Problematika yang melanda peradaban umat Islam dewasa ini sering dipandang secara terfragmentasi—mulai dari krisis ekonomi, ketertinggalan teknologi, hingga dinamika politik yang tak kunjung stabil.
Oleh Dr. KH. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Da’wah Pusat
Dewandakwahjatim.com, Kuala Lumpur — Namun, di balik beragam lapisan krisis kasatmata tersebut, terdapat satu akar permasalahan yang paling mendasar dan menentukan: krisis pemikiran dan kelemahan dalam berilmu yang berpangkal pada fenomena hilangnya adab (the loss of adab).
Kesimpulan mendalam ini menjadi titik tolak silaturahmi intelektual Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, saat bertandang ke kediaman pemikir dan pakar pendidikan Islam terkemuka, Prof. Dr. Muhammad Nor Wan Daud, di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kunjungan studi dan muzakarah tersebut bertepatan dengan momentum terbitnya karya monumental terbaru Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud yang bertajuk Masalah Hilangnya Adab Dalam Diri dan Masyarakat . Karya ini dinilai sebagai bacaan krusial yang mengurai benang kusut krisis sentral umat saat ini ( the central krisis umat Islam saat ini ).
Mengurai Warisan Pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas
Dalam perbincangan hangat tersebut, Prof. Wan Mohd Nor menjelaskan bahwa buku barunya merupakan perluasan dan pemahaman komprehensif dari pidato kunci ( keynote address ) yang ia sampaikan pada forum Seminar Antarabangsa di Kuala Lumpur beberapa bulan sebelumnya.
Gagasan buku besar ini berpijak pada fondasi pemikiran sang guru besar, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang selama puluhan tahun memperjuangkan kesadaran bahwa kelemahan umat dihilangkan dari kekeliruan ilmu dan keruntuhan adab. Melalui pendekatan naratif yang lebih lugas dan sistematis, Prof. Wan Mohd Nor berupaya menguraikan argumen-argumen mendasar Prof. Al-Attas agar lebih mudah dipahami dan diimplementasikan oleh generasi sekarang.
Buku ini tidak sekadar menyajikan teori-teori abstrak, melainkan menyuguhkan bukti-bukti empiris dan komparasi sejarah dari bentangan peradaban Islam di berbagai belahan dunia—mulai dari kawasan Afrika, Timur Tengah, hingga dinamika kepulauan Nusantara di Indonesia dan Asia Tenggara.
Meski membedah kenyataan pahit mengenai meluasnya kehilangan adab, karya ini justru dirancang untuk menggambarkan optimisme. Prof Wan menegaskan bahwa sisa-sisa kekuatan adab dan keteladanan peradaban masih ada, dan potensi inilah yang harus digali, dikembangkan, serta diamalkan secara konsisten, baik dalam dimensi individu maupun tatanan sosial masyarakat yang lebih luas.
Adab Bukan Sekadar Teori: Kesaksian Tiga Dekade Mendampingi Guru
Salah satu aspek paling berharga yang termaktub di bagian pengantar ( kata pengantar ) buku ini adalah refleksi pribadi Prof. Wan Mohd Nor selama lebih dari tiga dekade mendampingi, membantu, dan mendampingi Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas secara langsung.
Buku ini memuat kesaksian otentik tentang bagaimana konsep adab mewujud dalam laku kesekharian seorang ulama-cendekiawan. Bagi Prof. Al-Attas, adab bukanlah retorika di mimbar seminar atau teks mati di atas kertas. Adab dipraktikkan secara disiplin dan presisi: mulai dari bagaimana mengelola tata kelola administrasi dan kontrak kerja, memuliakan tamu, menjaga integritas kepemimpinan, hingga menetapkan kebijakan institusional.
Prof Wan merefleksikan bahwa pergaulan intelektual dan persahabatan panjang tersebut memberi ruang untuk menyerap nilai-nilai kebaikan dan keteladanan secara nyata. Baginya, esensi menuntut ilmu dan mendidik bukan semata-mata untuk dibagikan ( sharing ) kepada khalayak, melainkan sebagai proses transformasi batin untuk memperbaiki akhlak dan adab diri sendiri. Setiap ilmu dan perjuangan yang diemban pada akhirnya bermuara pada pertanggungjawaban pribadi di hadapan Allah SWT demi kebaikan abadi di akhirat kelak.
Titik Strategis: Reformasi Pendidikan Tinggi dan Martabat Guru
Ketika membahas ranah solusi, sorotan menyoroti pada jenjang pendidikan tinggi. Merujuk pada pandangan dan langkah rintisan Prof. Al-Attas, Prof. Wan Mohd Nor menegaskan kembali bahwa jenjang paling strategis sekaligus paling rentan memicu kerusakan sistemik akibat hilangnya adab yang berada di perguruan tinggi.
Meski seluruh jenjang pendidikan memegang peranan penting, pendidikan tinggi merupakan lantai fondasi kepemimpinan sebuah bangsa. Dari ruang-ruang kuliah inilah lahir para pembuat kebijakan negara, perancang lembaga kemasyarakatan, bahkan hingga para guru sekolah dasar dan penulis buku teks referensi.
Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin melakukan reformasi tamadun (peradaban) yang unggul dan berkelanjutan, fokus perubahan paling strategis adalah merombak kurikulum, memperkuat pelatihan, dan menata ulang sistem pendidikan tinggi secara komprehensif.
Kunci utama keberhasilan agenda besar ini terletak pada reposisi dan pemuliaan peran guru atau pendidik. Prof. Wan menekankan bahwa sebelum mendidik generasi penerus, para pendidik itu sendiri harus terlebih dahulu mendapatkan proses ta’dib (pendidikan adab) yang matang. Pendidik merupakan pelopor peradaban yang kedudukannya tidak boleh dipandang sebelah mata.
Kehangatan Silaturahmi: Menemukan Nutrisi Ruhani dan Jasmani
Pertemuan ilmiah yang sarat substansi tersebut berlangsung dalam suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan. Dalam agenda muzakarah beberapa hari di Kuala Lumpur bersama rombongan—di antaranya Bapak Indra dan Mas Ana—Dr. Adian Husaini mengungkapkan kegembiraannya dapat menimba ilmu sekaligus menikmati ekosistem tuan rumah.
Rombongan diajak mencerminkan ragam kuliner khas lokal, mulai dari kelezatan nasi kerabu, sedapnya sajian tom yam, hingga sajian teh tarik racikan khas khas yang tak ditemui di tempat lain. Bagi Dr. Adian, bermajelis bersama Prof. Wan Mohd Nor memberikan kepuasan paripurna: menghidupkan dahaga keilmuan dan nutrisi batin, sekaligus mempererat ukhuwah jasmani.
Di usianya yang kini menginjak 71 tahun, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud tetap menunjukkan kualitas pikiran, produktivitas menulis, dan vitalitas dakwah yang luar biasa. Kunjungan ini pun ditutup dengan doa agar beliau senantiasa dikaruniai kesehatan, keberkahan usia, dan kelapangan energi untuk terus membimbing umat Islam menuju kebangkitan peradaban yang beradab dan berpotensi. [AF]
Disarikan dari video Dr Adian Husaini: https://youtu.be/zjQ80OruXYU
