masyarakat sedenter yang asabiyyah-nya sudah melemah karena kemewahan dan birokrasi yang kaku. Ketika bangsa nomaden menaklukkan wilayah sedenter, mereka pada awalnya menjadi pemimpin yang sangat efektif. Namun, setelah beberapa generasi menetap, mereka sendiri akan terpengaruh oleh budaya sedenter tersebut, menjadi mewah, kurang gesit, dan akhirnya digantikan oleh kelompok nomaden baru. Berarti bangsa nomaden merupakan katalisator kebangkitan kembali peradaban-peradaban sedenter yang mulai stagnan.

PENDAHULU GENGHIS KHAN

Jauh sebelum Genghis Khan, sebetulnya padang rumput (stepa) telah dihuni oleh banyak nomaden perkasa yang berhasil membangun imperium stepa, antara lain Kerajaan Schytia yang bercorak Iranik (abad 9-2 SM), Imperium Xiongnu yang bercorak Turkik (209 SM-155), Imperium Xianbei yang bercorak Mongolik (93-234), Imperium Rouran yang bercorak Mongolik (330-555), Imperium Hun yang bercorak Turko-Mongolic (370-469), Imperium Gokturk yang bercorak Turkik (552-745), Imperium Uyghur yang bercorak Turkik (744-840), Imperium Liao yang bercorak Tungusik (907-1125), dan Imperium Jin/Jurchen yang bercorak Tungusik (1115-1234).

Jadi Genghis Khan bukanlah sosok penakluk dunia pertama dari Stepa. Sebelum Genghis Khan sudah ada Modu Chanyu, Bumin Khaghan, Yelu Abaoji, Atilla Khan, dan Wanya Aguda (Kaisar Taizu). Atilla Khan, pemimpin Imperium Hun, berhasil menaklukkan banyak wilayah Romawi dan Byzantium, bahkan perancis juga ditaklukkan, sehingga membuat Kaisar Byzantium Theodosius II membayar upeti emas kepadanya. Kaisar Taizu, penguasa bangsa Jurchen, penakluk Tiongkok. Dari bangsa Jurchen inilah kelak lahir Dinasti Qing (Manchu), dinasti terakhir dan terbesar Imperium Tiongkok Raya.

Namun luas wilayah taklukan Atilla Khan maupun Kaisar Taizu tetap kalah jauh dibanding wilayah taklukan Genghis Khan. Wilayah taklukan Genghis Khan sekitar 26 juta km2, sedangkan wilayah taklukan Atilla Khan hanya sekitar 4 juta Km2. Wilayah Kaisar Taizu lebih kecil, sekitar 2 juta Km2. Namun kenapa nama Atilla Khan tidak kalah populer dibandingkan nama Genghis Khan, karena yang ditaklukkan oleh Atilla Khan adalah wilayah jantung peradaban dunia saat itu, yaitu Romawi dan Byzantium. Kenapa kelak Genghis Khan tidak menaklukkan Eropa sebagaimana pernah dilakukan oleh Atilla Khan, karena pusat peradaban dunia pada zaman Genghis Khan bukan lagi Eropa, melainkan Timur Tengah dan Asia Tengah.

KUNCI SUKSES GENGHIS KHAN

Berdasarkan studi pustaka sezaman atau mendekati zaman Genghis Khan, seperti Mongolun Niuca Tobca’an, Tarikh-i Jahangushay, Shengwu Qinzheng Lu, dan Jami’ah Al-Tawarikh, ada beberapa kunci sukses Genghis Khan melakukan operasi penaklukan trans benua yang bertahan lama dan terus berkembang, bahkan setelah dia wafat.

Pertama, MERITOKRASI.
Genghis Khan tidak memilih pejabat sipil maupun militer berdasarkan garis kebangsawanan. Jabatan diberikan berdasarkan keahlian, kesetiaan, dan prestasi, bukan latar belakang suku atau bangsawan; bahkan mantan musuh yang berkompeten bisa diangkat jadi jenderal.
Tidak peduli seseorang merupakan anak keturunan pengemis, pasti direkrut ke dalam kepemimpinan apabila lulus uji kompetensi. Contohnya Jebe, Subutai dan Yelu Cuchai, mereka bukan nasab bangsawan, mereka keturunan rakyat jelata, tapi menjadi intinya inti dari imperium Gengkhis Khan.

Kedua, INOVASI.
Genghis Khan mengadopsi alat utama sistem pertahanan (alutsista) mutakhir Dinasti Jin Tiongkok berupa bubuk mesiu untuk mengancurkan benteng-benteng Khwarezmia dan Baghdad. Sedangkan inovasi sektor pemerintahan sipil yag dilakukan oleh Genghis Khan adalah pembangunan sistem pos pertama di dunia, yang disebut Yam. Dan banyak lagi inovasi yang dilakukan oleh Genghis Khan dalam mensukseskan pemerintahan lintas benuanya.

Ketiga, LAW ENFORCEMENT.
Penegakan hukum pada zaman Genghis Khan sangat tegas dan adil. Dia menerbitkan peraturan hukum bersama untuk seluruh imperium, yang disebut Yasa (Ikh Zasag) yang wajib dipatuhi dengan setaat-taatnya tanpa terkecuali. Dengan law enforcement yang tegas dan imparsial tersebut, wilayah imperium sangatlah aman. Pada waktu itu bila ada seorang gadis cantik membawa guci emas, melintasi jalur sutera dari ujung barat hingga timur imperium Mongol, pasti aman, tidak ada suku-suku liar maupun perampok yang berani ganggu.

Keempat, TRANSFER ILMU PENGETAHUAN.
Dalam menaklukkan bangsa-bangsa, Genghis Khan melarang keras pembunuhan para ilmuwan. Mereka dihormati dan dimanfaatkan ilmunya untuk kebesaran Imperium. Bangsa Mongolpun banyak belajar dari ilmuwan bangsa-bangsa taklukan.

Kelima, DISIPLIN TINGGI.
Genghis Khan memecah suku-suku menjadi satuan-satuan militer secara desimal. 10 orang disebut Arban, 100 orang disebut Zuun atau Jagun, 1000 orang disebut Mingghan, dan 10.000 orang disebut Tumen. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh Noyan. Komando Noyan sangat jelas, kendali cepat, disiplin tinggi, dan loyalitas berbasis kesukuan dihilangkan total. Berdasarkan Yasa, hukuman tegas ditegakkan untuk pembelotan, pengkhianatan, korupsi, dan pelanggaran aturan, serta imbalan tegas bagi keberhasilan.

Keenam, AGILE.
Genghis Khan mengatur setiap prajurit punya 3–5 kuda, bisa bergerak 100–150 km/hari, tanpa logistik berat.
Mereka terkenal dengan taktik pura-pura mundur ketakutan, yang dalam sekejap berganti mode menjadi pengepungan kilat dan serangan sayap. Taktik ini berbasis kekuatan Intelijen.

Ketujuh, PEMBENTUKAN IDENTITAS BERSAMA.
Genghis Khan menyatukan ratusan suku nomaden dan liar menjadi satu bangsa bernama Mongol dengan tujuan bersama yang bersifat universal, bukan sekadar kepatuhan pada pemimpin sukunya masing-masing.

Kedelapan, TOLERANSI BERAGAMA.
Genghis Khan melindungi pemeluk Islam, Kristen, Buddha, dan kepercayaan asli setempat di seluruh wilayah imperium. Tokoh-tokoh agama dan kepercayaan lokal dimuliakan, sehingga tidak ada perlawanan signifikan dari rakyat imperium.

Kesembilan,
ADAPTIF.
Genghis Khan tidak memaksakan sistem sendiri, melainkan menyerap teknologi pengepungan, rekayasa, dan administrasi dari kerajaan-kerajaan taklukan, seperti Tiongkok, Asia Tengah, dan Persia.

Kesepuluh,
DIPLOMASI DAN TEROR PSIKIS.
Genghis Khan selalu menghindari perang fisik. Sejarah mencatat bahwa sebelum menginvasi sebuah wilayah, dia terlebih dahulu mengirim korps diplomatik. Kalau korps diplomatik dijawab dengan penghinaan, barulah invasi militer dilancarkan. Untuk menghindari perang berkepanjangan, Genghis Khan biasanya menaklukkan sebuah kota dengan cara yang sangat kejam, agar pesan kekejamannya tersampaikan ke kota-kota lainnya. Taktik teror psikis ini berhasil, banyak kota yang menyerah sebelum diperangi.

RELEVANSI DENGAN MANAJEMEN KEPEMIMPINAN KONTEMPORER

Manajemen kepemimpinan kontemporer, baik pemerintahan, militer, Ormas, Parpol, maupun bisnis dapat mengadaptasi strategi kepemimpinan Genghis Khan tersebut.

Pertama, Visi kepemimpinan yang jelas dan mengikat. Pemimpin harus menetapkan tujuan bersama yang jelas yang dianut seluruh tim, bukan sekadar instruksi atasan.

Kedua, Meritokrasi. Pemimpin mengangkat orang berdasarkan kompetensi, bukan koneksi atau senioritas, apalagi berdasarkan nasab. Meritokrasi masih menjadi tantangan utama banyak organisasi di Konoha saat ini.

Ketiga, Struktur Sederhana dan Otonomi Lapangan. Utamakan keputusan cepat, taktis, dan strategis, kalau perlu delegasikan wewenang.

Keempat, Adaptasi dan Pembelajaran Berkelanjutan. Mengamati, meniru dan memodifikasi (ATM) keunggulan pihak lain tanpa gengsi, sama dengan inovasi terbuka dan belajar dari pesaing. Pesaing adalah mitra utama kita dalam berpikir dan berjuang.

Kelima, Punishment and Rewards. Punishment and rewards yang adil membangun kepercayaan dan kinerja tinggi dari seluruh bawahan dan staf. Punishment adalah gertakan psikologis kepada karyawan lain agar tidak meniru pelanggaran temannya.

Keenam, Inklusivitas. Jadikan Keberagaman sebagai Kekuatan. Toleransi dan integrasi bakat lintas budaya adalah bagian utama dari manajemen keberagaman, yang berfungsi mengubah perbedaan dan keberagaman menjadi kekuatan dahsyat.

KESIMPULAN

Kepemimpinan unggul ala Genghis Khan yang bisa diterapkan di era disrupsi saat ini adalah kepemimpinan yang visioner, inovatif, meritokratis, agile, adaptif, inklusif, disiplin, taktis, strategis dan persuasif. Jangan lupa harus ahli psywar sebagaimana Genghis Khan. Tapi ingat satu pepatah kuno “cara boleh ditiru, nasib belum tentu sama”.

*) Penulis adalah Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *