Ketika Wahyu Tidak Sekadar Memberi Jawaban, Tapi Membangunkan Kesadaran
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Salah satu keunikan Al-Qur’an yang sering luput disadari adalah: banyak ayatnya hadir dalam bentuk pertanyaan, bukan sekadar pernyataan. Wahyu tidak selalu mengatakan “ini benar” atau “itu salah”, tetapi justru mengguncang manusia dengan kalimat seperti:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Tidakkah kalian berpikir?
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?
أَفَلَا يَنظُرُونَ
Tidakkah mereka memperhatikan?
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Apakah sama orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?
Ini menunjukkan bahwa epistemologi Qur’ani tidak dibangun di atas pemaksaan kesimpulan, tetapi di atas pengaktifan kesadaran. Wahyu tidak hanya ingin manusia menerima kebenaran, tetapi memahami mengapa itu benar.
Di sinilah pertanyaan menjadi metode revolusioner.
Pertanyaan memaksa manusia berpikir.
Pertanyaan mengguncang kenyamanan taklid.
Pertanyaan membuka ruang refleksi dan pencarian.
Sementara pernyataan bisa berhenti di telinga, pertanyaan masuk ke dalam batin dan memaksa akal bergerak.
Dalam perspektif Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, ini adalah bentuk penghormatan tertinggi Al-Qur’an terhadap akal manusia. Wahyu tidak memperlakukan manusia seperti makhluk pasif yang hanya menerima, tetapi sebagai makhluk sadar yang harus terlibat dalam proses memahami.
Karena itu, banyaknya pertanyaan dalam Al-Qur’an bukan tanda ketidakjelasan—justru tanda bahwa Islam membangun peradaban berpikir. Ia ingin manusia sampai pada kebenaran melalui kesadaran, bukan sekadar ikut-ikutan.
Di sinilah perbedaan besar antara epistemologi Qur’ani dan jahiliyah.
Jahiliyah hidup dari jawaban-jawaban warisan yang tidak pernah diuji.
Sementara Al-Qur’an datang dengan pertanyaan-pertanyaan yang membangunkan.
Maka pertanyaan dalam Al-Qur’an bukan sekadar gaya bahasa, tetapi alat pembebasan epistemologis. Ia membebaskan manusia dari:
keyakinan tanpa dasar,
tradisi tanpa verifikasi,
dan kehidupan tanpa refleksi.
Karena manusia yang berhenti bertanya biasanya berhenti berpikir.
Dan ketika berpikir berhenti, taklid mulai mengambil alih.
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak membiarkan manusia tenggelam dalam pertanyaan tanpa arah. Setelah akal digerakkan, wahyu memberi petunjuk, membangun kepastian, dan mengantarkan manusia menuju:
لَا رَيْبَ فِيهِ
kepastian yang tidak menyisakan keraguan yang menyesatkan.
Maka pertanyaan dalam Al-Qur’an sejatinya bukan untuk membuat manusia bingung—
tetapi untuk membuat manusia sadar.
Karena terkadang, manusia tidak membutuhkan lebih banyak jawaban—
ia hanya membutuhkan satu pertanyaan yang benar…
untuk membangunkan seluruh hidupnya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
