Memberi Makan dengan yang Terbaik dan Kisah MBG

Oleh M. Anwar Djaelani

Dewandakwahjatim.com,Surabaya – Berbuat baik adalah jalan menuju kebahagiaan. Tentang itu, banyak kisahnya. Oleh karena itu, jika akan berbuat baik, jangan menggunakan kalkulasi untung-rugi.

Selalu-lah menanam kebaikan, karena Rasulullah Saw telah meminta kita untuk istiqomah bersikap seperti itu. Misal, jika kita memiliki kelebihan bekal, maka hendaknya berbagi kepada yang tidak memilikinya. Contoh lain, andai kendaraan kita bisa memberi tumpangan kepada orang lain, maka lakukakan-lah.

Kepada siapa kebaikan kita berikan? Bisa kepada seluruh makhluk! Alkisah, Hatim-seorang penyair-, berkata kepada istrinya: “Jika selesai membuat makanan, carilah orang yang akan makan sebab aku tak akan sanggup memakannya seorang diri”.

Terhadap siapa kebaikan kita sampaikan? Bisa kepada segenap makhluk, termasuk kepada binatang. Tentang ini, jangan pernah lupa kisah seorang wanita pezina yang kemudian diampuni Allah karena memberi air kepada anjing yang sedang menderita karena kehausan (sumber: HR Muslim).

Bersisi Dakwah

Jika menanam kebaikan, maka kita tak hanya tenteram secara pribadi. Lebih dari itu, lewat perbuatan tersebut kita bisa berdakwah tanpa harus berceramah. Cermatilah kisah berikut ini.

Ibnu Mubarak, ulama ahli hadits, memiliki tetangga seorang Yahudi. Kala itu, Ibnu Mubarak selalu mendahulukan memberi makan sang tetangga sebelum anak-anaknya sendiri. Juga, selalu memberi pakaian kepada si tetangga sebelum memberi pakaian anak-anaknya. Di kemudian hari, rumah si Yahudi ditawar orang.
“Jual rumahmu kepada kami,” kata seseorang.
“Saya akan jual rumah ini dengan harga dua ribu dinar. Seribu dinar untuk harga rumah saya dan seribu dinar lagi karena saya bertetangga dengan Ibnu Mubarak,” jawab si Yahudi.

Mendengar jawaban si Yahudi itu, dalam doanya Ibnu Mubarak memohon kepada Allah: “Yaa Allah tunjukilah dia ke dalam Islam.” Tak lama kemudian, si Yahudi itu dengan izin Allah, masuk Islam. Alhamdulillah!

Sejenak Menunduk

Memberi kemanfaatan apapun bentuknya kepada orang lain, sangat baik. Memberi makan agar yang lapar menjadi kenyang, itu mulia. Memberi makan supaya yang lemah menjadi bergizi, itu terpuji.

Di negeri ini, ada program MBG. Apa itu? Berikut ini penjelasan Khairul Hidayati, Direktur Promosi dan Edukasi Gizi pada Badan Gizi Nasional (BGN). Dia katakan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan status gizi masyarakat Indonesia dan mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Juga, lanjut dia, MBG untuk mendukung peningkatan kesehatan, kecerdasan, dan daya saing generasi mendatang (baca Manfaat Program MBG Menekan Angka Stunting RI yang Masih Tinggi, https://www.bgn.go.id/ 22 Februari 2025).

Tentu, kisah terkait MBG, banyak. Termasuk, tentang mereka yang merasa terbantu. Meski begitu, banyak juga berita tak sedap tentangnya. Masih ada, makanan yang diberikan malah membuat keracunan yang memakannya.

Sekadar menyebut, misalnya pada 2 September 2026, ada kabar: Petaka MBG Berujung Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Keracunan (https://apps.detik.com). Pada 3 September 2026, ada berita: Giliran Nasi Goreng MBG di Nganjuk Bikin 49 Siswa-Guru Keracunan (https://www.detik.com/). Esoknya, 4 September 2026, bisa kita baca ini: Keracunan MBG Tembus 43 Ribu Anak, Pemerintah Didesak Tetapkan Kejadian Luar Biasa (https://www.hukumonline.com/).

Terus, Berlomba-lah!

Atas berbagai berita seperti yang di atas itu, kita wajib ber-muhasabah. Kaum beriman, mesti beramal shalih (seperti memberi makan kepada orang lain) dengan derajat yang sebaik-baiknya. Antara lain, karena pihak yang kali pertama merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang beramal shalih itu. Mereka akan merasakan buah amal baiknya seketika itu juga yaitu berupa terawatnya akhlak yang baik. Juga, datangnya ketenangan dalam jiwa. Hidup mereka akan tenteram, penuh kedamaian.

Di saat berbuat baik, jangan pernah berharap ucapan terima kasih dan pujian dari sesama. Cukuplah Allah sebagai sebaik-baik saksi. Lihatlah, di sebuah perang, banyak Sahabat yang gugur sebagai syuhada. Umar bin Khaththab Ra lalu bertanya kepada para Sahabat yang tersisa, “Siapa saja yang terbunuh?”
Disebutlah sejumlah nama, tapi “Masih banyak yang tak engkau kenal,” jawab para Sahabat. Mendengar jawaban itu Umar bin Khaththab Ra menangis dan lalu berkata, “Allah mengetahui mereka”.

Alhasil, jangan pernah ragu-ragu dalam berbuat baik. Jangan pernah, misalnya, terpikir: Buat apa membantu orang buta, bukankah dia tak akan pernah bisa melihat si pemberi dan barang yang diterimanya? Benar, si orang buta tak tahu. Tapi, bukankah Allah Maha Mengetahui?

Tak ada alasan bagi kita untuk tak menerima tantangan Allah ini: “Maka, berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan” (QS Al-Baqarah [2]: 148). Istqomah-lah berbuat baik. Misalnya, rajin-lah bersedekah. Dengan cara itu, pasti akan mendatangkan kebahagiaan dalam jiwa.

Sungguh, dalam hal memberi (termasuk dalam bentuk MBG), harus yang terbaik. Terbaik materinya dan terbaik cara penyampaiannya. Teruslah, bahkan berlomba-lomba-lah, berbuat baik! []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *