Refleksi 22 Juni: Menuju Indonesia yang Bersih dari Kezaliman

Oleh Sudono Syub, Bidang Kominfo DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Momentum Piagam Jakarta 22 Juni 1945 adalah kompromi agung para pendiri bangsa yang menyatukan keberagaman demi fondasi negara. Refleksi tanggal ini adalah pengingat suci untuk membumikan keadilan sosial dan kemanusiaan, serta menjadi dorongan moral agar Indonesia membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman, korupsi, dan ketidakadilan.

Setiap tanggal 22 Juni, bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya dokumen bersejarah yang menjadi embrio dari dasar negara kita, yakni Piagam Jakarta. Dirumuskan oleh Panitia Sembilan, piagam ini bukan sekadar arsip masa lalu. Di dalamnya terkandung semangat kompromi yang luar biasa antara golongan nasionalis dan agamis, yang membuktikan bahwa perbedaan bukanlah jurang pemisah, melainkan batu pijak untuk membangun kesepakatan luhur.
Lahirnya rumusan dasar negara ini menjadi titik tolak kita untuk merenungkan kembali arah perjalanan bangsa.

Di balik cita-cita luhur yang tertuang dalam Pancasila, terselip sebuah harapan besar yang harus terus kita perjuangkan bersama: membersihkan Indonesia dari segala bentuk kezaliman.
Kezaliman bukanlah sekadar penindasan fisik di masa penjajahan.

Di era modern ini, kezaliman berwajah ganda. Ia hadir dalam bentuk:

  • Ketimpangan Sosial: Masih adanya jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin, yang menodai sila kelima tentang keadilan sosial.
  • Korupsi dan Kolusi: Praktik yang merampas hak rakyat, menghambat kemakmuran bersama, dan merusak integritas moral bangsa.
  • lntoleransi dan Penindasan: Tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.

Refleksi 22 Juni menuntut kita untuk berani melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Apakah nilai-nilai Pancasila telah benar-benar kita hidupi dalam praktik bernegara, ataukah ia hanya menjadi slogan di ruang-ruang rapat? Penyelenggaraan pemerintahan dan penegakan hukum harus mencerminkan keadilan yang berpihak pada rakyat kecil, bukan pada segelintir golongan.

Menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup berarti menjadikan moral ketuhanan dan kemanusiaan sebagai rem dari segala bentuk keserakahan. Hanya dengan keberanian membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman, kita dapat mewujudkan cita-cita proklamasi: masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Semoga momentum bersejarah ini membakar kembali semangat gotong royong kita untuk mengawal Indonesia menjadi bangsa yang bersih, bermartabat, dan berkeadilan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *