Ibu, Pahami Keresahan Anak Gen Z-mu

Disusun oleh: Diah Kartikarini – Biro Kemuslimatan dan Ketahanan Keluarga Dewan Da’wah Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com. Surabaya – Ibu-ibu Muslimah, anak-anak Gen Z hari ini tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dengan dunia ketika kita masih muda. Mereka menghadapi persoalan yang tidak selalu mudah terlihat dari rumah: tekanan untuk berprestasi, biaya hidup yang semakin menjadi perhatian, persaingan mendapatkan pekerjaan, ketidakpastian karier, tuntutan di tempat kerja, hingga kelelahan mental akibat kehidupan digital yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Kadang kita melihat anak pulang kerja lalu masuk kamar, bermain ponsel, dan mengira mereka sedang santai. Padahal, bisa jadi mereka sedang berusaha memulihkan diri dari tekanan yang tidak mereka ceritakan.
Karena itu, memahami Gen Z bukan berarti selalu membenarkan semua perilakunya. Memahami berarti berusaha mengetahui apa yang sedang mereka hadapi sebelum memberikan penilaian.

Gen Z dan Seni Mengelola Stres

Salah satu keresahan terbesar anak muda adalah bagaimana mengelola stres.

Mereka menghadapi tuntutan untuk kuliah, bekerja, membangun karier, memiliki penghasilan, menjaga hubungan sosial, sekaligus tetap terlihat baik-baik saja di media sosial.
Masalahnya, stres tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan. Kadang muncul sebagai mudah marah, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari keluarga, terlalu lama bermain gawai, sulit tidur, atau merasa tidak punya energi untuk melakukan sesuatu.

Ibu perlu membedakan antara anak yang sedang malas dengan anak yang sedang kelelahan.Bukan berarti setiap kelelahan harus dianggap sebagai masalah serius. Namun, kebiasaan mengatakan, “Kamu kurang bersyukur,” atau “Anak muda sekarang sedikit-sedikit stres,” juga tidak membantu mereka belajar mengelola tekanan.

Yang mereka perlukan adalah kemampuan mengenali stres, menentukan prioritas, beristirahat dengan sehat, mengatur waktu, dan mengetahui kapan harus meminta bantuan. Di sinilah keluarga dapat menjadi tempat pertama untuk belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah.

Ketertarikan pada Stoikisme

Menariknya, sebagian anak muda menemukan gagasan Stoikisme sebagai salah satu cara memahami kehidupan.

Secara sederhana, Stoikisme mengajarkan manusia untuk membedakan hal-hal yang berada dalam kendalinya dengan hal-hal yang berada di luar kendalinya. Kita tidak selalu dapat mengendalikan pendapat orang lain, kondisi ekonomi, keputusan perusahaan, masa lalu, atau berbagai kejadian yang terjadi di luar diri kita.
Namun, kita dapat berusaha mengendalikan respons, tindakan, sikap, dan keputusan kita sendiri.

Gagasan ini terasa relevan bagi Gen Z karena mereka hidup dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Mereka mungkin sudah belajar keras tetapi belum mendapatkan pekerjaan. Sudah bekerja tetapi kontraknya tidak diperpanjang. Sudah berusaha memberikan yang terbaik tetapi tetap mendapat kritik. Sudah membuat rencana karier tetapi keadaan ekonomi berubah.

Dalam kondisi seperti itu, prinsip “fokus pada apa yang dapat dikendalikan” dapat membantu.
Namun, ibu juga perlu mengajarkan bahwa Stoikisme bukan berarti harus memendam semua perasaan.

Menjadi kuat bukan berarti tidak boleh sedih. Bersikap tenang bukan berarti harus diam ketika diperlakukan tidak adil. Menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada keadaan.

Bagi seorang Muslim, kemampuan mengelola respons juga dapat ditempatkan dalam kerangka sabar, ikhtiar, tawakal, dan evaluasi diri. Ada hal yang harus diterima, tetapi ada pula hal yang harus diperjuangkan dan diperbaiki.

Tantangan Ekonomi yang Mereka Hadapi

Ibu-ibu juga perlu memahami mengapa sebagian anak Gen Z begitu cemas memikirkan pekerjaan dan masa depan. Mereka memasuki dunia dewasa dalam lingkungan ekonomi yang berubah cepat. Teknologi mengubah jenis pekerjaan, keterampilan yang dibutuhkan perusahaan juga berubah, dan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan dapat terasa sangat ketat.

Di sisi lain, anak muda sering mendengar nasihat sederhana seperti, “Yang penting kerja keras.” Kerja keras memang penting. Tetapi anak-anak juga perlu memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras individual. Ada faktor pendidikan, kesempatan, kondisi ekonomi, jaringan profesional, kebutuhan industri, lokasi, pengalaman, dan perubahan teknologi.

Karena itu, jangan buru-buru menganggap anak yang belum mendapatkan pekerjaan sebagai anak yang tidak mau berusaha.
Mungkin ia sedang berhadapan dengan pasar kerja yang memang menuntut keterampilan berbeda.

Masalah di Tempat Kerja

Setelah mendapatkan pekerjaan, persoalan belum tentu selesai.
Banyak anak muda harus belajar menghadapi atasan, rekan kerja, target, komunikasi profesional, budaya organisasi, jam kerja, dan batas antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan.
Mereka mungkin menghadapi atasan yang komunikasinya keras, rekan kerja yang sulit diajak bekerja sama, beban kerja yang berubah-ubah, atau tekanan untuk selalu tersedia melalui pesan digital.

Di sinilah orang tua perlu berhati-hati.
Jangan langsung berkata, “Namanya juga kerja, harus tahan.” Kalimat tersebut memang memiliki maksud mengajarkan ketangguhan, tetapi dapat membuat anak merasa bahwa semua perlakuan di tempat kerja harus diterima.

Ajarkan mereka membedakan antara tantangan profesional yang wajar dan perlakuan yang tidak sehat atau melanggar hak pekerja. Anak perlu belajar berkomunikasi secara profesional, mendokumentasikan persoalan pekerjaan, memahami hak dan kewajibannya, membangun keterampilan, serta mencari bantuan yang tepat ketika menghadapi masalah serius.

Jangan Bandingkan dengan Zaman Ibu

Salah satu kalimat yang mungkin paling sering membuat anak merasa tidak dipahami adalah, “Dulu Ibu juga bekerja, tidak pernah mengeluh seperti kamu.”

Setiap generasi memiliki konteks yang berbeda. Membandingkan kesulitan masa lalu dengan kesulitan hari ini tidak selalu membantu. Yang lebih berguna adalah bertanya, “Bagian mana dari pekerjaanmu yang paling membuatmu tertekan?”

Pertanyaan sederhana dapat membuka percakapan yang panjang.
Mungkin anak sedang khawatir tentang kontrak kerja. Mungkin ia takut kehilangan pekerjaan. Mungkin ia bingung memilih antara pekerjaan yang menghasilkan lebih banyak uang dan pekerjaan yang memberi waktu untuk keluarga. Mungkin ia merasa tertinggal dibanding teman-temannya.
Jika ibu menjadi tempat yang aman untuk bercerita, anak tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Membentuk Anak yang Tangguh, Bukan Anak yang Kebal terhadap Perasaan

Tujuan pendidikan bukan membuat anak menjadi manusia yang tidak pernah stres. Manusia tetap akan mengalami kecewa, gagal, takut, marah, dan sedih.Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk menghadapi semua itu dengan sehat.

Ajarkan anak untuk bekerja keras, tetapi juga beristirahat. Ajarkan keberanian, tetapi juga kerendahan hati untuk meminta bantuan. Ajarkan kesabaran, tetapi juga kemampuan menetapkan batas. Ajarkan menerima keadaan, tetapi jangan hilangkan keberanian untuk memperbaiki keadaan.

Dan sebagai ibu Muslimah, tanamkan bahwa nilai diri seorang anak tidak ditentukan oleh jabatan, gaji, status pekerjaan, rumah, kendaraan, atau pencapaian yang dapat dipamerkan kepada orang lain.

Karier adalah bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan kehidupan.
Anak mungkin belum sukses menurut ukuran masyarakat, tetapi bukan berarti ia gagal sebagai manusia.
Pada akhirnya, anak Gen Z tidak selalu membutuhkan orang tua yang mempunyai semua jawaban. Mereka membutuhkan orang tua yang bersedia memahami pertanyaan-pertanyaan yang sedang mereka hadapi.

Maka ketika anak pulang dengan wajah lelah, jangan hanya bertanya, “Gajimu berapa?” atau “Kapan naik jabatan?”
Sesekali tanyakan, “Kamu baik-baik saja?”

Dan ketika jawabannya, “Aku capek, Bu,” jangan buru-buru menganggapnya lemah. Mungkin saat itu ia sedang belajar menjadi dewasa di dunia yang memang tidak mudah.

Tugas ibu bukan menghilangkan semua kesulitan dari kehidupan anak. Tugas ibu adalah membantu anak memiliki bekal untuk menghadapinya: iman yang menjadi pegangan, akal yang mampu berpikir jernih, keterampilan untuk bekerja, kemampuan mengelola stres, keberanian menetapkan batas, dan hati yang tetap memiliki harapan.
Karena anak yang tangguh bukanlah anak yang tidak pernah jatuh.
Anak yang tangguh adalah anak yang tahu bagaimana bangkit, belajar, meminta pertolongan ketika diperlukan, dan tetap berjalan tanpa kehilangan arah.

Disusun oleh: Diah Kartikarini – Biro Kemuslimatan dan Ketahanan Keluarga Dewan Da’wah Jawa Timur

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *