MEMAKNAI BUKA PUASA

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih).

وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَحَبُّ عِبَادِي إلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا
Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Hamba yang paling dicintai di sisi-Ku adalah yang menyegerakan waktu berbuka puasa.”

Puasa melatih jiwa, dan berbuka adalah hadiah bagi mereka yang setia dalam ketaatan. Setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga, mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, momen berbuka puasa selalu menghadirkan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di balik rasa segar yang membasahi kerongkongan, ada ruang spiritual yang sangat berharga untuk kita isi dengan syukur dan doa.

وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ‌ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” QS. Ibrahim 7

Penting bagi kita menyadari bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik, melainkan momentum emas agar doa-doa kita menembus langit artinya diterima Allah Subhanahu wata Allah. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Doa mereka diangkat ke atas awan dan pintu-pintu langit dibukakan untuknya.” (HR. Tirmidzi No. 2449)

Doa Berbuka yang Dianjurkan

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menganjurkan pembacaan doa yang bersumber dari hadis sahih berikut:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Artinya: “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat (kerongkongan), dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud No. 2010)_

Sebelum atau Sesudah Makan?

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) pada bab sahur dan berbuka, disebutkan bahwa doa tersebut idealnya dibaca sesudah kita membatalkan puasa. Namun, mengingat hakikat doa adalah permohonan dan harapan, tidak ada salahnya jika doa tersebut dipanjatkan sesaat sebelum berbuka.

Perbedaan pendapat ini muncul karena penggunaan kata kerja bentuk lampau (fi’il madhi) dalam redaksi doa tersebut.

Sebagian ulama menafsirkannya secara tekstual (setelah kejadian), sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk harapan yang pasti akan terjadi. IniHingga kini, memang belum ditemukan petunjuk absolut apakah Nabi Muhammad SAW membacanya tepat sebelum atau sesudah menyentuh hidangan.

Apapun pilihannya, yang utama adalah menghadirkan hati yang ikhlas. Sebab, di setiap tetes air yang kita minum saat berbuka, ada janji pahala yang sedang ditetapkan-Nya.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *