TADABBUR SURAT AL-WAQI’AH —AYAT 41–45

KETIKA KENIKMATAN BERUBAH MENJADI BELENGGU

Oleh Masykur Sarmian, Alumni Ponpes YTP Kertosono

Dewandakwahjatim.com, Kalimantan Timur – – Setelah menggambarkan kemuliaan Ashab al-Yamin, Surat Al-Waqi’ah membawa kita kepada kelompok yang berlawanan : Ashab asy-Syimal. Allah berfirman :

QS. Al-Waqi’ah Ayat 41–44

وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ ۝ فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ ۝ وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ ۝ لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ

“Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Mereka berada dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak pula menyenangkan.”
—QS. Al-Waqi’ah : 41-45

Penjelasan Tematik

Gambaran ini memperlihatkan sebuah ironi yang sangat dalam. Manusia sepanjang hidup mengejar kenyamanan, kesejukan dan kenikmatan. Tetapi ketika kenyamanan dijadikan tujuan hidup dan membuat manusia berpaling dari Allah, sesuatu yang dahulu dikejar justru tidak mampu menyelamatkannya.

Kemudian Allah mengungkap sebabnya :

QS. Al-Waqi’ah Ayat 45

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ

“Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup dalam kemewahan.”

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Al-Mutrafīn tidak berarti sekadar orang kaya. Kekayaan bukan dosa dan kemewahan tidak otomatis menjadikan seseorang tercela. Para sahabat pun ada yang kaya, tetapi kekayaan mereka tunduk kepada Allah.

Musthafa Al-Maraghi dalam tafsirnya Al-Maraghi menjelaskan al-mutrafīn sebagai :

مُنَعَّمِينَ مُقْبِلِينَ عَلَى لَذَّاتِ أَنْفُسِهِمْ، لَا يَلْوُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا جَاءَ بِهِ الرُّسُلُ

Yakni, mereka adalah orang-orang yang hidup dalam kenikmatan, menghadap kepada kesenangan diri mereka sendiri dan tidak lagi mempedulikan apa yang dibawa oleh para rasul.

Jadi persoalannya bukan berapa banyak yang dimiliki, tetapi siapa yang menguasai hati.

Seseorang boleh kaya, tetapi jika hartanya membuatnya semakin bersyukur, semakin dermawan dan semakin taat, ia tidak termasuk muthraf dalam pengertian yang tercela. Sebaliknya, seseorang bisa saja tidak kaya, tetapi jika seluruh orientasi hidupnya hanya mengejar kesenangan diri dan tidak peduli kepada petunjuk Allah, ia dapat terkena penyakit taraf.

Inilah makna yang sangat dalam dari ungkapan Al-Maraghi : مُقْبِلِينَ عَلَى لَذَّاتِ أَنْفُسِهِمْ — mereka menghadap kepada kenikmatan dirinya sendiri. Seluruh orientasi hidup berputar pada “apa yang saya inginkan, apa yang membuat saya nyaman, apa yang membuat saya senang.” Ketika keinginan diri menjadi pusat kehidupan, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk menoleh kepada kebenaran.

Karena itu frasa berikutnya jauh lebih mengkhawatirkan :

لَا يَلْوُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا جَاءَ بِهِ الرُّسُلُ

Mereka tidak lagi mempedulikan apa yang dibawa para rasul.

Inilah tragedi sebenarnya. Kenikmatan telah membuat mereka tidak lagi membutuhkan petunjuk. Ketika wahyu berbenturan dengan hawa nafsu, mereka memilih hawa nafsu. Ketika agama menuntut pengorbanan, mereka memilih kenyamanan. Ketika Rasul membawa aturan yang membatasi kesenangan, mereka berpaling.

Karena itu mutraf bukan sekadar orang yang menikmati nikmat, tetapi orang yang telah diperbudak oleh nikmat.

Dan ayat berikutnya memperlihatkan akibatnya :

QS. Al-Waqi’ah Ayat 46

وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ

“Dan mereka terus-menerus melakukan dosa besar.”

Maka rangkaian ayat ini seperti sebuah perjalanan jiwa : kenikmatan yang tidak dikendalikan —> hawa nafsu menjadi pusat kehidupan —> tidak peduli kepada petunjuk —> terus-menerus dalam dosa —> akhirnya kehilangan kesadaran tentang akhirat.

Munasabah dan Penguatan dalil

Firman Allah SWT :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
—QS. Al-Hadid Ayat 20

Kemudian Allah menggambarkan dunia seperti tumbuhan yang tumbuh subur, lalu mengering dan akhirnya menjadi sesuatu yang hancur.

Hubungannya dengan Al-Waqi’ah sangat indah : Al-Waqi’ah menunjukkan akibat ketika manusia tenggelam dalam kenikmatan; Al-Hadid menjelaskan hakikat kenikmatan dunia yang memang sementara.

Karena itu masalahnya bukan memiliki dunia, tetapi tertipu oleh dunia.

Penguatan dengan QS. Al-Qashash Ayat 76–77

Kisah Qarun memberikan contoh nyata tentang taraf dalam kehidupan manusia. Allah menyebut :

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka.”

Qarun diberi kekayaan yang sangat besar, tetapi kekayaan itu tidak membuatnya tunduk. Ketika dinasihati agar menggunakan karunia Allah untuk mencari negeri akhirat, ia justru menjawab :

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”

Di sini kita melihat perbedaan antara nikmat dan taraf. Nikmat membuat manusia berkata, “Allah yang memberi.” Sedangkan taraf membuat manusia merasa, “Aku yang memiliki dan aku yang pantas menikmatinya.”

Penguatan dengan QS. At-Takatsur

Surat At-Takatsur juga menjadi pasangan yang sangat kuat :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Perhatikan kata أَلْهَاكُم — telah melalaikan kalian.

Bukan harta yang secara otomatis menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah harta dan kenikmatan yang membuat manusia lalai.

Ini sangat dekat dengan muthrafīn dalam Al-Waqi’ah : kenikmatan yang semestinya menjadi sarana syukur berubah menjadi sesuatu yang menghalangi manusia dari tujuan hidup.

Penguatan dari hadits Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW juga memberikan ukuran yang sangat jelas tentang hakikat kekayaan :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi penyeimbang yang sangat penting. Islam tidak memusuhi kekayaan. Yang ingin dibangun adalah jiwa yang tidak diperbudak oleh kekayaan.

Dengan demikian, QS. Al-Waqi’ah 45 tidak layak dijadikan dalil untuk mengatakan bahwa orang kaya pasti tercela. Justru ayat ini mengajarkan etika kekayaan : nikmat boleh besar, tetapi hati harus tetap tunduk kepada Allah.

Benang Merahnya

Jika seluruh dalil tersebut dirangkai, pesan QS. Al-Waqi’ah ayat 41–45 menjadi sangat kuat :

“Bukan kemewahan yang menghancurkan manusia, tetapi kemewahan yang membuatnya lupa kepada Allah. Bukan banyaknya harta yang menjadi masalah, tetapi ketika harta membuat seseorang tidak lagi peduli kepada kebenaran. Bukan menikmati dunia yang dilarang, tetapi ketika dunia membuat manusia kehilangan orientasi akhirat”.

Dan di sinilah al-muthrafīn menjadi cermin bagi siapa pun, kaya ataupun tidak. Pertanyaan terbesarnya bukan “Seberapa banyak nikmat yang Allah berikan kepadaku ?”, tetapi :

“Setelah begitu banyak nikmat Allah berikan, apakah aku semakin dekat kepada-Nya—atau justru semakin sulit menoleh kepada apa yang dibawa oleh para rasul ?”

Itulah munāsabah terdalam QS. Al-Waqi’ah ayat 41–45 : Allah tidak hanya memperlihatkan ke mana mereka berakhir, tetapi juga menunjukkan dari mana kerusakan itu bermula—ketika kenikmatan tidak lagi menjadi sarana menuju Allah, melainkan menjadi pusat kehidupan.

Pelajaran Kehidupan

Inilah pelajaran penting bagi kita. Islam tidak melarang kita menikmati kehidupan. Yang dilarang adalah ketika kehidupan yang nyaman membuat kita lupa kepada tujuan kehidupan.

Allah berfirman :

QS. Al-A’raf Ayat 32

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik ?”

Renungan Peradaban

Maka bukan kekayaan yang harus kita takuti, tetapi ketika kekayaan menguasai hati. Bukan kenyamanan yang berbahaya, tetapi ketika kenyamanan membuat kita tidak sanggup berkorban. Bukan dunia yang harus dibenci, tetapi ketika dunia membuat kita tidak lagi menoleh kepada akhirat.

Dan barangkali inilah pertanyaan yang paling layak kita bawa dari QS. Al-Waqi’ah Ayat 45 :

“Apakah aku sedang menikmati nikmat Allah, atau jangan-jangan aku sedang diperbudak oleh nikmat Allah ?”

Sebab pada hari Al-Waqi’ah, seluruh kemewahan akan kehilangan daya. Yang tersisa bukan apa yang kita miliki, melainkan siapa diri kita di hadapan Allah.

Itulah hari ketika semua topeng terlepas.

Wallāhu A’lam

Bersambung…

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *