Hangatnya Pertemuan di Ngabar: Kisah Haflah Ied yang Merajut Ukhuwah dan Menguatkan Dakwah

Oleh: Sadidatul Azka, Da’iyah Pengabdian Akademi Da’wah Indonesia Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Ponorogo – Ahad, 26 April 2026, langit pagi di kawasan Pondok Pesantren Walisongo Ngabar, Siman, Ponorogo tampak cerah. Udara segar, dan halaman pesantren mulai dipenuhi langkah-langkah para tamu yang datang dari berbagai daerah. Wajah-wajah yang sebagian lama tak berjumpa, kembali bertemu dalam satu suasana yang hangat dan penuh makna.

Lantunan shalawat mulai menggema sejak pukul 08.00 WIB di ruang auditorium pondok. Iringan hadroh dari para santri, seakan menyambut setiap hati yang baru saja tiba. Tidak sekadar pembuka acara, momen ini terasa seperti pengikat awal—menghadirkan rasa kebersamaan sebelum rangkaian Haflah Ied 1447 H Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Timur dimulai.

Perlahan, acara dibuka pada pukul 08.45 WIB. Tema yang diangkat, “Merajut Ukhuwah, Meneguhkan Da’wah Untuk Kedaulatan Indonesia,” bukan sekadar rangkaian kata. Ia terasa hidup dalam setiap rangkaian acara yang disusun.

Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Ardho Qonin El-Manan mengawali suasana khidmat. Dilanjutkan dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama—sebuah pengingat sederhana bahwa dakwah dan kecintaan terhadap negeri ini berjalan beriringan, saling menguatkan.

Satu per satu para tokoh memberikan sambutan. K.H. Muhammad Khoirudin, Lc., selaku Ketua DDII Kabupaten Ponorogo, serta Dr. K.H. Heru Saiful Anwar, M.A., sebagai pimpinan pondok pesantren, menyampaikan pesan-pesan yang menguatkan peran dakwah di tengah masyarakat.

Namun, ada satu penekanan yang begitu membekas dari sambutan Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur, Dr. K.H. Fathurrohman, M.Pd.I. Dengan nada yang tegas namun penuh harap, beliau menyampaikan pentingnya menyiapkan dai di setiap daerah.
“Setiap daerah perlu menyiapkan dai-da’inya,” ungkap beliau.

Sebuah kalimat sederhana, tetapi mengandung tanggung jawab besar. Dakwah bukan sekadar tugas perorangan, melainkan amanah bersama. Beliau juga mengingatkan kembali tentang Mosi Integral Mohammad Natsir—sebuah warisan pemikiran yang menegaskan bahwa dakwah dan keutuhan bangsa tidak dapat dipisahkan.

Sambutan terakhir oleh Dr. (HC). Drs. Muhsin, M.K., M.Sc. membawa hadirin menelusuri perjalanan panjang Dewan Dakwah dari masa ke masa. Nama Mohammad Natsir disebut sebagai sosok pertama yang memimpin—tokoh besar bangsa yang tidak hanya dikenal sebagai perdana menteri, tetapi juga sebagai pejuang dakwah.

Perjalanan itu terus berlanjut hingga hari ini, di bawah kepemimpinan Dr. Adian Husaini, S.KH., M.Si., Ph.D., yang dikenal sebagai cendekiawan Muslim dengan fokus pada pendidikan dan peradaban Islam. Dari perjalanan tersebut, tersirat satu pesan: bahwa dakwah adalah estafet panjang yang harus terus dijaga.

Menjelang akhir acara, suasana berubah menjadi lebih santai. Doa bersama menutup rangkaian kegiatan, lalu dilanjutkan dengan makan siang yang menghadirkan kehangatan sederhana.

Namun, di balik itu semua, ada momen-momen kecil yang justru terasa paling berkesan.

Di sela-sela acara, penulis memanfaatkan kesempatan untuk menyambung kembali silaturahmi dengan para guru di Akademi Dakwah Indonesia Jawa Timur. Pertemuan dengan Ustadzah Rohmatin membawa kembali ingatan pada pelajaran tazkiyatun nafs yang menenangkan. Ustadz M. Anwar Djaelani, yang dahulu mengajarkan dunia menulis, kembali ditemui dengan rasa hormat yang sama. Begitu pula dengan Ustadz Ainur Rofiq, yang selalu menanamkan pentingnya fiqih dan adab dalam kehidupan.

Sebelum meninggalkan lokasi, pertemuan singkat dengan Ustadz Hairul Warizin selaku direktur ADI Jawa Timur menjadi penutup yang menguatkan. Tak hanya itu, penulis juga menjumpai para alumni, mahasantri, serta ibu-ibu muslimat dari berbagai daerah—semuanya larut dalam suasana kekeluargaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Haflah Ied kali ini bukan hanya tentang acara yang tersusun rapi. Ia adalah tentang pertemuan, tentang rindu yang terbayar, dan tentang harapan yang kembali dikuatkan.

Semoga dari pertemuan ini, tali silaturahmi tetap terjaga. Ukhuwah semakin erat, dan para dai terus melangkah dengan keyakinan—meneguhkan dakwah demi kedaulatan Indonesia.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *