Oleh Suharsono, pengurus Dewan Da’wah Kota Pasuruan
PASURUAN — Suasana sejuk di ruang Masjid Al Kautsar di Jalan Ir. Juanda, Pasuruan pada Ahad pagi (12/7). Ratusan jamaah tampak khusyuk menyimak Kuliah Subuh yang menghadirkan Ust. Adi Nur Septyanto, seorang da’i asal Bangil. Pada kesempatan tersebut, beliau membedah lembaran Sirah Nabawiyah dengan mengangkat tema sentral: “Hijrah Kaum Muslimin: Pelajaran dan Hikmahnya.”
Pengorbanan Total Demi Aqidah
Dalam paparannya, Ust. Adi Nur Septyanto menekankan bahwa peristiwa hijrah ke Madinah bukanlah sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah proklamasi keteguhan iman. Kaum Muhajirin dengan sukarela meninggalkan harta benda, tanah kelahiran yang dicintai, serta pekerjaan dan perniagaan mapan yang telah mereka bangun di Makkah.
“Jangan sampai logika kita terbalik. Kaum muslimin berhijrah bukan untuk mencari harta atau kesenangan duniawi, melainkan murni demi menyelamatkan aqidah dan menjaga kelangsungan agama Allah,” tegas Ust. Adi di hadapan para jamaah.
Pengorbanan besar ini berbanding terbalik dengan kondisi di Makkah, di mana kaum muslimin terus-menerus disiksa, diintimidasi (dikuyo-kuyo), hingga diboikot secara ekonomi. Sementara itu, keputusan hijrah ini menjadi pukulan telak yang menyisakan kekecewaan mendalam bagi musuh-musuh Islam di Makkah.
Madinah: Ruang Lapang bagi Jiwa dan Ukhuwah
Berbeda drastis dengan atmosfer intimidasi di Makkah, Madinah hadir sebagai oase. Penduduk asli Madinah (kaum Anshar) menyambut kedatangan kaum muslimin dengan tangan terbuka dan kehangatan yang luar biasa.
Di Kota Madinah, kaum muslimin menemukan apa yang disebut dengan wasa’ah—kelapangan dan keleluasaan jiwa. Mereka akhirnya bisa beribadah dengan tenang tanpa ada lagi tekanan, ketakutan, maupun siksaan fisik.
Lebih dari itu, Islam di Madinah menghapuskan segala bentuk sekat sosial, kesukuan, maupun rasisme. Ust. Adi mengingatkan kembali esensi persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah) yang dicontohkan kala itu, di mana sesama muslim adalah saudara. Beliau mengibaratkan kaum muslimin bagaikan satu tubuh; jika ada salah satu anggota tubuh yang merintih kesakitan, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit dan demam.
Empat Manfaat Hijrah & Kesempurnaan Pahala
Secara terperinci, Ust. Adi Nur Septyanto merangkum ada 4 manfaat utama dari hijrah, yaitu:
Muhajirin fii Sabilillah: Menjadi golongan orang yang berpindah di jalan Allah.
Muroqobah: Membangun kedekatan dan kesadaran tinggi bahwa diri selalu diawasi oleh Allah SWT.
Wasa’ah: Mendapatkan kelapangan hidup, baik secara psikologis, ruang gerak, maupun rezeki.
Hijrah karena Allah: Memurnikan niat dan ketulusan hanya demi meraih rida-Nya.
Sebagai penutup materi, beliau memotivasi jamaah dengan mengisahkan keutamaan niat yang lurus. Beliau menceritakan tentang seorang sahabat yang baru saja keluar dari rumahnya dengan niat bulat untuk berhijrah. Namun di tengah jalan, ia terparah oleh musuh hingga menemui syahidnya. Meskipun secara fisik perjuangan hijrahnya belum sempurna sampai ke Madinah, Allah SWT dengan keadilan-Nya menyempurnakan pahala hijrah orang tersebut kelak di akhirat pada Yaumul Qiyamah.
Kuliah Subuh yang penuh hikmah ini diakhiri dengan untaian doa bersama, pembacaan doa Kafaratul Majlis, dan ditutup secara resmi dengan ucapan salam oleh sang ustadz. Ketenangan dan semangat baru terpancar dari wajah para jamaah yang siap mengimplementasikan spirit hijrah dalam kehidupan sehari-hari.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
