Memetik Hikmah Baitul Aqabah: Refleksi Cinta Kaum Anshar dan Keteguhan Imandi Masjid Al Kautsar

Oleh Suharsono – Pengurus Dewan Da’wah Kota Pasuruan

Dewandakwahjatim.com​, Pasuruan – Suasana sejuk Kota Pasuruan di pagi hari berpadu dengan kehangatan spiritual di dalam Masjid Al Kautsar, Jl. Ir. Djuanda. Pada Ahad pagi, 14 Juni 2026, jamaah tampak khusyuk menyimak untaian kisah sejarah yang disampaikan oleh Ust. Nur Adi Septyanto, S.Ag., seorang da’i asal Bangil. Mengangkat materi Sirah Nabawiyah, sang ustadz membedah sebuah fase krusial dalam dakwah Rasulullah SAW: Pelajaran dari Baitul Aqabah.

​Ustadz Nur Adi mengawali ceramahnya dengan sebuah penegasan penting. Setiap jengkal langkah dan strategi yang diambil oleh Rasulullah SAW tidak pernah lahir dari kebetulan; semuanya sarat akan hikmah dan wahyu. Beliau mengutip pandangan ulama besar, Syaikh Said Ramadhan Al-Buthi, yang menyatakan bahwa rekam jejak kehidupan nabi (sirah) sengaja didesain oleh Allah agar menjadi keteladanan yang hidup, yang kelak menjelma menjadi syariat Islam bagi umat-umat setelahnya.

Duta Dakwah Pertama dan Isi Baiat yang Agung
​Titik balik hijrah dimotori oleh sebuah diplomasi dakwah yang luar biasa. Ust. Nur Adi mengisahkan peran monumental Mus’af bin Umair, pemuda bangsawan yang diutus Rasulullah SAW sebagai duta dakwah pertama dalam sejarah Islam. Mus’af ditugaskan menemani 12 orang penduduk Madinah yang telah menyatakan kesetiaan di Bukit Aqabah.

​Merujuk pada riwayat Ubadah bin Shamit RA, ustadz menguraikan poin-poin krusial dalam Baiat Aqabah Pertama. Sebuah sumpah setia yang menjadi fondasi karakter muslim, antara lain:

✓Menjaga Tauhid: Berjanji untuk tidak menyekutukan Allah SWT dalam kondisi dan situasi bagaimanapun.

✓​Menjaga Kehormatan dan Harta: Larangan keras untuk mencuri dengan cara yang bathil dan larangan berzina. Islam datang secara tegas untuk menjaga keturunan (hifzhun nasl).

✓​Menjaga Akal dan Jiwa: Larangan meminum khamr serta larangan membunuh anak-anak karena takut miskin.
​”Sesungguhnya Allah-lah yang memberi rezeki. Larangan-larangan ini sekaligus menutup rapat celah manusia untuk menyombongkan diri atau merasa hebat di muka bumi,” tegas Ust. Nur Adi.

​Selain itu, baiat tersebut juga menekankan larangan berbohong dan menghibah (menggunjing), yang mengatur bagaimana hubungan muamalah dan ibadah kaum Anshar harus berjalan selaras.

​Syahadat dan Konsekuensi Logis Umat Akhir Zaman
​Sebuah pertanyaan reflektif dilemparkan oleh sang ustadz kepada jamaah: Bagaimana dengan kita yang hidup di akhir zaman, yang tidak pernah bertatap muka langsung dengan Rasulullah SAW untuk berbaiat?

​Para ulama ilmu kalam (teologi Islam) telah merumuskan jawabannya. Konsekuensi logis dari bersyahadat di masa sekarang adalah dengan menjaga sunnah-sunnah Nabi SAW. Kesetiaan kita tidak lagi diuji lewat jabat tangan fisik di Bukit Aqabah, melainkan lewat komitmen menjaga agama tauhid, konsistensi dalam ibadah, serta menjaga kehalalan harta di tengah gempuran zaman yang kian pragmatis.

​Potret Madinah: Kontras Anshar dan Realita Pengungsi Hari Ini
​Keberhasilan Mus’af bin Umair dalam membina penduduk Madinah membuahkan hasil yang manis. Madinah berubah menjadi kota penghafal Al-Qur’an. Puncaknya, Allah SWT mengabadikan potret keluhuran budi penduduk Madinah (kaum Anshar) dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 9.
​Ust. Nur Adi membawa jamaah pada kontemplasi yang mendalam ketika membandingkan psikologis kaum Anshar dengan realita sosial hari ini. Beliau mencontohkan fenomena pengungsi Rohingya yang hijrah ke Aceh, yang belakangan ini kerap mendapat penolakan dan kebencian dari penduduk setempat.
​”Memang, orang yang mengungsi itu penuh dengan problema sosial dan ekonomi,” ujar Ustadz. “Namun, lihatlah bagaimana kaum Anshar mencontohkan hal sebaliknya. Mereka menyambut kaum Muhajirin dengan cinta yang tulus.”
​Allah SWT yang menyelesaikan kerumitan urusan kaum Anshar. Di hati mereka tidak ada rasa iri, mereka mampu menerapkan skala prioritas (itsar), yaitu mendahulukan kepentingan orang lain meskipun diri mereka sendiri sedang berada dalam kesusahan dan kekurangan. Mereka dibersihkan dari sifat bakhil atau syuhh (kikir yang disertai ketamakan)—sebuah penyakit hati yang hari ini sangat akrab kita lihat dalam panggung perpolitikan modern kita. Karena keikhlasan itulah, Allah melabeli kaum Anshar sebagai orang-orang yang beruntung.

​Penutup
​Kuliah subuh yang sarat akan pesan sejarah dan kritik sosial ini diakhiri saat matahari mulai menyingsing. Ust. Nur Adi Septyanto kemudian memimpin doa bersama, memohon agar seluruh jamaah yang hadir diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah di atas jalan sunnah, dan pada akhirnya dianugerahi akhir hidup yang Khusnul Khatimah.
​Majelis ilmu pagi itu pun resmi ditutup dengan khidmat melalui pembacaan doa Kafaratul Majlis secara bersama-sama.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *