PENDIDIKAN KARAKTER MASA RASULULLAH

Oleh Djuwari Syaifudin, Wasek Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya — Sekarang ini, lembaga pendidikan di Indonesia, baik umum maupun khusus (Islam) menampakan visi misinya dengan “PENDIDIKAN KARAKTER” untuk menggaet wali murid supaya menyekolahkan anaknya di lembaga tersebut. Nah sekarang apa karakter itu ?. Dalam pendidikan Islam para ulama menyebutnya “Akhlaq”. Mahmudah maupun Madmumah. Baginda Rasûlullâh menyebutnya dengan Akhlak
” إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ”
“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. HR. Thirmidzi

Karakter menurut para ahli.
Karakter, sebuah nilai yang sudah tertanam di dalam diri sendiri. Nilai tersebut didapat melalui Pendidikan, pengorbanan, percobaan, pengalaman dan pengaruh lingkungan yang mana kemudian dipadukan dengan nilai-nilai yang terdapat pada seseorang. Nilai-nilai tersebut menjadi nilai intrinsik yang mendasari sikap, perilaku, dan pemikiran seseorang. Soemarno Soedarsono.

Maxwell, karakter bukan hanya tentang baik atau buruk. Lebih dari itu, karakter merupakan sebuah pilihan yang bisa menentukan sukses atau tidaknya seseorang. Maxwell mengungkapkan bahwa karakter berkaitan dengan proses belajar seseorang dan kemampuan menghadapi proses tersebut menjadi penentu tingkat keberhasilannya.

Wayn, karakter berkaitan dengan teknis dan cara yang digunakan untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan ke dalam sebuah tingkah laku maupun tindakan. Oleh karena itu, menurut Wayn karakter diperoleh dari nilai-nilai atau pandangan seseorang yang diwujudkan ke dalam bentuk tingkah laku.

Dalam Islam para ulama menyebutnya dengan Akhlaq, dari sekian ulama yang mendefinisikan Akhlaq, kita tampilkan 2 ulama dari sekian tokoh yang ada.

Imam Al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan. Ini merupakan kondisi batin atau keadaan jiwa (hay’ah) yang stabil, yang darinya muncul tindakan baik (mahmudah) atau buruk (madzmumah) secara konsisten.

Ibnu Miskawaih, adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan secara spontan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Akhlak terbagi menjadi yang berasal dari watak asli (fitrah) dan hasil pembiasaan (latihan), serta berorientasi pada kebahagiaan sejati (sa’ādah) melalui keseimbangan jiwa.

Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata,

فَقُلتُ : يَا أُمَّ المُؤمِنِينَ ! أَنبئِينِي عَن خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَت : أَلَستَ تَقرَأُ القُرآنَ ؟ قُلتُ : بَلَى .قَالَت : فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ .قَالَ : فَهَمَمْتُ أَن أَقُومَ وَلَا أَسأَلَ أَحَدًا عَن شَيْءٍ حَتَّى أَمُوتَ …الخ رواه مسلم (746)

“Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahulah aku tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!” Aisyah bertanya, ‘Bukankah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.” Kemudian aku hendak berdiri dan tidak bertanya kepada siapapun tentang apapun hingga aku mati…” (HR. Muslim, no. 746).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ – ٢١

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Melihat Kesempurnaan Akhlak Rasulullah SAW, Semangkuk Anggur, Seorang lelaki miskin datang dari desa membawa semangkuk penuh buah anggur yang hendak dihadiahkan kepada Rasulullah SAW. Lelaki miskin itu sangat antusias memberikan hadiah untuk Nabi Muhammad.

Ketika ia sudah berjumpa dengan Rasul, ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, terimalah hadiah kecil ini dariku.” Rasulullah kemudian mengambil mangkuk berisi anggur tersebut, lantas memakannya. Beliau memakan satu butir buah anggur kemudian tersenyum, diikuti buah kedua, dan beliau tetap tersenyum. Melihat senyum di wajah Nabi, lelaki miskin itu terlihat begitu bahagia.

Ia senang melihat anggur yang disimpannya itu dinikmati oleh Rasulullah. Rasulullah saat itu tidak sendirian, beliau bersama para sahabat.

Namun Rasulullah tidak membagi buah anggur itu kepada para sahabat. Padahal biasanya Rasulullah SAW selalu berbagi makanan yang dimiliki. Hal itu sontak membuat sahabat merasa heran. Nabi, satu per satu, melahap sendiri buah anggur tersebut sampai tak terasa semangkuk yang mulanya penuh dengan anggur itu habis.

Tanpa mempedulikan kebingungan para sahabat, lelaki miskin itu memasang wajah girang karena hadiahnya habis dimakan Rasulullah. Kemudian, ia berpamitan kepada Rasulullah. Setelah itu, salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa Anda tidak mengajak kami menyantap anggur itu bersamamu?” Maka Rasulullah SAW tersenyum dan berkata: “Tidakkah kalian lihat betapa bahagianya ia dengan mangkuk (anggur) itu? Ketahuilah ketika aku memakannya, anggur itu terasa asam. Maka aku khawatir apabila aku membaginya kepada kalian, maka kalian akan menampakkan reaksi yang akan merusak kebahagiaannya“.

Bangunan pendidikan karakter Rasûlullâh, menuju pada keteladanan uswah Hasanah, bangunan yang tak tergoyahkan ribuan tahun masih kokoh sampai sekarang, jejak digital yang dibangun para sahabat merupakan warisan tak ternilai harganya.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *