Oleh: Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.l., Ketua Dewan Da’wah Jawa Timur dan Direktur PPIC eLKISI, Mojokerto
Dewandakwahjatim.com, Mojokerto —
{ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا }
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
(QS.Al Ahzab (33):21)
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi shalawat dan pujian. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum refleksi untuk meneladani kepemimpinan Rasulullah di tengah realitas krisis kepemimpinan yang kian terasa.
Hari ini, banyak pemimpin kehilangan arah, menjauh dari nilai kejujuran, amanah, dan keadilan.
Kekuasaan sering dijadikan alat kepentingan pribadi, bukan sarana menyejahterakan umat.
Rasulullah SAW adalah teladan pemimpin paripurna.
Kepemimpinannya dibangun di atas fondasi akhlak mulia: siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas).
Dalam setiap keputusan, beliau mengedepankan musyawarah, keadilan, dan kasih sayang. Bahkan terhadap musuh sekalipun, beliau menunjukkan akhlak yang luhur. Inilah yang membuat kepemimpinan beliau tidak hanya ditaati, tetapi juga dicintai.
Krisis kepemimpinan saat ini muncul karena terputusnya hubungan antara kekuasaan dan nilai-nilai moral. Banyak pemimpin cerdas secara intelektual, namun miskin integritas. Mereka mampu berbicara tentang perubahan, tetapi gagal memberi keteladanan.
Akibatnya, masyarakat kehilangan kepercayaan, dan ketidakadilan semakin meluas.
Melalui Maulid Nabi, umat Islam diajak untuk kembali menjadikan Rasulullah sebagai standar kepemimpinan.
Kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan tanggung jawab. Bukan sekadar memerintah, tetapi melayani. Bukan mencari keuntungan, tetapi menghadirkan kemaslahatan.
Setiap individu, dalam lingkup apapun, adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, peringatan Maulid harus melahirkan kesadaran kolektif untuk memperbaiki diri dan sistem kepemimpinan.
Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kuat secara strategi, tetapi juga kokoh dalam akhlak. Pemimpin yang takut kepada Allah, mencintai keadilan, dan berpihak kepada kebenaran.
Jika nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah dihidupkan kembali, maka krisis yang kita hadapi bukanlah akhir, melainkan awal kebangkitan.
Maulid Nabi SAW seharusnya menjadi titik balik, dari krisis menuju perbaikan, dari kegelapan menuju cahaya kepemimpinan yang diridhai Allah SWT. (Fathur Rohman)
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
