Resensi buku oleh M. Anwar Djaelani, penikmat aneka bacaan dan penulis 16 buku
Judul : A. Hassan; Ulama Ahli Debat
Penulis : Artawijaya dan Vacallure Studio
Penerbit : Salsabila (Pustaka Al-Kautsar Group)
Terbit : Juli 2026
Tebal : 210 halaman
Dewandakwahjatim com, Surabaya – Perlukah ulama cakap berdebat? Bacalah QS An-Nahl [16]: 125. Pada ayat ini ada petunjuk, bahwa seruan kepada Islam bisa memakai tiga metode. A.Hassan, lengkap mengerjakan ketiganya.
Berdakwah lewat hikmah, A.Hassan cakap. Menyiarkan Islam via nasihat yang baik, dia terampil. Bahkan, menyampaikan kebenaran Islam melalui debat, dia cekatan.
Jalan Pejuang
Komik dimulai dari Singapura, 1903. A.Hassan yang lahir di sana, sedari kecil punya semangat belajar yang tinggi. Memenuhi dua syarat dari gurunya agar sukses menuntut ilmu, dia penuhi secara ketat. Dia datang ke rumah sang guru sebelum masuk waktu subuh dan datang dengan berjalan kaki (h.12).
Tak cukup satu guru, A.Hassan belajar kepada sejumlah ulama. Bahkan, kepada ayahnya yang berprofesi sebagai wartawan dan penulis, dia belajar juga. Lainnya, A.Hassan belajar bahasa Melayu, Tamil, dan Inggris (h.16-17).
Menginjak remaja, buah pendidikan terutama yang didapatnya di keluarga, mulai kelihatan. A.Hassan tampak mandiri. Dia berjualan macam-macam dagangan. Termasuk berdagang kain, dengan menjajakannya ke kampung-kampung (h.20).
Masih remaja, A.Hassan sudah mulai mengajar. Siang dia berdagang di sebuah kampung, malamnya di tempat itu juga dia mengajar. Dia tekun dan disiplin. Itulah modal awal A.Hassan berkembang menjadi salah satu ulama pembaru abad 20 di Indonesia (h.22-24).
Selain berdagang dan mengajar, di usia 20-an A.Hasan sudah mulai berdakwah lewat tulisan. Dia menulis untuk media terkenal yaitu Utusan Melayu yang terbit di Singapura (h.33).
Di media, A.Hassan menulis secara kritis. Misalnya, dia kritik seorang Hakim. Tulisan itu, membuat gempar Singapura karena sebelumnya tak ada yang berani melakukannya. Adapun hal yang dikritik adalah campur-baurnya laki-laki dan perempuan dalam satu majelis persidangan (h.34).
Pendek kata, A.Hassan terus menulis secara kritis hal-hal yang perlu diluruskan. Atas hal itu, A.Hassan pernah dipanggil polisi dan dilarang menulis dan tampil di depan publik. Dia menolak dengan alasan, mestinya sebuah pikiran dibantah dengan argumentasi dan bukan dengan kekuasaan (h.35).
Alam Surabaya
Medan jihad A.Hassan pindah. Pada 1921, dari Singapura dia merantau ke Surabaya. Awalnya, untuk bekerja dan berdagang. Semula, dia menumpang di rumah pamannya (h.45). Ini bisa kita mengerti karena ibu A.Hassan berasal dari Surabaya dan ayahnya berasal dari India.
Di Surabaya tinggal HOS Tjokroaminoto.7 A.Hassan pun berkenalan dengan tokoh Islam sekaligus aktivis pergerakan itu. Di kemudian hari, Tjokroaminoto sebagai Ketua Sarekat Islam mengamanahi A.Hassan untuk memimpin organ bernama Komite Pembela Islam (h.49).
Difasilitasi sang paman, A.Hassan juga berkenalan dengan KH Wahab Chasbullah. Dari pertemuan itu, dia makin sadar bahwa banyak masalah keagamaan di tengah masyarakat yang perlu pencerahan Maka, sepulang dari perkenalan itu, A.Hassan kian terpacu untuk mengkaji secara mendalam isu-isu yang mencuat (h.55-58).
Gelanggang Bandung
Usaha dagang A.Hassan di Surabaya tak kunjung menuai sukses. Dia, lalu pindah ke Bandung untuk belajar tenun atau tekstil. Bandung, sebagaimana Surabaya, juga kota bisnis sekaligus banyak aktivis pergerakan di dalamnya (h.61).
A.Hassan cepat bisa bergaul dengan kalangan yang aktif di kajian keislaman. Dia kenal Haji Muhammad Zamzam, Haji Muhammad Yunus, Haji Anang Thayib, dan Haji Muhammad Thayib. Mereka, tokok-tokoh di sebuah Klub Kajian (h.66).
Mereka punya semangat pembaruan seperti yang dilakukan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Mereka membaca Al-Urwatul Wustqa, media yang dipimpin Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Juga, membaca Al-Manar yang dipimpin Rasyid Ridha (h.68).
Waktu bergerak dan sampailah pada 12 September 1923. Saat itu, mereka bertekad mendirikan Persatuan Islam, yang bertekad untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dasarnya, QS Ali ‘Imraan 103 (h.72-75).
Suatu hari, A.Hasan pamit, akan kembali ke Surabaya. Dia dipertahankan oleh jamaah. Ada rumah yang bisa dipakai, kata mereka. Setelah istikharah, A.Hassan berkenan dan menjadi guru utama di Persatuan Islam (h.80-82).
Jalan dakwah tak mudah. Tudingan seperti “tukang kapling surga” atau “apa-apa bid’ah” mudah terdengar yang ditujukan kepada Persatuan Islam (Persis). Tak hanya teror lisan, serangan fisik terhadap rumah-rumah orang Persis pun terjadi (h.84-85).
Atas hal itu A.Hassan tak diam. Dia datangi bupati -kala itu- yang tampak sepaham dengan aktivitas menyoal Persis.
A.Hassan terus aktif. ”Kami dari Persatuan Islam siap berdiskusi dengan siapa saja,” kata A.Hassan di depan polisi” (h.87).
Selain mengajar dan mencari nafkah dengan bertukang, A.Hassan mulai sibuk menulis lagi. Pada 1928, dia memulai penulisan Tafsir Al-Furqan (h.90).
Bandung Bergairah
Di Bandung, A.Hassan berkenalan dengan Sukarno yang tertarik dengan pikiran-pikirannya. Lalu, beberapa pelajar SMA sering datang untuk belajar kepada A.Hassan, di antaranya adalah Mohammad Natsir (h.92-93).
Suatu saat, Natsir dapat amanah. Ada masalah, seorang pendeta dalam ceramahnya menghina Islam. ”Tuan Natsir, silakan buat bantahannya. Tuan yang bisa bahasa Belanda,” kata A.Hassan. Untuk itu, sang guru membekali Natsir dengan beberapa kitab sebagai rujukan. ”Bayi kalau digendong terus, kapan bisa berjalan,” tegas A.Hassan menyemangati (h.98).
Serangan terhadap Islam terus ada. Merespons hal itu, Maret 1929 berdiri Komite Pembela Islam. Mari, ”Jadikan lisan dan pena sebagai senjata,” kata A.Hassan di sebuah pertemuan sesama aktivis. ”Kita siap berdebat dengan siapa saja yang melakukan penodaan agama kita,” tegas A.Hassan. Terkait, mereka lalu terbitkan majalah Pembela Islam. Di dalamnya, menulislah A.Hassan dan Natsir. Majalah ini cepat dikenal, bahkan sampai ke luar Jawa. A.Hassan dan Natsir juga mendirikan majalah Al-Lisaan (h.100-104).
Pada 1936, Persis mendirikan pesantren di Bandung. Lembaga itu dipimpin A.Hassan dan dibantu beberapa orang termasuk Natsir (h.110).
Di Bandung lahir sejumlah karya A.Hassan. Berikut ini, antara lain judul-judulnya: Tafsir Al-Furqan, terbit 1928. Pengajaran Shalat, 1930. Al-Hidayah; Tafsir Juz Amma, 1935. Kitab Riba, 1932. At-Tauhid, 1937.
Pada 1940, di usia 53, A.Hassan pindah ke Bangil. Di kota ini, dia mengajar, menulis, bertukang dan mengerjakan percetakan. Dia sibuk, termasuk menerima banyak tamu (h.120).
Jepang masuk dan tantangan dakwah bertambah. A.Hassan lebih sibuk menulis lagi. Termasuk, menyelesaikan Tafsir Al-Furqan 30 juz lengkap.
Melawan Ahmadiyah
Sesuai judul, komik ini menyajikan bab Sang Ahli Hujjah dalam Berdebat. Cukup panjang, dari halaman 135 sampai 178.
Lihat, tiga hari perdebatan A.Hassan dari Komite Pembela Islam Bandung dengan kalangan Ahmadiyah Qadian. Meskipun berbayar, debat pada September 1933 di Jakarta itu dihadiri ribuan orang.
Kala itu, A.Hassan mendapat kesempatan bicara pertama. “Di hari Rasulullah Saw wafat, bumi berteriak. (Kata bumi:) Yaa Allah, apakah badanku akan dikosongkan dan diinjak oleh kaki-kaki Nabi sampai kiamat?” Maka Allah berfirman: “Aku akan jadikan di atas badanmu (di muka bumi), manusia yang hatinya seperti Nabi-Nabi,” demikian A.Hassan seperti sedang mengutip sebuah hadits di sebuah kitab.
“Dari mana riwayat itu,” tanya pihak Ahmadiyah. “
“Mana saya tahu? Bila suka, silakan pakai. Jika tak suka, silakan tolak,” kata A.Hassan.
Merasa menang karena A.Hassan dianggap tak bisa menyebut sumber periwayatannya, Ahmadiyah mencemooh. “Kami menolak hadits itu karena tidak jelas sumber periwayatannya,” sanggah Ahmadiyah.
“Itu,” kata A.Hassan, “Ada di kitab Tuhfah Baghdad karya Mirza Ghulam Ahmad, halaman 11, terbitan Punjab Press Sialkot, tahun 1311 H. Ini kitabnya,” kata A.Hassan sambil menunjukkan kitab yang dimaksud.
”Silakan tanya pada Nabi Tuan, Mirza Ghulam Ahmad, siapa perawi hadits itu. Tanyakan juga kepada dia, bagaimana bumi bisa berteriak dan berbicara kepada manusia,” kata A.Hassan (h.148-151).
Pihak yang ditanya A.Hassan tak bisa menjawab. Meski Ahmadiyah kalah di debat itu, mereka tetap pada keyakinannya. Namun, dengan debat itu, A.Hassan mampu membuka mata umat Islam akan penyimpangan Ahmadiyah (h.155). Sejak itu A.Hassan masyhur sebagai pendebat ulung.
Kontra Ateis
Selain dengan Ahmadiyah, A.Hassan pernah berdebat dengan ateis. Itu terjadi pada 1955 di Gedung Al-Irsyad Surabaya. Dihadiri KH Mohammad Isa Anshari, bahkan Ketua Front Antikomunis itu yang membuka acaranya.
“Ada banyak perkara yang kita yakini adanya, tapi tidak dapat dibuktikan dengan pancaindra,” kata A.Hassan memulai perdebatan.
Dia lalu memberikan sejumlah ilustrasi. Kemudian, A.Hassan menantang: “Apakah Tuan berani menyentuh aliran listrik (yang tidak berbentuk) dengan tangan telanjang karena yakin bahwa aliran tidak ada?”
“Saya tidak berani,” kata si ateis.
“Oleh karena itu, bukan suatu undang-undang ilmu dan akal, sesuatu yang berbentuk maka penciptanya juga harus berbentuk atau berwujud,” simpul A.Hassan (h.161).
A.Hassan terus memberikan ilustrasi. Lalu, dia menguji logika lawan: “Tuan katakan bahwa manusia berasal dari monyet karena tuan lihat di sebuah Rumah Sakit, ada orang di tulang belakangnya tumbuh ekor, yang jika ekornya dibiarkan tidak dipotong maka dia akan jadi monyet. Kalau begitu logikanya, harusnya monyet berasal dari manusia dan bukan manusia dari monyet,” kata A.Hassan.
“Dengan ini saya menerima apa yang disampaikan Tuan Hassan dan meyakini adanya Tuhan. Dengan ini pula saya kembali kepada Islam,” kata si ateis sambil merangkul A.Hassan (h.164-165).
Oleh A.Hassan jalannya perdebatan itu dibukukan dengan judul: Adakah Tuhan? Tak berhenti di situ, untuk menguatkan, A.Hassan juga menulis buku At-Tauhid (h.166).
Pribadi Santun
Selain berdebat langsung, A.Hassan pernah berdebat denga Sukarno lewat tulisan. Temanya, tentang Islam dan Negara.
Pengalaman debat A.Hassan terbilang lengkap. Termasuk, dia pernah berdebat dengan tokoh NU yaitu KH Wahab Chasbullah pada 1935, soal taklid. Para anggota NU dan Persis yang menyaksikan perdebatan itu juga tampak saling tersenyum dan bersalaman (h.170-176).
Meski tajam pemikirannya, A.Hassan dikenal santun. Dia tidak menaruh dendam dan permusuhan dengan lawan-lawan debatnya.
Peduli Politik
Komik juga menyajikan bab Berpolitik Cara Islam. Terkait, A.Hassan menulis buku bertema politik, seperti: Pemerintahan Cara Islam, Islam dan Kebangsaan, Kedaulatan Rakyat, ABC Politik, dan Merebut Kekuasaan (h.180).
Hal lain, A.Hassan hadir di Kongres Umat Islam Indonesia di Yogyakarta pada 7-8 November 1945. Acara itu melahirkan Partai Masyumi, yang bercita-cita menegakkan syariat Islam di Indonesia dalam sistim pemerintahan.
“Kita wajib berikhtiar untuk tegaknya hukum Allah dalam suatu pemerintahan,” seru A.Hassan di sebuah mimbar (h.180-182).
Sampai Akhir
Pada 1956 A.Hassan berangkat berhaji. Qadarullah, selama di Tanah Suci, dia terbaring sakit. Sepulang itu, dia banyak istirahat. Pada 1957 salah satu kakinya diamputasi. Meski begitu, dia sempat menyelesaikan terjemah Kitab Bulghul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqolani (h.204). Buku itu selesai tepat 17 Agustus 1958, di Bangil.
Empat bulan setelahnya, 10 November 1958, A.Hassan wafat. Dia dimakamkan di Bangil. “Keistimewaan beliau ialah kekuatan hujjah dan teguhnya mempertahankan pendirian yang beliau yakini kebenarannya. Kuat hatinya, jujur dan pahit kritiknya,“ kenang Hamka (h.207).
Asyik dan Sehat
Ini komik bagus, gambar-gambarnya asyik. Bacaan elok tentang keteladanan seorang ulama yang lisan dan tulisannya hebat. Tentang seorang ulama yang punya keahlian berdebat.
Dengan harapan ada edisi cetak ulang, semoga ada perbaikan untuk beberapa hal kecil. Misalnya, di halaman 148, di kotak dialog ada tertulis “dari dari”. Mungkin, yang tepat adalah “dan”.
Di h.47 ada keterangan gambar: Tjokroaminoto dikenal sebagi mentor para aktivis pergerakan. Dengan harapan komik ini bisa nyaman dibaca semua kelompok usia termasuk anak-anak, ada baiknya kata mentor dilengkapi padanan katanya sehingga menjadi “mentor atau pembimbing”.
Apapun, komik ini tetap sehat dibaca kapan pun dan oleh siapa pun. Daftar Pustaka-nya yang meyakinkan, turut menjadi kekuatan komik ini. Selamat membaca! []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
