Sambut Panggilan Dakwah

Bila seseorang mempunyai ilmu yang bermanfaat, mengetahui suatu kebaikan, atau melihat sesuatu yang baik, maka itu perlu dikembangkan sebagai bagian dari dakwah
(Natsir, Fiqhud Da’wah, 1983: 111).

Oleh Anwar Djaelani, Pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Perhatikan tiga ayat ini: ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS Al-Ashr [103]: 1-3).

Kandungan tiga ayat di atas amat dalam. Allah bersumpah demi waktu. Lalu, manusia disebut berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.

Tampak, bahwa hidup tak cukup hanya dengan iman pada masing-masing pribadi. Tidak memadai bila amal shalih hanya dinikmati sendiri-sendiri. Pemahaman yang benar, bahwa ada kewajiban yang tak boleh ditinggalkan yaitu saling menasihati.

Di titik ini, ada pesan agar kita aktif berdakwah. Di sini, ada panggilan untuk peduli kepada sesama. Oleh karena itu, dakwah sesungguhnya bukan urusan kecil. Dakwah adalah bagian dari keselamatan hidup manusia. Dakwah, dalam arti yang luas, adalah kewajiban yang harus dipikul oleh tiap-tiap Muslim dan Muslimah.

Terus dan Terus

Dakwah bukan tugas musiman. Dakwah bukan pekerjaan yang hanya dilakukan saat sempat. Dakwah tak boleh dilakukan tanpa persiapan yang cukup.

Dakwah adalah bagian dari identitas seorang Muslim, sebab dia tak hidup sendirian. Dia hadir di tengah masyarakat. Dia melihat keadaan di sekitarnya. Dia mengetahui ada kebaikan yang harus ditegakkan dan ada kemunkaran yang harus dicegah.

Oleh karena itu, pahami bahwa dakwah dalam arti amar makruf nahi mungkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Bila masyarakat kehilangan semangat saling mengingatkan, maka perlahan kerusakan akan tumbuh.

Nabi Muhammad Saw berpesan, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat”. Pesan ini terasa menenangkan. Dakwah tidak selalu harus panjang dan megah. Dakwah tidak harus menunggu menjadi tokoh besar.

Dalam dakwah, sampaikan saja kebenaran yang kita pahami dengan baik. Sampaikan dengan penuh hikmah. Sampaikan dengan akhlak yang mulia.
Yakini, tiap benih kebenaran memiliki daya tumbuhnya sendiri-sendiri. Resapi, betapa indah pandangan ini: Bahwa, kebaikan sekecil apa pun jangan diremehkan. Bisa jadi, satu kalimat yang tulus dapat menyelamatkan seseorang. Boleh jadi, satu nasihat sederhana menjadi sebab perubahan besar.

Jangan Abaikan

Sambutlah panggilan dakwah. Aktiflah menyeru ke arah kebaikan. Giatlah beramar makruf nahi munkar.

Sungguh, masyarakat tidak akan selamat bila memilih bungkam saat kemunkaran terjadi. Dalam Surah Al-Anfaal [8]: 25, Allah mengingatkan agar kita takut terhadap bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja. Ketika kemunkaran dibiarkan, dampaknya bisa meluas kepada semua.

Ini, ayat yang dimaksud di atas: ”Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS Al-Anfaal [8]: 25).

Natsir menyebut, inilah hukum besi sejarah (1983: 112). Kita harus aktif berdakwah. Amar makruf nahi munkar harus kita tegakkan.
Rasulullah Saw pun mengingatkan bahwa bila manusia melihat kemunkaran lalu tidak mencegahnya maka bisa datang azab Allah secara umum, baik kepada pelaku kemunkaran maupun yang membiarkannya.
Kita sering lupa bahwa diam juga memiliki akibat. Membiarkan kerusakan terus berjalan berarti ikut memberi ruang bagi kehancuran masyarakat. Tentu, semua akan merasakan kehancuran.

Kapal dan Penumpangnya

Terkait amar makruf nahi munkar, ada tamsil menarik. Sekumpulan orang berlayar dengan sebuah kapal. Tiap orang menempati tempat masing-masing yang telah ditentukan.
Seseorang akan melubangi dinding kapal karena merasa yang dilubangi adalah bagian dari kapal yang merupakan haknya. Atas hal ini, mestinya semua yang ada di kapal berkewajiban melarang aktivitas berbahaya itu. Semua harus peduli kepada apa pun yang ada di kapal itu.

Jika penumpang yang lain melarang dan mencegah pekerjaan melubangi kapal itu, maka itulah amar makruf nahi munkar. Semua akan selamat. Tapi jika larangan melubangi tak dilakukan, maka kapal akan karam. Semua penumpang akan tenggelam (1983: 113).

Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda: ”Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan; bila tak mampu maka ubahlah dengan lisan; bila tak mampu maka ubahkah dengan hati dan itulah selemah-lemah iman” (HR Muslim).
Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang Mukmin tak boleh kehilangan kepedulian kepada situasi di sekitarnya. Pada dirinya harus selalu ada ruang untuk berbuat. Mesti selalu ada jalan untuk mengambil bagian dalam dakwah.

Songsong, Songsong!

Sambutlah panggilan dakwah. Jangan merasa kecil. Jangan menunggu sempurna. Dunia ini terlalu gaduh oleh kebatilan bila orang-orang baik memilih diam.


Mulailah dakwah terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, dan terhadap lingkungan terdekat. Tebarkan ilmu, akhlak, dan keteladanan. Ketahuilah, boleh jadi, satu kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan terus hidup, berkembang, lalu menjadi cahaya bagi banyak orang. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *