Oleh: Agus Salim, Ketua Umum PB PII 1989-1992
Dewandakwahjatim.com, Jakarta – Amar ma’ruf Nahy munkar merupakan istilah yang banyak diungkapkan dalam Al Qur-an. Diucapkan dalam satu tarikan nafas. Istilah tersebut selalu penting untuk kemaslahatan kehidupan masyarakat sampai kapanpun, apalagi dalam masyarakat seperti Indonesia ini. Istilah tersebut terdiri dari dua ungkapan, yakni Amar ma’ruf dan Nahy munkar.
Amar ma’ruf berfokus pada penyampaian ajaran dan nilai-nilai kebaikan dalam Islam, dalam rangka meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pencerahan kepada umat agar diamalkan dengan sebaik-baiknya, misalnya tentang peningkatan ibadah, keutamaan menuntut ilmu, keutamaan momen-momen tertentu (Ramadhan, 4 bulan haram, dll). Tentu saja itu sangat penting.
Nahy munkar, sebagai upaya untuk mencegah, mengerem, dan meminimalisir sekecil-kecilnya segala bentuk kondisi kemunkaran, baik melalui lisan, tulisan, maupun tindakan, dengan aneka metode. Itu perlu dilakukan agar upaya amar ma’ruf untuk membangun masyarakat tidak menjadi rusak.
Pada dasarnya tugas mulia tersebut harus ditunaikan oleh segenap umat Islam, apapun status dan peran sosial mereka, termasuk ormas Islam, partai politik yang berciri khas Islam, namun secara lebih spesifik amanah tersebut harus diemban oleh mereka yang dikenal Kyai, Ustad/muballigh. Mereka lebih mudah dan dekat dengan umat. Maka mereka dituntut untuk selalu peka dan responsif terhadap perkembangan kondisi masyarakat.
Jadi, kalau seorang Kyai, Ustad/muballigh menyampaikan Nahy munkar itu memang sudah tugasnya, baik kemunkaran yang bersarang dibidang ideologi, sosial, politik, ekomomi, budaya, dll. Apalagi jika Kezaliman (kesewenang-wenangan, kekerasan, kekejaman, ketidak-adilan, premanisme, perundungan, dll).
Kemaksiatan (perjudian, miras, narkoba, prostitusi, LGBT, dll). Maupun Kecurangan (korupsi, suap, pungutan liar, penipuan, penggelapan, dll) kondisinya makin marak dan kian membahayakan.
Dalam kontek kehidupan bermasyarakat Nabi Saw mengumpamakan seperti kehidupan penumpang di atas kapal.
“Ada suatu rombongan naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi-bagi tempat, dan masing-masing mereka mendapat tempat masing-masing.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka melobangi tempat yang didudukinya dengan sebuah kompak. Mereka lalu bertanya: “Apa itu yang kau perbuat?” Ia menjawab: “ini tempatku sendiri, dan aku kan boleh berbuat semauku”.
_Jika mereka terus memegang tangannya, dia akan selamat, dan mereka semua akan selamat. Tetapi sekiranya mereka biarkan saja dia berbuat begitu, ia akan binasa dan semua mereka akan binasa_.
Saat ini kondisi kemungkaran nampak kian mengkhawatirkan, baik kezaliman dengan segala jenisnya, kecurangan dengan segala ragamnya, maupun kemaksiatan dengan segala variannya. Kondisi tersebut merebak tidak hanya terjadi di masyarakat biasa, tapi juga dikalangan birokrasi, anggota dewan, penegak hukum. Bahkan ada yang disinyalir sampai pada tingkat darurat, yaitu korupsi, Narkoba, kekerasan, maupun LGBT. Apabila para Kyai, Ustad/Muballigh tidak mau peduli dan hanya konsen pada Amar ma’ruf saja, maka kapal bangsa dan negara ini – cepat atau lambat Insya Allah akan tenggelam dengan sendirinya secara mulus.
Menjadi lebih sensitif tatkala Nahy munkar itu masuk dibidang politik. Sasarannya bukan pada politiknya, namun kotoran, prilaku buruk yang bersarang dalam politik itu yang harus terus digaungkan bahayanya. Kezaliman dalam politik itu yang harus diungkapkan. Umat bingung, bagaimana hukumnya menurut Islam, pemberian (uang) Tim sukses suatu partai menjelang pemilu?
Para Kyai, Ustad/muballigh dituntut untuk bicara memberikan pencerahan kepada umat agar mereka mengerti politik, sehingga tidak mudah dipolitiki pihak lain. Dunia politik jelas berimplikasi pada kebijakan pemimpin yang akan berimbas pada kondisi sosial, politik, ekonomi, hukum, moral, budaya, prilaku birokrasi maupun aparat penegak hukum, dll.
Memang, bagi mereka yang sinis lalu menuduh macam”, umpamanya, istilah Politisasi agama, Jangan bicara politik di masjid, Politik identitas, dll. Seolah-olah agama tidak pastas bicara soal kezaliman, kecurangan, dll dalam dunia politik. Atau, ada juga dengan bahasa yang halus, disampaikan macam” ungkapan, umpamanya, Islam itu rahmatan lil alamin. Jangan membuat kegaduhan, Da’wah itu hendaknya yang sejuk, dll. Padahal salah satu faktor yang menentukan Rahmatan lil alamin itu adalah ajaran mengenai perpaduan dan keseimbangan dua pilar, antara Amar ma’ruf dan Nahy munkar.
Kalau dicermati ungkapan” tersebut sesungguhnya terkandung maksud hendak membius umat, terutama para Kyai, ustad/muballigh. Dan apabila sudah terbius maka mereka menjadi santapan empuk politisi busuk itu.
Umat butuh keteladanan dan arahan.
Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
