Tantangan Dunia Pendidikan di Era Digital

Oleh Kemas Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – “Menjadi hamba Allah” Adalah tujuan hidup manusia di atas dunia ini, oleh karena itu tujuan Pendidikan pun tiada lain adalah pencapaian kualitas “hamba Allah”. Untuk itu, Tauhid harus menjadi dasar Pendidikan Islam dan menjadi “hamba Allah” Adalah cita-cita yang harus dicapai dari sebuah proses Pendidikan. (Dewan Da’wah “Pemikiran Dan Perjuangan Muhammad Natsir Dalam Bidang Pendidikan” h.19)

Tantangan dunia pendidikan di era digital bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga perubahan cara berpikir, berinteraksi, dan membentuk karakter. Perkembangan pesat dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi Digital telah mengubah wajah pendidikan secara mendasar—dari ruang kelas konvensional menuju ekosistem belajar tanpa batas ruang dan waktu.

Era digital telah melahirkan kemudahan luar biasa melalui perkembangan Teknologi Informasi. Proses belajar tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Namun, kemudahan ini juga melahirkan paradoks: akses ilmu melimpah, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedalaman pemahaman dan kematangan karakter. Banyak peserta didik yang cakap secara teknis, tetapi rapuh dalam nilai dan akhlak.

Al-Qur’an telah memberi arah dasar tentang urgensi ilmu. Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu memiliki kedudukan tinggi, namun harus berjalan beriringan dengan iman.
Tahu banyak, tapi dangkal.

Salah satu tantangan utama adalah banjir informasi. Di era internet, peserta didik dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan hanya dalam hitungan detik. Namun, tidak semua informasi tersebut benar atau bermanfaat. Di sinilah pentingnya literasi digital—kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakan informasi secara bijak. Tanpa itu, pendidikan justru berisiko melahirkan generasi yang “tahu banyak, tapi dangkal”.

Tantangan berikutnya adalah pergeseran peran guru. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, melainkan fasilitator, pembimbing, dan inspirator. Dalam perspektif Pedagogi modern, guru dituntut mampu mengintegrasikan teknologi dengan metode pembelajaran yang kreatif. Namun kenyataannya, tidak semua pendidik siap dengan perubahan ini, baik dari sisi kompetensi maupun mentalitas.

Selain itu, dunia pendidikan saat ini menghadapi krisis keteladanan. Guru sering kali dituntut menguasai teknologi, tetapi lupa bahwa esensi pendidikan terletak pada keteladanan sikap. Rasulullah ﷺ bersabda dalam HR. Bukhari dan Muslim:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadis ini menegaskan bahwa inti pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak.

Selain itu, muncul pula problem ketimpangan akses teknologi. Tidak semua daerah memiliki fasilitas internet yang memadai. Hal ini menciptakan kesenjangan antara siswa di perkotaan dan pedesaan. Dalam konteks ini, digitalisasi pendidikan bisa menjadi pedang bermata dua: membuka peluang sekaligus memperlebar jurang ketidakadilan.

Lebih jauh, era digital juga membawa tantangan serius pada pembentukan karakter dan akhlak. Paparan konten negatif, budaya instan, serta kecanduan gadget dapat menggerus nilai-nilai moral. Pandangan Akhlak dalam Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga menyucikan jiwa. Maka, integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual menjadi sangat penting.

Tidak kalah penting adalah tantangan menjaga fokus dan kedalaman belajar. Generasi digital cenderung serba instan terbiasa dengan informasi cepat dan singkat. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan reflektif bisa menurun. Padahal, pendidikan sejati membutuhkan proses panjang, ketekunan, dan kedalaman berpikir.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya kesungguhan dalam Surah Al-Insyirah ayat 7:

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”

Ayat ini mengajarkan etos kerja, ketekunan, dan kontinuitas dalam belajar.
Menjaga keseimbangan.
Menghadapi berbagai tantangan ini, dunia pendidikan perlu melakukan transformasi menyeluruh. Kurikulum harus adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai luhur. Guru perlu terus meningkatkan kompetensi digital dan pedagogis. Orang tua juga harus berperan aktif dalam mengawasi serta membimbing penggunaan teknologi oleh anak.

Akhirnya, pendidikan di era digital bukan hanya tentang mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Al-Qur’an dan hadits telah memberi fondasi. Sebab, teknologi hanyalah alat—yang menentukan arah adalah manusia itu sendiri. Jika pendidikan mampu menyeimbangkan antara kecanggihan teknologi dan kemuliaan akhlak, maka kita tidak hanya akan memiliki generasi yang pintar, tetapi juga bijaksana dan berintegritas.

Jika keseimbangan ini terwujud, maka digitalisasi bukan ancaman, melainkan peluang untuk melahirkan generasi unggul yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Wallahu a’lamu bissawab.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *