Oleh: Sadidatul Azka, Da’iyah Pengabdian Akademi Da’wah Indonesia Jawa Timur
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ramadhan datang setiap tahun seperti tamu istimewa yang selalu dinantikan. Ia membawa suasana yang berbeda: masjid lebih ramai, doa-doa lebih panjang, dan hati terasa lebih lembut dari biasanya. Di bulan ini, kita belajar menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun sejatinya, Ramadhan tidak hanya mengajarkan tentang menahan perut dari makanan dan minuman. Ia juga mengajarkan kita untuk menahan amarah, menjaga lisan, menundukkan hawa nafsu, dan mengendalikan berbagai keinginan yang seringkali sulit dibendung.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput kita renungkan: bagaimana ketika Ramadhan telah selesai?
Ramadhan amat singkat waktunya. Ia datang tanpa bisa kita tambah waktunya, dan ia juga pergi tanpa bisa kita tahan kepergiannya. Bagi sebagian orang, kedatangannya disambut dengan penuh suka cita. Ada yang menghias hari-harinya dengan ibadah, memperbanyak tilawah, dan memperindah malam dengan doa-doa. Namun ada pula yang menyambutnya biasa saja, bahkan ada yang tidak merasakan apa-apa ketika bulan suci itu datang.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengabarkan keistimewaan bulan ini dalam sebuah hadits:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.” (HR. Ahmad).
Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan. Di dalamnya, banyak hal terasa lebih mudah dilakukan. Hati terasa lebih ringan untuk bersedekah, langkah terasa lebih cepat menuju masjid, dan waktu terasa lebih berharga untuk diisi dengan kebaikan. Suasana yang penuh dengan ibadah, ditambah lingkungan dan teman-teman yang sama-sama bersemangat dalam kebaikan, seringkali menjadi dorongan besar bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik.
Ramadhan seolah mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa waktu itu terbatas. Hanya satu bulan dalam satu tahun. Karena itu, setiap detiknya terasa begitu berharga.
Maka ketika Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah, janganlah kita menundanya. Bersegeralah menuju kebaikan, sebelum kesempatan itu berlalu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133).
Ramadhan bukan sekadar bulan untuk memperbanyak ibadah sementara, lalu kembali seperti semula setelah ia berlalu. Ramadhan sejatinya adalah madrasah—tempat kita dilatih untuk memperbaiki diri, menata niat, dan membiasakan diri dengan kebaikan.
Almarhum Ustadz Jefri Al-Bukhori pernah berkata:
“Jika semua ibadah hanya karena Ramadhan, sungguh ia telah pergi berlalu. Tapi jika semua karena Allah, maka takkan ada yang berubah meskipun Ramadhan itu pergi.”
Kata-kata itu mengingatkan kita pada satu hal yang sangat mendasar: tentang niat. Apakah kita beribadah karena suasana Ramadhan, atau karena Allah semata?
Maka renungkanlah sejenak. Sudah benarkah niat kita dalam setiap amal yang dilakukan di bulan suci ini?
Semoga Allah senantiasa menjaga langkah kita dalam kebaikan. Setiap amal yang kita lakukan di bulan Ramadhan tidak berhenti ketika bulan itu pergi. Mudah-mudahan Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun yang akan datang—dalam keadaan yang lebih baik, lebih kuat imannya, dan lebih dekat kepada-Nya daripada Ramadhan tahun ini.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
