DAI DAN INSTING BERTANDING: Membangun Semangat Berlomba dalam Kebaikan (Fastabiqul Khairat)

Seorang da’i harus memiliki semangat juang dan insting bertanding dalam berdakwah. Bukan untuk mengalahkan atau menjatuhkan sesama, melainkan berlomba
menghadirkan kebaikan. Allah Swt. berfirman, “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” (QS. Al-Baqarah: 148). Kemenangan sejati seorang da’i bukan popularitas, melainkan keberhasilan membawa umat menuju kebaikan dan rida Allah Swt.

Oleh Kemas Adil Mastjik, Pengurus Dewan Da’wah Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Sutabaya – Seorang da’i bukan sekadar orang yang menyampaikan ajaran Islam melalui ceramah, khutbah, atau pengajian. Lebih dari itu, da’i adalah penggerak perubahan, nembangun kesadaran, dan teladan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, seorang da’i membutuhkan semangat juang yang tinggi, kreativitas, ketekunan, serta insting bertanding untuk menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan umat.


Insting bertanding dalam konteks dakwah bukanlah keinginan untuk mengalahkan
orang lain, apalagi menjatuhkan sesama pendakwah. Insting bertanding yang dimaksud
adalah semangat untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas dakwah, memperluas
manfaat, dan menjadi yang terdepan dalam melakukan kebajikan. Inilah semangat fastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan.


Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Artinya: “Dan bagi setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 14)

Ayat ini memberikan pesan penting bahwa kehidupan seorang Muslim harus diwarnai
semangat untuk menghasilkan karya dan prestasi dalam kebaikan. Bagi seorang da’i, pesan tersebut menjadi motivasi untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan, menyejukkan, dan memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Da’i Harus Memiliki Semangat Juang

Dakwah bukanlah pekerjaan yang selalu mudah. Seorang da’i menghadapi berbagai
tantangan, mulai dari keterbatasan sarana, perubahan pola pikir masyarakat, perkembanganteknologi, hingga persoalan sosial yang semakin kompleks.

Dalam situasi demikian, seorang da’i tidak boleh mudah menyerah. Ia harus memiliki
semangat juang untuk terus belajar, memperbaiki metode dakwah, dan mencari jalan terbaik agar pesan Islam dapat diterima dengan baik.

Insting bertanding mendorong da’i untuk bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah dakwah saya hari ini lebih baik daripada kemarin? Apakah ilmu saya bertambah? Apakah kehadiran saya memberikan manfaat bagi masyarakat? Apakah generasi muda semakin dekat dengan nilai-nilai Islam melalui pendekatan yang saya lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membangun kesombongan, melainkan untuk
menumbuhkan kesadaran akan pentingnya evaluasi dan peningkatan kualitas diri.
Da’i yang memiliki semangat juang tidak cepat puas dengan keberhasilan masa lalu. Ia
menjadikan keberhasilan sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik, sedangkan kegagalan
menjadi pelajaran untuk memperbaiki langkah berikutnya.

Berlomba dalam Kebaikan, Bukan Persaingan yang Tidak Sehat

Dalam kehidupan dakwah, terkadang muncul persaingan dalam menarik perhatian
jamaah, meningkatkan popularitas, atau memperluas pengaruh. Persaingan semacam ini perlu disikapi secara bijaksana.
Insting bertanding seorang da’i harus berlandaskan keikhlasan dan tanggung jawab. Ukuran keberhasilan dakwah bukan semata-mata banyaknya jamaah, tingginya popularitas, ataubesarnya jumlah pengikut di media sosial. Keberhasilan dakwah juga tercermin dalam
perubahan perilaku, meningkatnya kepedulian sosial, tumbuhnya akhlak mulia, dan semakin
kuatnya hubungan manusia dengan Allah Swt.
Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا الأَْعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa niat merupakan fondasi penting dalam setiap aktivitas,
termasuk berdakwah.
Karena itu, seorang da’i hendaknya tidak merasa terancam ketika pendakwah lain
memperoleh keberhasilan. Sebaliknya, ia perlu mengambil pelajaran, membangun kerja
sama, dan saling mendukung dalam meny

Jika seorang da’i berhasil membangun masyarakat yang religius, da’i lainnya semestinya ikut bergembira. Sebab, tujuan utama dakwah bukan memenangkan persaingan pribadi, melainkan mengantarkan manusia menuju kehidupan yang diridai Allah Swt.

Mengembangkan Kreativitas dan Profesionalisme Dakwah

Insting bertanding juga menuntut seorang da’i untuk terus mengembangkan kemampuan. Perubahan zaman mengharuskan dakwah dilakukan dengan pendekatan yang
relevan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Islam. Generasi muda, misalnya, membutuhkan pendekatan komunikasi yang sesuai dengan dunia mereka. Selain melalui pengajian dan ceramah, dakwah dapat dikembangkan melalui tulisan,
video edukatif, diskusi, kegiatan sosial, pendidikan, dan pemanfaatan media digital.
Seorang da’i perlu meningkatkan kemampuan berbicara, memperdalam ilmu agama,
memahami persoalan masyarakat, serta menguasai teknologi komunikasi secara bijaksana. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata yang memberikan solusi bagi kehidupan umat.

Menjadikan Prestasi sebagai Jalan Pengabdian

Insting bertanding yang sehat akan melahirkan produktivitas. Da’i terdorong untuk
membangun lembaga pendidikan, membina generasi muda, mendampingi masyarakat yang
membutuhkan, mengembangkan kegiatan pemberdayaan ekonomi, dan memperkuat
solidaritas sosial. Prestasi tersebut tidak harus selalu besar dan terlihat oleh banyak orang. Mengajarkan Al￾Qur’an kepada anak-anak, membimbing remaja menjauhi perilaku negatif, mendamaikan perselisihan, atau membantu keluarga yang mengalami kesulitan juga merupakan bentuk keberhasilan dakwah.
Yang terpenting adalah kesungguhan dalam beramal dan kebermanfaatan bagi sesama.

Kemenangan Sejati Seorang Da’i

Da’i dan insting bertanding merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan apabila
dilandasi keikhlasan, ilmu, dan akhlak mulia. Insting bertanding bukanlah ambisi untuk
mengalahkan sesama, melainkan dorongan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan
memberikan manfaat yang lebih luas.

Seorang da’i harus berani menetapkan tujuan, tekun memperjuangkannya, terbuka terhadap
evaluasi, dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan. Ia juga harus mampu
menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai ancaman.

Mari kita jadikan fastabiqul khairat sebagai semangat dalam berdakwah. Berlomba-lombalah dalam meningkatkan ilmu, memperbaiki akhlak, memperkuat persaudaraan, dan memberikan
pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Sebab, kemenangan sejati seorang da’i bukanlah ketika dirinya lebih terkenal daripada orang lain, melainkan ketika semakin banyak manusia memperoleh manfaat dari dakwahnya dan semakin dekat kepada Allah Swt. []

Admin: Kominfo DDll Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *