Kami datang dengan niat untuk berbagi, tetapi justru pulang membawa begitu banyak pelajaran.

Oleh: lndah Hanifah Hanif, Biro Kemuslimatan dan Ketahanan Keluarga

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Bakti sosial kali ini membawa kami menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 12 jam, dari persiapan hingga kembali ke rumah. Jalan yang berliku, tanjakan dan turunan yang curam, melewati hutan jati, ladang tembakau, dan persawahan, hingga sampai di tempat yang tanahnya tandus dan air begitu sulit didapatkan.

Namun ternyata, tantangan bukan hanya ada pada perjalanan.

Ketika tiba di sana, kami pun dihadapkan pada keterbatasan komunikasi karena adanya perbedaan bahasa. Ada kata-kata yang tidak dapat kami sampaikan dengan leluasa, ada percakapan yang tidak sepenuhnya dapat kami pahami. Sejenak kami menyadari bahwa untuk saling peduli, ternyata tidak selalu membutuhkan banyak kata.

Senyum bisa menjadi bahasa.
Uluran tangan bisa menjadi bahasa.
Kepedulian bisa menjadi bahasa.
Dan ketulusan, insya Allah, dapat dirasakan meski tanpa banyak bicara.

Di tengah tanah yang tandus dan sulitnya mendapatkan air, kami kembali diingatkan betapa banyak nikmat yang selama ini hadir begitu dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali terlupakan untuk disyukuri.

Air yang mengalir ketika kita membuka keran.
Makanan yang tersedia di meja.
Tanah yang subur.
Jalan yang mudah dilalui.
Rumah yang nyaman untuk tempat kembali.

Allah ﷻ berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat berat”.
(QS. Ibrahim (14): 7)

Perjalanan yang panjang dan kondisi yang tidak selalu mudah juga mengajarkan kami tentang SABAR.

Setiap tanjakan mengajarkan keteguhan.
Setiap turunan mengajarkan kehati-hatian.
Kelelahan mengajarkan kesabaran.
Keterbatasan komunikasi mengajarkan kami untuk lebih peka dalam memahami.
Dan perbedaan keadaan mengajarkan kami untuk tidak mudah mengeluh atas apa yang telah Allah karuniakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua perkaranya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim, no. 2999, dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu)

Bakti sosial ini akhirnya bukan hanya tentang “memberikan bantuan”, tetapi juga tentang “menerima pelajaran”.

Kami datang mungkin membawa sedikit yang kami punya, tetapi kami pulang membawa kesadaran yang jauh lebih besar:

  • Bahwa tidak semua orang mendapatkan kemudahan yang sama.
  • Bahwa air yang bagi kita sederhana, bagi sebagian saudara kita adalah sesuatu yang sangat berharga.
  • Bahwa komunikasi tidak selalu harus melalui kata-kata.
  • Dan bahwa rasa syukur akan terasa lebih dalam ketika kita melihat kehidupan dari sisi mereka yang memiliki jauh lebih sedikit.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat.”
(HR. Muslim, no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

12 jam perjalanan itu akhirnya bukan sekadar perjalanan pulang-pergi.

Ia menjadi perjalanan hati, dari lelah menuju sabar, dari melihat keterbatasan menuju syukur, dan dari keinginan untuk memberi menuju kesadaran bahwa sesungguhnya “kami pun banyak menerima”.

Mungkin kami datang untuk membantu mereka.
Tetapi tanpa banyak kata, mereka telah mengajarkan kami sesuatu yang jauh lebih berharga:
“untuk lebih bersyukur ketika diberi kemudahan, lebih sabar ketika menghadapi kesulitan, lebih peka ketika tidak mampu berkomunikasi, dan lebih ikhlas ketika diberi kesempatan untuk berbagi”.

Semoga setiap langkah, setiap lelah, setiap bantuan, bahkan setiap senyum yang terukir hari itu, Allah catat sebagai amal kebaikan.

Akhirnya hanya bisa berucap dalam hati:

  • Alhamdulillah untuk perjalanan yang melelahkan.
  • Alhamdulillah untuk perjumpaan yang menguatkan.
  • Alhamdulillah untuk pelajaran yang mungkin tidak akan kami dapatkan jika kami tidak pernah berangkat.

20 September 2026,
Indah Hanifah Hanif
Biro Kemuslimatan dan Ketahanan Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *