Oleh: Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.l., Ketua Dewan Da’wah Jawa Timur dan Direktur PPIC eLKISI, Mojokerto
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Al-Qur’an menggambarkan dahsyatnya azab akhirat dengan sebuah ayat yang sangat menggugah kesadaran:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. An-Nisa’: 56)
Mengapa Allah menyebut kulit? Para mufassir menjelaskan bahwa kulit merupakan bagian tubuh yang berkaitan erat dengan rasa dan sensasi. Maka pergantian kulit menggambarkan bahwa azab terus dirasakan. Imam Ath-Thabari dan Al-Qurthubi menjelaskan makna ayat ini dalam konteks kesempurnaan azab yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang mendapatkan hukuman tersebut.
Namun ada hal yang lebih menggetarkan. Al-Qur’an juga menyebut bahwa kulit akan menjadi saksi atas perbuatan manusia.
Allah berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Fussilat: 20)
Mereka kemudian berkata kepada kulitnya:
لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا
“Kenapa kamu menjadi saksi terhadap kami?”
Kulit itu menjawab:
أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ
“Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah menjadikan kami berbicara.”
(QS. Fussilat: 21)
Inilah perkara gaib yang harus kita yakini berdasarkan wahyu. Allah yang menciptakan manusia dan memberinya kemampuan berbicara, tentu Mahakuasa menjadikan anggota tubuh berbicara pada hari kiamat.
Ilmu pengetahuan modern memang menemukan bahwa kulit memiliki banyak reseptor yang berhubungan dengan rasa sakit, panas, tekanan dan berbagai sensasi. Tetapi kita tidak boleh memaksakan ayat Al-Qur’an agar selalu menjadi pembuktian ilmiah.
Hakikat kehidupan akhirat berada di luar jangkauan eksperimen manusia. Sains dapat membantu memahami tubuh di dunia, tetapi wahyu memberi tahu kita tentang kehidupan setelah kematian.
Pelajarannya sangat dalam. Di dunia, manusia bisa berbohong dengan lisannya. Bisa mengingkari perbuatannya. Bisa menghapus bukti. Bisa menyembunyikan kejahatan dari manusia.
Tetapi di akhirat, tubuhnya sendiri menjadi saksi.
Tangan akan bersaksi tentang apa yang pernah dilakukan. Kaki bersaksi ke mana ia melangkah. Mata bersaksi apa yang dilihat. Telinga bersaksi apa yang didengar. Bahkan kulit menjadi saksi atas apa yang pernah dikerjakan.
Maka jangan menunggu hari ketika anggota tubuh kita berbicara untuk kemudian kita menyesal.
Selagi masih hidup, mari jaga mata, telinga, tangan, kaki, kulit, lisan, dan seluruh anggota tubuh kita agar semuanya kelak menjadi saksi kebaikan—bukan saksi keburukan.
Sebab apa yang kita sembunyikan dari manusia, tidak akan pernah tersembunyi dari Allah. (Fathur Rohman)
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
