Ketika Nasab Harus Berujung pada Akhlak
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)”
Dewandajwahjstim.com,Surabaya – Belakangan ini pembicaraan tentang nasab kembali ramai di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Perdebatan mengenai silsilah keturunan Rasulullah ﷺ bahkan telah memasuki wilayah penelitian kitab-kitab nasab, kritik sejarah, hingga pembahasan genetika. Ada yang mempertahankan sebuah silsilah, ada yang mempertanyakannya, dan masing-masing menghadirkan argumen serta sumber yang mereka yakini. Perdebatan ilmiah tentu memiliki tempatnya. Nasab adalah bagian dari sejarah manusia dan klaim nasab memang semestinya dapat diteliti secara ilmiah. Namun, di tengah hiruk-pikuk perdebatan itu, ada pertanyaan yang barangkali jauh lebih penting bagi kehidupan seorang Muslim: setelah kita mengetahui dari siapa seseorang berasal, apakah kita sudah bertanya akan menjadi manusia seperti apa ia hidup?
Ada sebuah ungkapan Arab yang sangat masyhur:
لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ: هَذَا أَبِي
وَلَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ: هَا أَنَا
“Bukanlah seorang pemuda itu orang yang berkata, ‘Ini ayahku.’ Tetapi pemuda adalah orang yang berkata, ‘Inilah aku.’”
Ungkapan tersebut mengandung pesan sederhana tetapi sangat dalam. Seorang pemuda tidak seharusnya membangun harga dirinya hanya dari nama besar yang diwarisinya. Ia tidak hidup dari prestasi ayahnya, kemuliaan leluhurnya, ketenaran keluarganya, ataupun kebesaran nasabnya. Ia harus mampu menghadirkan kualitas dirinya sendiri. Bukan sekadar berkata, “Ini ayahku,” tetapi mampu mengatakan, “Inilah aku.”
Nasab menjawab pertanyaan “dari mana aku berasal?” Tetapi kehidupan menuntut manusia menjawab pertanyaan yang berbeda: “siapa aku?”
Islam tidak menafikan nasab. Al-Qur’an bahkan mengakui manusia memiliki bangsa, suku dan garis keturunan. Allah berfirman dalam QS. al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal. Akan tetapi ayat tersebut tidak berhenti pada identitas genealogis. Allah segera memberikan ukuran kemuliaan yang sesungguhnya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ,
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
Ayat ini memberikan batas yang sangat jelas. Nasab boleh menjadi identitas, tetapi nasab bukan ukuran final kemuliaan manusia di hadapan Allah. Seseorang boleh berasal dari keluarga yang mulia, tetapi ia tetap harus membangun ketakwaannya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang tidak mempunyai nasab yang dianggap istimewa tetap mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah.
Sebab nasab diwariskan, sedangkan takwa diperjuangkan.
Seorang anak tidak pernah memilih siapa ayahnya. Ia lahir ke dalam sebuah keluarga dan menerima nasab sebagai kenyataan yang telah ada sebelum dirinya hadir. Tetapi ia diberi pilihan untuk menentukan bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Ia dapat memilih menjadi jujur atau dusta, amanah atau khianat, rendah hati atau sombong, penyayang atau kasar, berilmu atau jahil, pembela kebenaran atau pengejar kepentingan diri.
Karena itu, ketika seseorang mengatakan, “Saya keturunan orang mulia,” pertanyaan berikutnya semestinya bukan hanya, “Benarkah nasab itu?” Pertanyaan yang juga harus muncul adalah, “Kemuliaan apa yang telah engkau warisi dalam akhlakmu?”
Jika seseorang benar-benar merupakan keturunan Rasulullah ﷺ, maka nasab itu semestinya tidak menjadi mahkota untuk menuntut penghormatan, tetapi menjadi amanah untuk menjaga kehormatan akhlak. Semakin tinggi seseorang mengaku hubungan genealogisnya dengan Rasulullah ﷺ, semakin tinggi pula tuntutan agar kehidupannya mencerminkan keteladanan beliau.
Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan umatnya dengan warisan berupa kebanggaan darah semata. Beliau meninggalkan tauhid, ilmu, amanah, keadilan, kasih sayang, keberanian, kesabaran dan akhlak mulia. Allah sendiri memuji beliau dalam firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4).
Maka ketika berbicara tentang kedekatan seseorang dengan Rasulullah ﷺ, jangan sampai perhatian kita hanya berhenti pada pertanyaan tentang hubungan darah. Ada pertanyaan yang jauh lebih menentukan kualitas keberagamaan seseorang: seberapa jauh akhlaknya mencerminkan akhlak Rasulullah ﷺ?
Seseorang mungkin mempunyai hubungan darah dengan orang saleh, tetapi belum tentu mewarisi kesalehannya. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki hubungan darah dengan seorang nabi dapat menjadi manusia yang sangat dekat secara spiritual karena iman, ketakwaan, ilmu, amal dan akhlaknya.
Di sinilah kita perlu membedakan antara warisan biologis dan warisan moral.
Warisan biologis berbicara tentang siapa leluhur kita. Warisan moral berbicara tentang nilai apa yang kita teruskan. Dan dalam perspektif agama, warisan moral inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama.
Polemik nasab tentu tidak harus dihentikan. Jika ada klaim keturunan, silakan diteliti. Kitab-kitab nasab dapat diperiksa, manuskrip dapat dibandingkan, sanad genealogis dapat ditelusuri, dan data ilmiah dapat dikaji dengan metodologi yang tepat. Kebenaran tidak perlu takut terhadap penelitian.
Tetapi jangan sampai penelitian terhadap nasab justru melahirkan fanatisme nasab. Jangan sampai orang yang mempertanyakan sebuah silsilah dianggap menghina agama, dan jangan pula orang yang memiliki nasab tertentu merasa otomatis lebih mulia daripada orang lain. Kedua sikap tersebut sama-sama berpotensi membawa manusia menjauh dari substansi ajaran Islam.
Sebab jika nasab menjadi alasan untuk merendahkan manusia lain, maka sesuatu yang semestinya menjadi amanah telah berubah menjadi kesombongan. Dan jika perdebatan tentang nasab membuat kita lupa kepada takwa dan akhlak, maka kita telah sibuk membicarakan cabang sementara kehilangan akar.
Barangkali karena itu ungkapan tadi layak direnungkan kembali oleh generasi muda:
لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ: هَذَا أَبِي
وَلَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ: هَا أَنَا
“Bukanlah pemuda itu orang yang berkata, ‘Ini ayahku,’ tetapi pemuda adalah orang yang berkata, ‘Inilah aku.’”
Bukan berarti seorang anak tidak boleh menghormati ayahnya. Bukan pula berarti nasab tidak penting. Justru sebaliknya, menghormati orang tua dan menjaga nasab adalah bagian dari ajaran Islam. Tetapi kemuliaan seseorang tidak berhenti pada nama yang diwariskan kepadanya. Ia harus menghadirkan kualitas dirinya sendiri.
Karena itu, seorang pemuda Muslim tidak cukup berkata:
“Ini ayahku.”
Ia harus mampu berkata:
“Inilah kejujuranku.”
“Inilah amanahku.”
“Inilah ilmuku.”
“Inilah pengabdianku.”
“Inilah akhlakku.”
Dan jika ia ingin membawa nama Rasulullah ﷺ, maka yang paling indah bukan sekadar mengatakan, “Aku keturunan beliau,” tetapi memperlihatkan dalam kehidupan:
“Aku sedang berusaha meneladani beliau.”
Sebab seseorang mungkin tidak dapat memilih darah yang mengalir dalam tubuhnya, tetapi ia dapat memilih nilai yang mengalir dalam kehidupannya.
Nasab adalah cerita tentang masa lalu kita.
Akhlak adalah cerita tentang siapa kita hari ini.
Dan takwa adalah bekal menuju masa depan kita di hadapan Allah.
Maka, daripada sibuk bertanya, “Siapa ayahmu?”, mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Sudah menjadi manusia seperti apakah aku?”
Sebab pada akhirnya, bukan nama besar leluhur yang akan menjalani hidup kita. Kitalah yang akan mempertanggungjawabkan diri kita sendiri di hadapan Allah.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
