Kesombongan, Penyulut Menolak Kebenaran

Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kesombongan merupakan akal penolakan terhadap kebanaran. Penolakan dan memperdebatkan ayat-ayat yang datang kepadanya selalu dicari celah kelemahan dan kesalahannya. Meskipun akalnya menerima, tetapi karena kesombongan maka justru dipergunakan untuk memperdebatkan agar ajakan mengikuti kebenaran melemah. Akalnya terus memproduksi narasi-narasi kosong yang berujung menolak dan melawan kebenaran. Harta, pengikut, dan keahlian (skill) bukan sebagai modal menerima tetapi justru menjadi sumbu kesombongan sekaligus penyulut menolak kebenran.

Karakter Menolak

Seolah menjadi karakter bahwa kekafiran melekat mencari celah untuk menolak. Dalam hatinya, berita yang disampaikan oleh para rasul sangat benar dan sulit dibantah. Namun karena sesak dada yang bercokol kesombongan, maka kebenaran apapun yang datang akan ditolaknya. Mereka memiliki bekal kekayaan, pengikut banyak dan skill yang hebat menjadi bibit kesombongan sehingga kebenaran yang datang langsung dipandang rendah,
Al-Qur’an menarasikan bahwa para penolak kebenaran umumnya memiliki modalitas yang kuat, seperti kekayaan yang banyak sehingga bisa berleliling dunia, pengikut yang banyak sehingga banyak pendukung, serta memiliki keahlian (skill) sehingga membuatnya sukses. Tiga modalitas itulah yang dikedepankan sehingga menjadi karakter buruk dalam merespon kebenaran. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ كَا نُوْۤا اَكْثَرَ مِنْهُمْ وَاَ شَدَّ قُوَّةً وَّ اٰثَا رًا فِى الْاَ رْضِ فَمَاۤ اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu mereka memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu lebih banyak dan lebih hebat kekuatannya serta (lebih banyak) peninggalan-peninggalan peradabannya di bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.” (QS. Ghafir : 82)

Tiga modalitas itulah yang membentuk kesombongan sehingga menolak apapun berita yang dibawa rasul. Dengan hartanya dipergunakan untuk mendanai untuk mengeliminasi setiap berita rasul. Dengan pengikutnya yang banyak dipergunakan untuk menyerang dan memperlemah rasul dan pengikutnya. Dengan keahlian yang dimiliki dipergunakan untuk menipu dan membuat perangkat agar kebenaran redup.

Disinilah Allah menunjukkan produksi-produksi melemahkan para rasul dengan mengeluarkan argumen-argumen yang dipandang masuk akal untuk menolak kebenaran, menolak hari kebangkitan dengan alasan badan manusia sudah hancur sulit dikembalikan. Menantang hari kimat disegerakan, hingga menuduh rasul sebagai orang gila. Semua itu berujung untuk mendebat rasul. hal ini sebagaimana dinarasikan Al_qur’an sebagai berikut :

اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَا دِلُوْنَ فِيْۤ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰٮهُمْ ۙ اِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَا لِغِيْهِ ۗ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, yang ada dalam dada mereka hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang tidak akan mereka capai maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Ghafir : 56)

Akhir Kesombongan


Kesudahan manusia-manusia tercatat dalam sejaran. Mereka mengalami kehancuran secara tragis. Fisik mereka yang kuat-kuat, kekayaan yang melimpah serta barang-barang peninggalan yang mewah dan megah tak mampu mencegak kerusakan moral mereka. Kekayaan yang melimpah, pengkiut yang banyak serta keahlian yang langka justru menciptakan kesombongan dan merasa menjadi manusia unggul tanpa tandingan. Mereka berbuat semena-mena, seperti mererendahkan, menindas, mengusir, dan membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi kepentingannya.

Ketika datang peringatan dari utusan Allah untuk mengingatkan penyimpangan pemikiran dan perilaku justru dipandang sebagai ancaman atas berbagai kenikmatan kekayaan harta dan kekuasaan yang mapan. Maka mereka pun menolak ajakan rasul. itulah awal bencana yang menistakan mereka. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الَّذِيْنَ كَا نُوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ كَا نُوْا هُمْ اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَّاٰثَا رًا فِى الْاَ رْضِ فَاَ خَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَمَا كَا نَ لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ وَّا قٍ
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan-peninggalan (peradaban)nya di bumi, tetapi Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Dan tidak akan ada sesuatu pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.” (QS. Ghafir : 21)

Peringatan rasul berupa kata-kata, nasehat untuk kembali kepada Allah dengan merendahkan diri di hadapan-Nya. Peringatan dan ancaman musibah, bencana alam pun sudah ditunjukkan. Namun hal ini tak digubris. Bahkan mereka justru mengeluarkan kata-kata merendahkan dan menghinakan rasul-Nya dengan mengatakan “omong kosong” dan “dongeng belaka” hingga pernyataan gila dan sihir.

Allah pun pada akhirnya tidak menunda azabnya setelah memberi tempo agar mau menghentikan kesombongan yang semakin menjadi-jadi dan meluas. Meluas dalam arti kualitas penolakan sangat mendalam, dan jumlah pengikutnya semakin banyak serta tak bisa dibendung. Akhirnya Allah menurunkan azab untuk menghinakan para pelaku kesombangan.

Surabaya, 21 Mei 2026

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *