Oleh Kemas Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Bulan Dzulqa’dah termasuk salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan dalam Islam. Selain bernilai ibadah tinggi, bulan ini juga menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang sarat pelajaran untuk pendidikan dan dakwah, antara lain peristiwa perjanjian hudaibiyah.
Dalam sejarah Islam, Perjanjian Hudaibiyah sering dipandang sebagai titik balik yang menentukan arah dakwah. Peristiwa yang terjadi pada tahun keenam Hijriyah ini melibatkan Nabi Muhammad dan kaum Quraisy Makkah. Secara kasat mata, isi perjanjian tersebut tampak merugikan umat Islam: penundaan umrah, pengembalian sebagian pihak yang masuk Islam ke Makkah, serta sejumlah klausul yang tidak seimbang. Namun dalam perspektif strategis, Hudaibiyah justru menjadi kemenangan besar yang membuka jalan bagi penaklukan Makkah tanpa pertumpahan darah.
Pelajaran utama dari Hudaibiyah adalah keberanian untuk mengedepankan perdamaian daripada konflik. Nabi Muhammad Saw. menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal keberanian di medan perang, melainkan kemampuan membaca masa depan. Beliau rela menerima kesepakatan yang tidak populer di kalangan sahabat demi kemaslahatan jangka panjang. Inilah bentuk “kemenangan tertunda” yang hanya dapat dicapai dengan kesabaran, visi, dan kepercayaan kepada strategi yang matang.
Jika kita menarik pelajaran ini ke dalam konteks geopolitik kontemporer, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terlihat perbedaan pendekatan yang mencolok. Hubungan kedua negara selama beberapa dekade diwarnai oleh sanksi ekonomi, tekanan militer, dan retorika konfrontatif. Alih-alih membuka ruang dialog yang setara, masing-masing pihak cenderung mempertahankan posisi keras demi kepentingan politik dan citra kekuatan global. “Trump, Iran are locked in high-stakes standoff as oil prices hit 4-year high” “Trump dan Iran terjebak dalam kebuntuan berisiko tinggi seiring harga minyak mencapai level tertinggi dalam 4 tahun.” (washington post.com)
Pendekatan ini membawa konsekuensi luas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga mengguncang ekonomi global, terutama terkait jalur energi strategis seperti Selat Hormuz. Konflik yang berlarut-larut memperlihatkan satu kenyataan pahit: kekuatan militer tidak selalu menghasilkan solusi, justru sering memperpanjang siklus permusuhan.
Dalam perspektif Hudaibiyah, situasi ini mengandung pelajaran penting. Pertama, menahan ego politik adalah syarat utama terciptanya perdamaian. Nabi Muhammad Saw. memberi contoh bahwa mengalah secara taktis bukan berarti kehilangan kehormatan. Sebaliknya, itu adalah bentuk kedewasaan kepemimpinan. Dalam konflik modern, ego nasional sering kali menjadi penghalang utama dialog. Ketika setiap pihak ingin tampil dominan, ruang kompromi menjadi semakin sempit.
Kedua, dialog harus dibangun di atas kepercayaan, bukan ancaman. Hudaibiyah membuka peluang interaksi damai antara dua pihak yang sebelumnya bermusuhan. Dalam suasana damai itulah dakwah berkembang pesat. Sebaliknya, dalam konteks Amerika Serikat dan Iran, diplomasi sering berjalan di bawah bayang-bayang tekanan. Sanksi ekonomi dan ancaman militer justru mengikis kepercayaan, sehingga dialog kehilangan makna substantif.
Ketiga, dampak perdamaian jauh lebih luas dibandingkan kemenangan dalam konflik. Setelah Hudaibiyah, jumlah orang yang masuk Islam meningkat signifikan karena suasana aman memungkinkan penyebaran nilai-nilai secara natural. Ini menunjukkan bahwa stabilitas adalah fondasi bagi pertumbuhan peradaban. Dalam dunia modern, perdamaian membuka peluang bagi pendidikan, pembangunan ekonomi, dan kerja sama lintas bangsa. Sebaliknya, konflik hanya melahirkan krisis kemanusiaan, pengungsian, dan kemiskinan.
Dari sudut pandang dakwah dan pendidikan, Hudaibiyah memberikan paradigma baru: bahwa perubahan besar sering dimulai dari pendekatan damai yang cerdas. Dakwah tidak selalu harus konfrontatif. Ia bisa hadir melalui keteladanan, kesabaran, dan strategi yang matang. Pendidikan pun harus menanamkan nilai-nilai ini kepada generasi muda, agar mereka tidak terjebak dalam pola pikir hitam-putih antara menang dan kalah.
Dalam dunia yang semakin kompleks, kita membutuhkan lebih banyak “pemimpin Hudaibiyah”—yakni mereka yang berani mengambil jalan damai meski tidak populer. Keberanian semacam ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral dan intelektual yang tinggi. Ia menuntut kemampuan untuk melihat melampaui kepentingan sesaat menuju kemaslahatan yang lebih luas.
Pelajaran Hudaibiyah untuk Dunia Modern
- Menahan Ego Demi Maslahat Lebih Besar– Dalam Hudaibiyah, Nabi ﷺ bersedia “mengalah secara taktis” demi kemenangan strategis.
- Dialog Lebih Produktif daripada Eskalasi– Hudaibiyah membuka ruang komunikasi dan interaksi damai.
- Dampak Damai Lebih Luas daripada Perang– Pasca Hudaibiyah, jumlah orang yang masuk Islam meningkat drastis karena suasana aman.
Perdamaian menciptakan ruang pendidikan, dakwah, dan Pembangunan– Konflik hanya memperpanjang penderitaan umat manusia.
Pada akhirnya, sejarah telah membuktikan bahwa perdamaian strategis mampu menghasilkan kemenangan yang lebih besar dan berkelanjutan. Hudaibiyah bukan sekadar perjanjian, melainkan pelajaran abadi tentang bagaimana membangun masa depan tanpa harus menghancurkan masa kini. Dalam konteks global hari ini, pesan itu terasa semakin relevan: dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi sangat membutuhkan kebijaksanaan. Wallahua’lamu bissawab.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
