Membongkar Jebakan Metrik Industri, Mengembalikan Jiwa dan Hakikat Adab ke Jantung Pendidikan Nasional
By Redaksi
Dewandakwahjatim.com, Depok– Sebuah paradoks besar sedang mencengkeram wajah pendidikan nasional hari ini. Di satu sisi, sekolah dan perguruan tinggi berpacu memamerkan ekspansi cabang, memperebutkan peringkat global, memamerkan gedung megah berpendingin udara, dan membanggakan persentase lulusan yang terserap di kampus-kampus tersohor dunia atau pasar kerja bergaji selangit. Di sisi lain, sebuah pemandangan getir terus berulang di hadapan mata: generasi muda kian rapuh menghadapi kecemasan hidup, tercerabut dari akar spiritualitas, bahkan tata krama paling mendasar di rumah ibadah pun kian terkikis.
Fenomena inilah yang memantik kegelisahan mendalam bagi cendekiawan dan tokoh pendidikan Islam, Dr. Adian Husaini. Dalam sebuah ruang dialog intensif bersama para praktisi, akademisi, dan pengelola lembaga pendidikan dari berbagai penjuru tanah air, Adian secara resmi mendeklarasikan inisiatif strategis: Gerakan Nasional Pendidikan Bermutu. Langkah ini merupakan gugatan terbuka terhadap arus utama standardisasi pendidikan modern yang dinilainya telah kehilangan jiwa dan terjebak dalam jebakan metrik industrial yang kering nilai.
Bagi Adian, krisis yang dihadapi bangsa saat ini bukan sekadar persoalan fasilitas fisik atau kecanggihan sarana laboratorium, melainkan keterjebakan pada bias definisi tentang apa yang sesungguhnya disebut sebagai “pendidikan bermutu”. Berangkat dari keresahan filosofis yang telah ia renungkan selama bertahun-tahun, gerakan ini digulirkan sebagai ikhtiar restorasi peradaban: melahirkan ekosistem pendidikan yang mandiri, berakar pada pandangan hidup Islam (Islamic worldview), serta bertumpu pada pembangunan jiwa manusia seutuhnya.
Jebakan Metrik: Pabrik Pendidikan dan Kompleks Rendah Diri
Kritik tajam Adian bermula dari fakta di lapangan akademis. Kerap kali keunggulan sebuah jurusan atau program studi di perguruan tinggi hanya diukur dari banyaknya jumlah peminat dan kapasitas tampung mahasiswa. Begitu pula ketika sebuah yayasan atau figur pendidikan dinilai sukses semata-mata karena berhasil mengekspansi sekolahnya menjadi puluhan cabang di berbagai kota.
Ukuran-ukuran kuantitatif semacam itu, menurut Adian, mencerminkan logika industri manufaktur dan omzet pabrik, bukan hakikat pendidikan sejati. Analoginya mirip dengan sebuah rumah makan ayam goreng legendaris di kawasan Gingsing, jalur pantura antara Semarang dan Tegal. Rumah makan tersebut termasyhur bukan karena memperbanyak cabang di segala penjuru, melainkan justru karena keteguhannya menolak membuka cabang demi menjaga orisinalitas cita rasa dan kualitas puncaknya. Pendidikan, yang hakikatnya merupakan penanaman nilai (inculcation of values) serta pembentukan karakter mulia, justru semakin berisiko mengalami penurunan mutu tatkala diproduksi massal tanpa ketersediaan pendidik-pendidik yang berkarakter kokoh.
Distorsi serupa merembes kuat ke tingkat kebijakan negara. Perburuan label world class university dan ambisi menembus peringkat seratus kampus terbaik dunia telah menjadi obsesi tersendiri. Adian mengamati bagaimana inisiatif prestisius seperti pembangunan sekitar 50 SMA Unggul Garuda—yang secara struktural diletakkan di bawah kementerian pendidikan tinggi dan sains demi mengejar target tembus ke universitas papan atas dunia—patut ditinjau ulang secara kritis.
Kendati mengumpulkan anak-anak cerdas dalam ekosistem unggul merupakan sebuah terobosan, muncul tanda tanya filosofis yang fundamental: mengapa generasi terbaik bangsa yang dibiayai mahal dari dana abadi negara justru disiapkan dan diserahkan sepenuhnya untuk dibentuk oleh kampus-kampus Barat? Tanpa adanya proteksi kurikulum nilai kebangsaan dan keimanan, bangsa ini hanya berperan sebagai pemasok bibit unggul yang dipanen oleh pihak asing. Bercermin pada pengalamannya merancang program kaderisasi ulama antara Dewan Dakwah dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Adian menegaskan bahwa kemitraan akademis semestinya tidak melepaskan kedaulatan kurikulum. Setidaknya sepertiga materi strategis, khususnya terkait pendidikan nilai, harus tetap dikawal sendiri demi menjaga arah kaderisasi kepemimpinan peradaban.
Ketergantungan pada standar luar juga terlihat dari kepanikan kolektif tatkala membaca laporan skor Programme for International Student Assessment (PISA). Indonesia kerap diratapi karena selalu terpuruk di bawah Singapura, Brunei Darussalam, atau Malaysia. Padahal, membandingkan Indonesia yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke dengan negara berpenduduk ratusan ribu jiwa seperti Brunei atau negara-kota berpenduduk enam juta jiwa seperti Singapura adalah kekeliruan metodologis yang fatal.
Adian menyepakati pandangan akademis kritis, seperti yang pernah dilontarkan akademisi ITS Profesor Daniel Mohammad Rosyid, bahwa skema pemeringkatan internasional kerap berujung pada perangkap inferioritas (inferiority complex). Standar-standar tersebut sering kali tidak relevan dengan kebutuhan hakiki bangsa dan hanya menempatkan negara berkembang dalam bayang-bayang rendah diri permanen.
Ketidakadilan Peradaban Materialisme: Dari Kognitif Murni ke Kebermanfaatan Hakiki
Akar dari seluruh kekacauan indikator ini bermuara pada adopsi nilai-nilai peradaban Barat modern yang materialistis. Dalam taksonomi kognitif modern, capaian tertinggi sering kali diletakkan pada puncak kemampuan berkreasi dan berinovasi (to create). Ukuran kemuliaan manusia direduksi semata-mata pada kepintaran intelektual, yang kemudian dikapitalisasi menjadi tumpukan kekayaan materi (wealth) dan akses kekuasaan politik (power).
Kriteria semacam ini, menurut Adian, sejatinya menyimpan ketidakadilan struktural. Kepintaran intelektual tingkat tinggi tidak dianugerahkan kepada setiap insan. Menjadikan kecerdasan otak sebagai satu-satunya tiket kemuliaan manusia berarti menutup pintu bagi mayoritas populasi yang diciptakan dengan kapasitas kognitif rata-rata. Padahal, dinamika peradaban manusia berjalan justru karena adanya keragaman potensi.
Adian menggarisbawahi ajaran kenabian yang meletakkan standar sejati seorang manusia bukan pada kecerdasan otaknya, melainkan pada tingkat kebermanfaatannya bagi sesama (khairunnas anfa’uhum linnas). Di era modern, kebermanfaatan pun kerap mengalami pendangkalan makna menjadi kontribusi finansial semata. Seseorang yang tekun menyapu jalanan atau perempuan sederhana yang mengabdikan hidupnya membersihkan masjid sering kali dipandang sebelah mata dalam kacamata modern, padahal di hadapan Rasulullah, profesi yang tulus menjaga kemaslahatan publik memiliki martabat yang begitu mulia.
Lebih memprihatinkan lagi ketika inovasi dan kepintaran justru melahirkan keserakahan. Tak sedikit temuan paten medis atau formula sains strategis yang kemudian diprivatisasi ke korporasi transnasional, dijual mahal, dan menjadi komoditas yang sulit dijangkau masyarakat miskin. Fenomena ini mengingatkan kembali pada peringatan bapak pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara, tentang bahaya sistem pendidikan Eropa yang mengagungkan kebendaan dan individualisme: melahirkan dua kutukan besar, yakni “kemurkaan benda” (materialisme) dan “kemurkaan diri” (individualisme).
Kekayaan dan kemiskinan pada hakikatnya hanyalah instrumen dan ujian kehidupan, bukan cerminan kesuksesan mutlak. Menilai keberhasilan sebuah institusi perguruan tinggi bergengsi semata-mata dari rata-rata gaji awal para lulusannya adalah bentuk pendangkalan martabat pendidikan. Pendidikan yang melupakan aspek jiwa akan melahirkan apa yang disebut oleh pemikir terkemuka Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai false leaders—para pemimpin palsu di berbagai level kepemimpinan yang minim integritas moral.
Rumusan Indikator Baru: Menegakkan Kembali Pembangunan Jiwa
Untuk membongkar kebuntuan tersebut, Dr. Adian Husaini melalui Gerakan Pendidikan Bermutu merumuskan sebuah peta indikator pendidikan bermutu alternatif yang utuh, kontekstual, dan berkeadilan. Indikator ini meramu fondasi spiritualitas dengan ketangguhan mental yang relevan menghadapi era disrupsi teknologi:
Fondasi ITA (Iman, Takwa, Akhlak Mulia): Tiga pilar ini merupakan fondasi yang tidak dapat ditawar. Menakar kesuksesan seorang manusia berarti mengukur kedekatan relasionalnya dengan Sang Pencipta. Mengutip pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, kemajuan yang sejati hanya bisa dicapai bila tujuannya bersifat permanen, dan tujuan yang tak pernah berubah bagi eksistensi manusia adalah Allah.
Syaja’ah (Keberanian) dan Hikmah (Kebijaksanaan): Di antara induk akhlak (ummahatul akhlak), keberanian memegang peran krusial di era banjir informasi. Hari ini, banyak generasi muda terjangkit penyakit jubun (kepengecutan dan ketakutan berlebih). Ada generasi yang takut menikah karena takut bercerai, takut memiliki keturunan sehingga memilih konsep tanpa anak (childfree), atau takut berdagang karena bayang-bayang kerugian. Pendidikan bermutu harus mengikis ketakutan eksistensial ini dan menggantinya dengan syaja’ah yang ditopang oleh hikmah—yakni keberanian yang dilandasi akal sehat, kearifan, dan perhitungan matang, bukan kenekatan tanpa arah.
Intelektual dan Keterampilan Terapan (Cerdas, Kreatif, Mandiri, dan Relevan): Keunggulan berpikir dan kreativitas diarahkan bukan sekadar untuk menumpuk ijazah atau mengejar gengsi administratif, melainkan kemampuan memecahkan masalah nyata di tengah masyarakat secara mandiri dan adaptif.
Indikator ini sejatinya selaras dengan mandat konstitusional dan amanat luhur lagu kebangsaan Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Jiwa harus dibangun terlebih dahulu melalui proses penyucian batin (tazkiyatun nafs). Jika pembangunan fisik—seperti jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan gedung-gedung megah—dijalankan di atas jiwa yang serakah, maka infrastruktur tersebut hanya akan menjadi sasaran empuk korupsi.
Di tengah disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), reposisi ini menjadi kian mendesak. Mesin dan algoritma kini mampu membaca ribuan artikel, merangkum konsep, mengolah logika kalkulasi, bahkan menulis naskah akademis dalam hitungan detik. Aspek kognitif teknis telah terambil alih. Satu-satunya ranah yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh robot adalah kehangatan pembinaan jiwa, keteladanan moral, serta kecintaan hakiki dalam beribadah.
Shalat sebagai Kurikulum Inti dan Pola Evaluasi Otentik
Bagaimana gagasan besar ini diterjemahkan ke dalam praksis pembelajaran di sekolah? Adian mengajukan sebuah terobosan yang mendasar namun aplikatif: menjadikan shalat dan penegakan adab sebagai kurikulum inti, bukan sekadar pelengkap atau kegiatan ekstrakurikuler.
Kerap terjadi anomali di berbagai institusi pendidikan Islam modern, di mana jam pelajaran bahasa asing atau mata uji skolastik diposisikan sebagai hal wajib utama, sementara pembiasaan ibadah dan pembentukan karakter diletakkan di pinggiran. Banyak anak bersekolah belasan tahun, namun saat berada di rumah ibadah mereka gaduh, tidak memahami adab dasar, dan terbiasa melalaikan shalat fardhu.
Adian menyandarkan metodologi kurikulumnya pada kerangka pakar pendidikan Islam terkemuka, Prof. Ahmad Tafsir, yang membedah pendidikan melalui empat tahapan terpadu: perumusan tujuan, penyusunan kurikulum, implementasi program, dan sistem evaluasi. Dalam hal capaian kompetensi, kurikulum semestinya diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan:
Kompetensi Dasar (Fardhu ‘Ain): Wajib dikuasai oleh seluruh peserta didik tanpa terkecuali, mencakup kebenaran akidah, tata cara wudhu, taharah, shalat yang benar, dan adab keseharian.
Kompetensi Umum: Keterampilan akademis dan keilmuan yang lazim dikuasai sesuai jenjang usia.
Kompetensi Unggulan: Ranah diferensiasi bakat individual yang unik bagi setiap anak, seperti kepemimpinan, hafalan Al-Qur’an, wirausaha, beladiri, sastra, atau keahlian mekanik terapan.
Dalam pola evaluasi, sistem penilaian kognitif formal berbasis hafalan kertas harus didekonstruksi. Shalat lima waktu, kejujuran harian, serta kepedulian sosial harus tertera secara nyata dalam rapor peserta didik. Evaluasi adab dilakukan melalui instrumen pemantauan terstruktur (mutaba’ah) yang sederhana, menguji kedisiplinan shalat Subuh, shalat berjamaah, dan doa harian. Bukan kerumitan beban administratif yang dikejar, melainkan pembiasaan yang tertanam kuat dalam kesadaran anak.
Pendidikan bukanlah arena perlombaan yang rumit jika para pendidik memiliki keberanian moral. Di perguruan tinggi sekalipun, ujian paling berharga bagi seorang sarjana Muslim sebelum dinyatakan lulus bukan semata-mata kepiawaian mempertahankan draf skripsi, melainkan apakah ia mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, memiliki komitmen menjaga shalat lima waktu, dan bertindak dengan kejujuran akademis.
Ekosistem Tiga Pilar: Orang Tua, Guru, dan Restorasi Masjid
Sebagus apa pun cetak biru sebuah kurikulum, ia akan mandek jika tidak disangga oleh ekosistem yang tepat. Mengutip petuah klasik Syaikh Az-Zarnuji, keberhasilan pendidikan bersandar pada harmoni tiga pilar: orang tua, peserta didik, dan pendidik yang saling menyokong serta saling mendoakan.
- Reorientasi dan Edukasi Orang Tua (Parenting)
Tanggung jawab utama pendidikan berada di pundak ayah dan ibu, bukan pada pihak sekolah. Kewajiban orang tua bukan sekadar mendaftarkan anak ke asrama mahal atau menyekolahkannya di institusi elite, melainkan mendidik keluarganya dari siksa api neraka sebagaimana amanat Surah At-Tahrim ayat 6.
Adian menyoroti ironi modernitas yang juga diakui oleh sejarawan Barat seperti Profesor Carroll Quigley dalam karyanya Tragedy and Hope. Quigley menyimpulkan bahwa kendati masyarakat Barat mencatat lonjakan gemilang di bidang sains, teknologi, dan ekonomi hingga mendekati impian menunda penuaan, peradaban modern telah gagal mendidik generasi mudanya menjadi orang tua yang matang dan bertanggung jawab (mature and responsible adults). Lembaga formal hanya giat mencetak tenaga kerja terampil, namun nihil dalam mempersiapkan calon suami yang berintegritas atau calon ibu yang cakap mendidik peradaban.
Akibatnya, angka kerapuhan mental anak melonjak dan grafik perceraian rumah tangga kian memprihatinkan. Mengobati kerapuhan psikologis dan resiliensi anak menuntut pembenahan pada diri orang tua terlebih dahulu. Oleh sebab itu, institusi pendidikan wajib menyelenggarakan program berkala “Pendidikan Guru Keluarga”, yang membekali para ayah dan ibu dengan fondasi cara pandang hidup Islam, pengenalan terhadap arus pemikiran kontemporer yang merusak akidah, serta kemampuan komunikasi batiniah bersama anak.
- Memuliakan Kualitas Pendidik
Dalam urusan investasi kelembagaan, alokasi pembiayaan terbesar tidak semestinya dihabiskan untuk kemegahan fisik bangunan atau pendingin ruangan, melainkan dialirkan untuk memuliakan dan merekrut guru-guru berkualitas tinggi. Mengambil ibrah dari pendirian International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Malaysia oleh Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, institusi bermutu lahir karena diisi oleh para begawan ilmu berdedikasi tinggi yang dihargai secara layak, kendati pada mulanya perkuliahan hanya menumpang di sebuah rumah kontrakan sederhana. Sarana prasarana fisik adalah faktor penunjang yang penting, namun jiwa keteladanan guru adalah instrumen utama yang mentransformasi peradaban.
- Masjid sebagai Universitas Masa Depan
Pilar ketiga yang tak kalah strategis adalah mengembalikan masjid ke jantung ekosistem pendidikan melalui gagasan “Universitas Masjid Indonesia”. Adian mengingatkan bahwa ketika Rasulullah mendirikan masjid di Madinah, fondasi yang dibangun terlebih dahulu selama belasan tahun di Makkah adalah manusianya—jiwa-jiwa yang tidak memiliki rasa takut kecuali kepada Allah dan siap memakmurkan rumah ibadah.
Hari ini, banyak masjid megah terjebak dalam rutinitas seremonial: mencari penceramah populer dari luar, memburu donasi tanpa arah peradaban, bahkan kerap menghalau anak-anak yang bermain di selasarnya. Sudah saatnya masjid bertransformasi menjadi pusat pengkaderan ulama, ruang pembinaan karakter anak muda, dan laboratorium kepemimpinan sosial yang aktif sepanjang waktu.
Optimisme Menatap Peluang Mandiri
Indonesia sejatinya memiliki modal historis dan yuridis yang luar biasa istimewa. Tidak seperti banyak negara lain di dunia Islam di mana pendidikan sepenuhnya dikendalikan negara secara seragam, ekosistem pendidikan Islam di Nusantara memiliki derajat otonomi yang sangat luas. Sebanyak 90 persen madrasah di Indonesia dikelola oleh swasta dan masyarakat, serta terdapat lebih dari 42.000 pondok pesantren yang hampir seluruhnya lahir dari denyut kemandirian umat.
Peluang emas ini tidak boleh disia-siakan dengan sekadar mengeluh, menuntut perombakan birokrasi pemerintah yang berbelit-belit, atau terus-menerus merasa takut pada bayang-bayang regulasi pengawas sekolah. Sejarah telah membuktikan, di bawah tekanan kolonialisme Belanda yang represif sekalipun, para ulama di masa lalu mampu merancang kurikulum pesantren yang mandiri, berjiwa merdeka, dan terbukti sukses melahirkan pahlawan-pahlawan bangsa serta pemimpin masyarakat yang relevan dengan zamannya.
Pemerintah mungkin memiliki prioritasnya sendiri dalam melahirkan sekolah-sekolah unggul berorientasi global. Namun, umat Islam memiliki panggilan sejarahnya sendiri untuk merajut ekosistem pendidikan yang kokoh, mandiri, dan berkarakter singa peradaban. Peluncuran Gerakan Pendidikan Bermutu Indonesia bukanlah angan-angan kosong; ia adalah agenda nyata yang dimulai dari langkah-langkah konkret: meluruskan niat para orang tua, menempatkan shalat dan adab sebagai kurikulum tertinggi, memuliakan para pendidik sejati, serta merevitalisasi masjid sebagai episentrum pembentukan manusia unggul demi keselamatan peradaban masa depan.
Inspirasi Video: https://www.youtube.com/live/kkZxtFtRATY?si=aCsWpXj7D51hJqCi
Sumber: adianhusaini.id
Adnin: Ko.minfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
