Multiplier Effect Tradisi Haul Waliyullah sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Oleh: Firman Syah Ali*

Dewandakwahjatim.com, Surabaya- Haul Agung Toronan Pamekasan semakin dekat. Beliau adalah dzurriyah Walisongo sekaligus leluhur mulia para pendiri pesantren tamaddun nusantara, seperti Sukorejo Situbondo, Nurul Jadid Paiton, Banyuanyar dan Bata-bata Pamekasan. Resonansinya sangat kuat, kabarnya seluruh dzurriyah dan santri dzurriyah Agung Toronan akan tumpek blek di Bumi Pamekasan pada hari Kamis, tanggal 13 Agustus 2026.

Mari kita mengkaji, apa itu Haul. Secara etimologis, definisi haul adalah “genap satu tahun”. Namun secara terminologis, arus utama ulama nusantara mendefinisikannya sebagai peringatan tahunan wafatnya seseorang, terutama ulama, pendiri pesantren, atau tokoh masyarakat, yang diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, sajaratul ansab dan manaqib almarhum almaghfurlah.

Makanya setiap peringatan haul pasti ada angkanya, ada haul ke-100, ke-500, bahkan ke-1000. Dalam konteks Haul Agung Toronan yang akan diselenggarakan pada tanggal 13 Agustus 2026 mendatang, merupakan Haul Akbar II. Maksudnya Haul yang dilaksanakan secara besar-besaran untuk keduakalinya.

Tradisi mulia ini berkembang di nusantara jauh sebelum masuknya agama Hindhu, Buddha, Islam, Kristiani dan Kong Hu Cu. Dalam budaya asli kapitayan nusantara ada tradisi ritual kematian berupa nelung dina (3 hari), mitung dina (7 hari), matang puluh dina (40 hari), nyatus dina (100 hari), mendhak (1 tahun), nyewu (1000 hari) dan sraddha (12 tahun).

Ritual Sraddha paling monumental yang tercatat dalam sejarah Indonesia pra Islam adalah upacara yang diperintahkan oleh Prabu Hayam Wuruk untuk mengenang mendiang neneknya, Rajapatni pada tahun 1362. Acara tersebut berlangsung meriah selama berhari-hari, melibatkan para kepala negara tetangga, seniman, pemuka agama, pembaca kakawin suci, hingga pementas ritual untuk menyucikan arwah sang leluhur agar mencapai moksa atau menyatu kembali dengan asal-usulnya.

Walisongo sebagai aktor islamisasi nusantara datang dengan strategi inkulturisasi dan akulturisasi, sehingga tradisi upacara kematian asli nusantara tersebut tidak dibubarkan, namun isinya diganti dengan pembacaan dzikir, kitab suci islam, biografi almarhum dan doa bersama ala islam. Disinilah letak kecerdasan walisongo, dan itulah rahasia terbesar kenapa islamisasi nusantara oleh Walisongo berlangsung dengan sangat cepat.

Kehadiran jamaah haul tokoh spiritual dari seluruh penjuru ke sebuah daerah, bermanfaat nyata bagi Pemerintah setempat setidaknya dalam tiga hal.

Pertama, Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perhotelan, homestay, restoran, transportasi darat, penyedia katering, pelaku UMKM dan lain-lainnya.

Kedua, Peningkatan Branding Daerah. Haul sebagai mega-event marketing mampu mendongkrak citra daerah dalam pergaulan pariwisata nasional maupun internasional. Berkat wisata reliji Haul, maka destinasi wisata non spiritual sebuah daerah juga dikenal oleh daerah/negara lain.

Ketiga, Penguatan Jejaring Ekonomi. Kehadiran jamaah dari berbagai negara membuka ruang diplomasi kultural non-pemerintahan, memperluas jejaring perdagangan antar-daerah, bahkan antar-negara, serta membuka potensi kerja sama ekonomi kreatif jangka panjang antara pemerintah daerah dengan para tokoh, investor, atau komunitas luar daerah/negeri yang hadir.

Berdasarkan besarnya multiplier effect haul bagi daerah, sikap ideal Pemda seharusnya tidak lagi memposisikan diri sebagai penonton atau pihak luar, melainkan bertransformasi menjadi fasilitator kolaboratif dan orkestrator kebijakan publik.

Berbagai kebijakan strategis yang dapat dilakukan oleh Pemda terhadap even-even haul didaerahnya antara lain :

  1. Penyediaan infrastruktur pendukung;
  2. Pengamanan lalu lintas;
  3. Penyediaan fasilitas kesehatan darurat;
  4. Penataan ruang publik;
  5. Pelembagaan ke dalam kalender pariwisata daerah;
  6. Penerapan manajemen Risiko dan mitigasi publik yang proaktif;
  7. dan banyak lagi lainnya.

Mohon doanya semoga Haul Agung Toronan tanggal 13 Agustus 2026 (empat hari sebelum peringatan Kemerdekaan Indonesia) di Kabupaten Pamekasan terselenggara dengan aman, tertib, lancar, sukses dan barokah.

*) Penulis adalah Panitia Haul Akbar Agung Toronan II Tahun 2026 di Pamekasan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *