Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Jangan pernah marah jika keburukan kita disebutkan oleh orang. Tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal, selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang indah dalam rupa, tapi ada kekurangan dalam gaya bicara, bagus dalam penguasaan ilmu, tapi tidak mampu menguasai emosi dan mudah tersinggung, kuat di satu sisi, tapi lemah di sudut yang lain.
Membicarakan orang lain selalu tampak indah bagi kita untuk dinikmati, membuat kita enggan membiarkannya berlalu begitu saja, tanpa mencicipinya untuk menilai, membicarakan dan menyebarkannya. Siapapun kita, seringkali terjebak pada “kenikmatan” ini. Kejiwaan manusia memang lebih mudah menyalahkan dan menilai, daripada disalahkan dan dinilai, bahkan oleh dirinya sendiri, apalagi oleh orang lain.
Pada dasarnya diharamkan bagi seorang Muslim mengungkapkan ‘aib’ saudaranya, karena ini termasuk ke dalam perbuatan ‘ghibah’, yaitu mengungkapkan aib saudaranya sesama Muslim pada saat orang itu tidak ada dihadapannya dan saudaranya itu tidak menyukainya jika berita tersebut sampai kepadanya tanpa adanya suatu keperluan. Oleh karena itu, para Ulama mengharamkan ghibah ini jika dilakukan tanpa adanya suatu kepentingan bahkah termasuk ke dalam kategori dosa besar,”
Jika mereka membicarakan kejelekan kita, ada dua keuntungan besar yang bisa dinikmati.
- Mendapatkan Transfer Pahala dan Pengurangan Dosa (Transfer Kebaikan)
Orang yang aibnya disebarkan (korban ghibah) akan mendapatkan kiriman pahala kebaikan dari orang yang menyebarkan aibnya (pelaku ghibah) pada hari kiamat kelak. Jika pelaku tidak memiliki amal kebaikan lagi, maka dosa-dosa korban akan ditanggung oleh pelaku ghibah, dan pelaku langsung di dorong ke Neraka. - Penghapusan Dosa dan Penggugur Kesalahan.
Rasa sakit, malu, dan kesabaran saat aibnya disebarkan dapat menjadi penggugur dosa-dosa orang tersebut di dunia. Musibah ini bisa menjadi ujian yang meningkatkan derajatnya di sisi Allah SWT jika disikapi dengan sabar, introspeksi diri, dan bertaubat
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat:12).
Jika, yang dibicarakan itu kebenaran yang ada di kita, itu jadi ghibah. Tapi jika yang mereka katakan salah, akan menjadi fitnah.
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749
Nggak usah sedih nggak usah sakit hati ketika keburukan-keburukan kita dibicarakan orang. Justru kita akan untung, dan mereka akan rugi.
Bersyukurlah ketika di ghibah
Orang yang beriman menyadari bahwa segala sesuatu kebaikan, rezeki, kesehatan, dan bahkan ujian, berasal dari Allah.
Dengan bersyukur, seorang Muslim menunjukkan pengakuan atas keesaan Allah dan kepercayaannya pada takdir yang telah ditentukan.
Jika bersabar, dan mampu memaafkan
tentu surga balasannya. Dan transferan pahala dari mereka yang menggunjing dan membicarakan aib kita.
Banyak dari kita di belakang membicarakan orang dengan begini. Ah nggak apa-apa, yang penting yang kita bicarakan suatu kebenaran.
Meskipun kebenaran yang dibicarakan, selagi yang dibicarakan nggak ada di depan mata kita, itu termasuk kategori ghibah.
Hasan Al-Bashri mendengar kalau dirinya dighibahi orang, sepontanitas beliau mengirim satu kotak kurma basah ke orang itu, beliau mengatakan,
بلغني أنك أهديتَ إليَّ حسناتِك، فأردتُ أن أكافئك عليها، فاعذرني، فإني لا أقدر أن أكافئك بها على التمام
Saya dapat info bahwa anda telah menghadiahkan pahalamu untukku. Maka saya ingin untuk membalasnya kepadamu. Mohon maaf, saya tidak mampu memberikan balasan yang setimpal. (Tanbih al-Ghafilin, 1/176
Ada orang yang mengatakan kepada Fudhail, ‘Si A telah meng-ghibahmu.’ Lalu Fudhail bin Iyadh mengatakan,
قد جلب لك الخير جلبًا
Berarti dia telah memberikan pahala untukku. (Hilyah al-Auliya, 8/108)
Nah kita tau bahayanya ghibah kan? Segala amal baik kita yang sudah terkumpul akan berpindah pada orang yang kita ghibahi.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
