MUKJIZAT ANGKA 19 DALAM SURAT AL MUDDATSTSIR

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَؕ‏
Diatasnya ada sembilan belas Malaikat penjaga. Qs.Al MUDDATSTSIR 30.

AL-QUR’AN merupakan mukjizat yang terbesar, karena kemukjizatan Al-Quran berlaku sepanjang masa, tidak hilang kemukjizatan Al-Quran dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan mukjizat-mukjizat lain seperti Tongkat Nabi Musa, hilang kemukjizatannya dengan wafatnya Nabi Musa, sehingga kita tidak pernah mendengar ada orang yang berburu Tongkat Nabi Musa, sebab kalau-pun ditemukan dia tidak bernilai mukjizat lagi. Berbeda dengan Al Qur’an, mukjizat Al Qur’an sampai sekarang masih diburu dan diteliti, sehingga banyak penemuan mukjizat Al Qur’an di akhir akhir ini.

Mukjizat angka 19 dalam Al Qur’an khususnya di Surat Al-Muddatstsir ayat 30–31, yang kemudian muncul angka 19. Membuat para ilmuan untuk mengadakan penelitian mendalam tentang rahasia angka 19.

Angka 19 dalam Al-Quran, khususnya yang disebutkan dalam Surah Al-Muddaththir ayat, 30-31, sering dikaitkan oleh para peneliti dengan sebuah pola numerik kompleks yang menunjuk pada struktur matematis atau “kesadaran ilmiah” yang mendalam.

Rashad Khalifa, berpendapat bahwa pola berbasis angka 19 ini berfungsi sebagai bukti matematis kepengarangan ilahi, Al-Quran yang melampaui kemampuan manusia pada masa wahyu diturunkan.

Berikut poin utama yang terkait angka 19 dan hubungannya dengan kesadaran ilmiah/matematis dalam Al-Quran. Pernyataan dalam Al-Quran: Angka 19 secara eksplisit disebutkan dalam Surah Al-Muddaththir ayat 30″Di atasnya ada sembilan belas (malaikat)”. Ayat 31 kemudian menegaskan bahwa angka ini adalah ujian bagi orang – orang kafir dan untuk meyakinkan orang – orang beriman.

Ini menunjukkan bahwa sejak awal wahyu

  1. Membangun kesadaran ilmiah
    Mukjizat Angka 19″, merujuk pada pola matematis kompleks yang ditemukan dalam struktur teks Al-Qur’an. Temuan ini membangun kesadaran ilmiah dengan menunjukkan bahwa keteraturan angka ini mustahil dibuat oleh manusia 1500 tahun yang lalu, sehingga menguatkan asumsi bahwa Al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang terjaga keasliannya melalui sistem angka.
  2. Menyediakan verifikasi internal.
    Al-Qur’an sering disebut sebagai kode matematis atau mukjizat numerik yang menyediakan verifikasi internal, menunjukkan keteraturan struktur Al-Qur’an yang konsisten dan sulit dibuat oleh manusia. Penelitian ini awalnya dipopulerkan oleh Rashad Khalifa, yang menemukan bahwa banyak komponen dalam Al-Qur’an memiliki kelipatan angka 19.
  3. Menjaga integritas struktur

Menurut KH.Marzuki Mustamar, mantan Ketua PW NU Jatim, mengatakan jumlah huruf dalam surat al-Fatihah ada 152. Lalu, 152 sama dengan 19 kali 8. Begitu juga di dalam surat Thaha. Huruf tha dan ha dalam surat Thaha jumlahnya ada 171, sama dengan 19 kali 9. Kemudian surat Yasin mengapa diawali dengan ya dan sin, karena jumlah huruf ya dan sin dalam surat ini jumlahnya 133, sama dengan 19 kali 7. “Jumlah surat dalam Al-Qur’an adalah 114 surat. 114 sama dengan 19 kali 6. Jumlah kalimat Allah dalam Al-Qur’an adalah 2698, sama dengan 19 kali 142. Lalu, jumlah kalimat Ar-Rahman dalam Al-Qur’an ada 57, sama dengan 19 kali 3. Kitab suci manapun tidak mungkin angkanya.

Peradaban Qur’ani dibangun bukan hanya atas iman, tetapi juga atas struktur yang terjaga.

Peradaban Qurani yang ideal memang tidak hanya tegak di atas fondasi iman (akidah), tetapi juga ditopang oleh struktur yang kokoh, sistematis, dan terintegrasi. Iman berfungsi sebagai ruh atau akar, sedangkan struktur adalah tubuh atau sistem yang mengatur kehidupan manusia.

Struktur dalam peradaban Qurani mencakup aspek hukum, sosial, ekonomi, dan pendidikan yang diatur berdasarkan wahyu untuk mewujudkan kemaslahatan (rahmatan lil ‘alamin).

Struktur aqidah/Iman Sebagai landasan utama yang mengarahkan manusia kepada tauhid.

Struktur Syariat/Hukum, Aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Ini mencakup tatanan hukum yang adil, bukan sekadar nilai moral.

Struktur Sosial dan Kemasyarakatan
Khalifah (Pemberdaya Bumi), Manusia bertugas memakmurkan bumi, mengelola sumber daya, dan menjaga lingkungan (ekosistem) sebagai amanah.

Ukhuwah dan Toleransi, Membangun kebersamaan dalam keragaman, sebagaimana diterapkan di Madinah, di mana berbagai golongan hidup damai.

Keadilan Sosial, Menghapus kesenjangan melalui mekanisme seperti zakat, infak, dan sedekah, serta melarang riba yang menyengsarakan

Struktur Pendidikan dan Keilmuan

Struktur pendidikan Qurani adalah sistem komprehensif yang mengintegrasikan aspek ilahiyah (ketuhanan) dan insaniyah (kemanusiaan) untuk membentuk insan kamil (manusia paripurna). Berbasis pada Al-Qur’an dan Sunnah, strukturnya meliputi tujuan mulia, kurikulum berbasis karakter, metode keteladanan/pembiasaan, serta keseimbangan jasmani-rohani.

Integrasi Ilmu, Peradaban Qurani mendorong pencarian ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun sains, dengan berlandaskan pada tauhid.

Tujuan Pendidikan, Membentuk pribadi muslim Kaffa seutuhnya, mengembangkan potensi jasmani-rohani, serta mengantarkan manusia menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah Allah (menjaga takwa, ikhlas, syukur).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *