Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hubungan persaudaraan itu bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang mau tetap bertahan walau ada perbedaan.
Hubungan persaudaraan sangat penting karena berdampak besar pada keeratan anggota, keharmonisan anggota keluarga. Lingkungan keluarga yang positif berkaitan dengan fungsi sosial dan interpersonal yang lebih baik, serta kesehatan mental yang lebih baik. Hubungan persaudaraan sangat penting karena berdampak besar pada lingkungan masyarakat . Hubungan ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial yang positif berkaitan dengan fungsi sosial dan interpersonal yang lebih positif, serta kesehatan mental yang lebih positif pula.
Surat Al-Hujurat
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَۃٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللہَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah saudara satu sama lain, maka damaikanlah perselisihan di antara saudara-saudaramu dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat-Nya.
QS. Al Hujurot 10.
Dalam hadits Rasulullah saw. bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Maka janganlah ia menindasnya dan janganlah pula ia menyerahkannya kepada orang yang dzalim. Dan barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya juga. HR. Bukhori 6951
Bukan tentang siapa yang lebih sukses, tapi siapa yang tetap merangkul tanpa rasa iri, tanpa rasa malu, tanpa ewoh pakewuh, jauhkan sekat penghalang diantaranya. Dikarenakan akan tidak sempurna iman seseorang bila satu dengan lainnya saling membelakangi.
Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” (HR. Bukhari, Muslim)
عَنْ أبْنِ عُمَرَ رَضِى الله عَنْه قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لا يَضْلِمُهُ ولايخذله وَلا يُسْلِمُهُ
“Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim)
Harusnya, saudara itu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan diam-diam, saudara itu bukan saling menjauh, tapi saling menjaga.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” HR. Bukhori Muslim.No.4684]
Bangunan kokoh dan kuat tentunya memiliki elemen-elemen yang lengkap. Sebut saja pondasi sebagai dasar berdirinya bangunan, lalu batu-bata ditata menjadi dinding untuk dipasangi nantinya dengan atap. Tak sampai di situ, pintu, jendela dan pilar-pilar turut menghiasi bahkan aksesori lain turut dipasang untuk menambah indah dan megahnya bangunan yang diimpikan.
Masing-masing dari elemen tadi semuanya padu padan tak ada yang merasa bahwa masing-masing dari mereka merasa lebih unggul. Atap tidak menunjukkan sifat takabur karena berada paling atas begitu pula lantai tidak merasa rendah diri karena berada di bawah. Semuanya bersatu dalam satu kesatuan yang penuh harmoni, saling mendukung serta saling menghargai akan keberadaannya masing-masing.
Begitulah seharusnya keadaan setiap mukmin. Semuanya saling menguatkan, tak ada rasa iri dengki atau dendam kesumat. Tak ada kesombongan atau saling merendahkan semuanya menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan untuk mendirikan Islam yang penuh dengan harmoni dan masing-masing memberikan keindahannya tanpa saling menyakiti atau menjatuhkan. Betapa indahnya Islam seakan surga tercipta dengan sendirinya di bumi ini.
Rasûlullâh Saw. Memberikan contoh dengan menunjukkan tangan yang merekatkan jari-jemarinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” HR.MUSLIM.
Dalam kitab Kautsarul-Ma’ani ad-Durari, Syekh Muhammad Khidir asy-Syinqithi hal.157 memberikan penjelasan menarik tentang perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah. Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah merapatkan jari-jarinya untuk memberikan gambaran visual tentang eratnya hubungan sesama mukmin. Gestur ini memberikan pemahaman yang lebih kuat dan lebih mudah dipahami oleh orang yang mendengarnya, terutama dalam hal menguatkan pesan bahwa persatuan dan tolong-menolong adalah kunci dalam menjaga kekuatan umat.
Kalau ada masalah, diselesaikan, bukan dipendam sampai terjadi jarak. Setiap manusia berkumpul pasti ada masalah yang membuat senang dan susah. Setiap masalah harus dipecahkan dan diselesaikan bukan disimpan dalam lemari es sehingga membeku dan akhirnya saling menjauh, membuat jarak bahkan permusuhan. Kalau ada ego, diturunkan, bukan dipertahankan sampai melukai.
Apabila setiap mukmin memahami nasihat yang terkandung dalam hadits di atas pertikaian sesama mukmin tak akan pernah terjadi. Semuanya saling memahami akan posisi serta potensi masing-masing, sehingga tidak ada lagi persaingan atau rasa iri yang tak seharusnya. Semuanya akan bersaing dalam kebaikan fastabiqul khairat.
Di antara contoh masalah tersebut, adalah penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sebagai berikut:
عَنْ عَرْفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ (وفي رواية: فَاقْتُلُوهُ )
Dari ‘Arfajah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan terjadi musibah demi musibah. Maka barangsiapa ingin mencerai-beraikan umat ini, saat mereka bersatu, maka pukullah dia dengan pedang, siapapun dia”. (Dalam riwayat lain, “maka bunuhlah dia” HR. Muslim, kitab: Imaâah, no: 1852
Pada akhirnya…
Pada saat dunia mulai menjauh, yang tetap ada, harusnya adalah saudaramu. Jangan tunggu kehilangan, baru sadar betapa berharganya kebersamaan. Saudara bukan pilihan, tapi anugerah. Jangan biarkan hal sepele merusak hubungan yang menjadi tempat pulang.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editir: Sudono Syueb
