RIDHA ALLAH TERLETAK PADA PENDENGARAN, PENGLIHATAN DAN HATI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Sesuatu yang diridhai oleh Allah Swt apabila dikerjakan seseorang, akan mengantarkannya pada kebahagiaan yang kekal, baik dalam kehidupan dunia, maupun dalam kehidupan akhirat. Sebaliknya, beberapa hal yang dimurkai oleh Allah, apabila dikerjakan seseorang, maka akan mencampakkan orang tersebut dalam lembah kehinaan, baik pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim, 1781).

Allah Subhanahu wataala mencintai tiga hal, yaitu: (1) hendaklah kamu menyembah dan beribadah kepada Allah saja, dan (2) tidak menyekutukannya dengan suatu apapun. Kalimat ini mengarahkan umat manusia agar berpegang teguh kepada aqidah tauhid, yaitu mengesakan Allah s.w.t. dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun. Aqidah tauhid merupakan pondasi yang paling utama dari ajaran Islam. Dari keyakinan kepada Allah Swt itu berkembang menjadi enam rukun iman. Dalam surat al-Ikhlas, ditegaskan secara sempurna mengenai aqidah tauhid ini.

Yang diridhai Allah ke (3) hendaklah kamu sekalian berpegang teguh pada tali agama Allah secara keseluruhan dan tidak bercerai berai atau bersilang sengketa. Apabila umat Islam melaksanakan hal ini, maka menjadi umat yang unggul dan menjadi pemimpin bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Berpegang teguh pada tali agama Allah maksudnya adalah melaksanakan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh dan mengembangkannya secara terus menerus dalam kehidupan masyarakat.

Hadits diatas menunjuk pada Pendengaran, penglihatan, dan hati, apa di ridhai Allah dan apa yang di murkai Allah. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, sebagaimana dalam ayat,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan dalam kitab tafsirnya,

خَصَّ هٰذِهِ ٱلْأَعْضَاءَ ٱلثَّلَاثَةَ لِشَرَفِهَا وَفَضْلِهَا، وَلِأَنَّهَا مِفْتَاحٌ لِكُلِّ عِلْمٍ؛ فَلَا يَصِلُ لِلْعَبْدِ عِلْمٌ إِلَّا مِنْ أَحَدِ هٰذِهِ ٱلْأَبْوَابِ ٱلثَّلَاثَةِ.

“Allah menyebutkan secara khusus tiga anggota tubuh ini (pendengaran, penglihatan, dan hati) karena kemuliaan dan keutamaannya, serta karena ketiganya adalah kunci bagi setiap ilmu. Tidaklah ilmu bisa sampai kepada seorang hamba kecuali melalui salah satu dari tiga pintu ini.” (As-Sa’di, 2012, hlm. 467)

Meskipun disebut terakhir, hati bukan berarti kurang penting. Justru sebaliknya, hati adalah pusat iman. Jika hati rusak, semua akan rusak. Ada orang yang punya mata dan telinga, tapi tetap tidak mau menerima kebenaran. Itu karena hatinya tertutup. Allah menyebut mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat, dalam Surah Al-A’raf ayat 179.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)

Allah menyebut ayat-ayat-Nya (tanda kebesaran-Nya) melalui apa yang dibaca, didengar, dan dilihat, semua itu hanya bermanfaat pada orang yang punya hati, karena siapa saja yang tidak memiliki hati yang memahami penjelasan dan peringatan dari Allah, maka apa pun tanda kebesaran yang melintas di hadapannya tidak akan membawa guna, meski seluruhnya.

Selanjutnya, Allah Swt memurkai orang yang terlibat dalam (1) “Qila wa Qala”, yaitu orang-orang yang menyampaikan informasi dengan tidak jelas sumbernya. Mereka hanya mengatakan dari si anu, si anu, dan seterusnya tanpa menyebutkan sumber yang jelas. Inilah yang harus diwaspadai pada periode kita sekarang, di mana informasi membanjiri kehidupan umat manusia, sehingga tidak jelas sumber dan asal muasalnya. Dengan demikian, banyak informasi yang menjadi limbah dalam kehidupan bermasyarakat.

Yang dimurkai oleh Allah ke (2) adalah terlalu banyak menyampaikan pertanyaan yang tidak ada relevansinya dengan persoalan yang sedang terjadi atau yang sedang dipermasalahkan. Ketika Rasulullah Saw menyampaikan pidato tentang kewajiban haji, tiba-tiba ada salah seorang sahabatnya menyampaikan pertanyaan: Apakah haji ini diwajibkan setiap tahun? Nabi diam, pertanyaan itu berlangsung sampai tiga kali. Setelah itu Nabi jawab dengan keras: Jika aku katakan iya, pasti menjadi wajib, dan kamu tidak akan mampu. Bayangkan apabila haji diwajibkan setiap tahun, pasti memberatkan umat Islam dan tidak ada seorangpun yang mampu melaksanakannya. Diwajibkan seumur hidup sekali saja, masih banyak jutaan orang yang tidak mampu melaksanakannya.

Hal yang dimurkai ke (3) adalah menyia-nyiakan harta. Dalam kehidupan modern sekarang, kita jumpai banyak sekali orang yang menghamburkan hartanya untuk membelanjakan hal yang sia-sia. Terutama, untuk mengumbar hawa nafsu, baik nafsu dari dorongan perut dengan makan berlebihan, dorongan libido seksual yang menjerumuskan, maupun dorongan hawa nafsu yang menyesatkan yang disebut ghadab, atau kemarahan yang tidak terkendali.

Di dunia modern ini, banyak informasi yang beterbangan bukan hanya dipusat pertokoan modern tetapi juga sudah merambah dirumah, disawah bahkan dimanapun berada sudah dimasuki informasi beraneka ragam. Bila pendengaran, penglihatan tidak disaring hati yang jernih tunggu pengadilan Allah kelak di tepi Jahanam.

Wallahu ‘alam bishowab

Madiun, 4 Juli 2026

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *